Bagaimana jika kita duduk bersebelahan, tanpa tendensi untuk saling mencintai? Kau membaca koran tanpa suara, hanya bibirmu bergerak-gerak serius mengeja kata per kata. Aku menggigit roti isi cokelat yang tadinya niat kubeli sebab kukira isi selai kacang, lalu menggerutu sendiri dalam hati.
Bagaimana jika kita duduk bersebelahan, tanpa tendensi untuk saling mencintai? Kau selesai dengan koranmu, lalu membuka ponsel yang kau proteksi dengan kata sandi. Mengecek email dan pesan—serta mungkin kesan—dari kerabat jauh maupun dekat. Aku selesai dengan rotiku, lalu kubongkkar kantung plastik belanjaanku hingga menemukan sebotol air mineral. Kuteguk sekali, lalu dua kali, lalu habis sebab hausku harus lekas disudahi.
Kata-kataku di atas cukup menarik, bukan?
Jadi,
Bagaimana jika kita duduk bersebelahan, tanpa tendensi untuk saling mencintai?
Kau selesai dengan ponselmu dan aku selesai dengan air mineralku. Tak sengaja kita saling menangkap pandang satu sama lain. Lalu kau mengangguk kecil, memberi isyarat permisi. Berdiri lantas pergi. Sementara aku masih duduk menunggu kendaraan umum mampir menjemput.
Sebab kita adalah dua orang asing dan tak ada tendensi untuk saling mencintai.
Rabu, 20 Juli 2016
Tendensi
Binasa
Adalah siapa-siapa yang tumpul
Sebab yang tajam
Mencari cara untuk bertahan lebih lama
Sedikit lebih lama
Ini bukan tentang hidup, Tuan
Ini tentang siapa-siapa
Yang lekas dilupakan
Senin, 18 Juli 2016
Kenang-Kenangan
Kita tak banyak bicara lagi setelah malam itu. Bagaimana bisa? Kuulang dengan rasa payah, bagaimana bisa? Sudah berjuta-juta hari, tak terhitung banyaknya kita menanam tanya sambil memeluk mereka dengan bungkam. Kita lilit lagi lukanya, kita lilit lagi seperti jenazah. Kita bekerja sama untuk tak lagi bertanya “bagaimana” dan “mengapa”. Kita bekerjasama untuk mengendapkan kenangan dalam sebuah kuburan massal. Rata tanah.
Kerjasama yang baik, sekaligus tak kita inginkan.
Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu menggaung kembali.
Bagaimana bisa, sementara kau adalah
Lirik
Gambar
Kalimat
Matahari
Jendela
Warna
Dan kesenangan-kesenangan lainnya.
Bagaimana bisa?
Kau tanya kembali.
Kujawab entah.
Lalu senyap kembali merayap.
Kita kembali pulang pada perantauan masing-masing. Sambil terus disibukkan oleh naif atas harapan yang diam-diam terselip: agar kita masih ada kesempatan untuk kembali pulang pada satu sama lain.
Rabu, 15 Juni 2016
Keberartian
Kejadiannya, saya lupa kapan. Tapi mimpi itu cukup mengubah perspektif saya sampai hari ini, tentang kematian dan apa yang penting dalam hidup.
Betapa kita semua dekat—atau setidaknya, semakin dekat—dengan kematian. Tak perlu menunggu tua untuk sampai pada kematian, pun tak perlu menunggu sakit parah. Bagaimanapun, jika mau dibilang takdir, ya namanya juga takdir, setidak peduli apapun kita akan sampai pada saatnya. Tapi, apa mau sampai begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berbeda?
Beberapa kali saya melihat kematian-kematian yang dipenuhi tangisan dan kenangan yang baik-baik. Saya bukan orang yang ahli ibadah, dan beruntungnya pernah mendengar seseorang yang pandai ibadah berkata, “Kalau ibadahmu pas-pasan, bikin pondasi yang kuat dari hubunganmu dengan manusia lain”. Terlepas dari benar tidaknya, saya lumayan setuju, walaupun pendapat ini masih bersifat duniawi.
Lalu timbul pertanyaan sederhana, tetapi cukup ngeri juga karena sebelumnya tak terlalu peduli dengan pertanyaan semacam ini: Kalau saya sampai pada saatnya, apa yang bisa dikenang dari saya? Apa saya layak dikenang sebagai seseorang yang baik?
Saya bukan orang yang pandai dan terlalu bermanfaat juga untuk orang lain. Saya tidak melakukan perkembangan apapun, improvisasi apapun untuk menguntungkan lingkungan saya. Saya bukan orang yang mudah basa-basi dan bergaul dengan orang lain. Saya bukan orang yang hangat. Kesemua itu, membuat saya tak terlalu percaya diri bahwa nantinya saya bisa menjadi orang yang layak dikenang.
Saya terus fokus pada pertanyaan itu. Apa yang bisa dikenang dari saya?
So, this is what happened to me in these past few weeks: doing the best of myself to make everyone’s happy when I was around. Setiap orang pasti memiliki potensi untuk membahagiakan orang lain dengan caranya masing-masing. Saya tidak berharap yang ketinggian, dengan cara sesederhana membuat orang-orang di sekitar saya bahagialah saya ingin dikenang sebagai seseorang yang baik dan pernah memampirkan bahagia selama ada di sekeliling mereka. Sambil selalu berpikir, bahwa ini yang terakhir. Saya jadi ingat ketika saya masih ada di alunan masa-masa Sekolah Dasar, seorang guru pernah berkata dengan begitu fasihnya, melafalkan dengan hati, bahwa kita harus melakukan segala sesuatu dengan baik seolah itu adalah kesempatan terakhir kita melakukannya.
Karena itu pula belakangan ini saya lebih sensitif, dalam arti yang baik. Saya begitu berhati-hati dan tidak ingin melukai orang lain. Karena, siapa tahu, kapanpun bisa menjadi saat terakhir kita untuk berinteraksi dengan orang tersebut. Entah dia atau kita yang mendahului. Menanam luka jangan terlalu lama. Karena kita tidak tahu apa besok masih diberi kesempatan untuk memaafkan atau dimaafkan.
Saya tak berharap ketinggian juga. Tapi setidaknya, dengan perspektif seperti ini saya merasa menjadi orang yang lebih baik untuk diri saya sendiri (dan mungkin untuk orang-orang di sekitar saya). Betapa saya harus memberikan esensi yang baik pada waktu-waktu yang saya lalui. Pada berbagai hal yang terjadi dalam hidup saya, di menitnya, di detiknya.
Bukankah kita berhak atas keberartian? Berhak atas menjadikan diri sendiri lebih berarti untuk orang lain? Berhak melayakkan diri untuk dikenang? Bersulang, untuk hidup yang tak dirayakan dua kali ini.
Minggu, 29 Mei 2016
Surat Sepenggal
.....
Kenapa Papa harus sebegitu komplitnya menjadi Ayah buat saya? Pa, saya suka cara Papa menolak permintaan saya. Saya suka Papa mengajarkan saya menunggu datangnya hal-hal baik yang worth waiting for. Saya suka cara Papa mengajarkan saya untuk sabar dan mandiri. Untuk jangan pernah berhenti mencoba meskipun gagal berkali-kali. Untuk terus meyakinkan bahwa saya bisa dan saya harus yakin bahwa saya bisa. Untuk selalu memberi saya kepercayaan bahwa saya punya kontrol untuk menjaga diri sendiri. Saya suka euforia yang Papa ciptakan setiap kali saya bisa melakukan, menyelesaikan, dan mendapatkan apa yang saya inginkan. Saya suka segala sesuatu yang Papa terapkan terhadap saya. Saya tumbuh menjadi perempuan yang dibentuk dengan nilai-nilai yang begitu baik.
Pa, apa yang terjadi kalau waktu itu pengobatan berjalan dengan baik dan Papa kembali sehat sampai hari ini dan seterusnya? Mungkin saya akan sangat bahagia, namun sekaligus menjadi produk gagal. Gagal ditempa masalah. Gagal menghadapi masalah. Semua ini, Pa, semoga cepat diberi titik terang. Ini hanya bagian kecil, Pa. Kapan-kapan lagi kalau ada waktu bertatap muka. Di mimpi, mungkin kita bisa lebih banyak bicara.
Pa, Selamat Hari Ayah. Datanglah sekali-sekali ke mimpi mereka, katakan kalau saya bisa.
-------------------------------------
Surat untuk Papa yang mengendap di laptop saya, ditulis 12 November 2014.
Selasa, 03 Mei 2016
Menerka Jaya
Itu tak penting. Sungguh, baginya, siapa Jaya bukanlah hal yang penting dan menarik untuk diceritakan. Jaya adalah apapun yang bersarang pada persepsi orang ketika memandangnya.
Dengan pakaian yang compang-camping, orang menganggapnya pengemis muda yang baru terjaga setelah mimpi panjangnya sebagai milioner semalam. Tapi Jaya tampak mengenakan jam tangan berbahan tali dari kulit asli dan kuning keemasan mengikat manis bingkainya. Tampak baru. Maka orang akan mengira bahwa Jaya adalah anak orang kaya yang baru kembali dari malam gemerlapnya di sebuah bar, tanpa tergagas ide akan menjadi pria seperti apa ketika bangun dalam keadaan mabuk paginya.
Uraian tentang Jaya, bukanlah hal yang penting. Dan apa yang dipikirkan orang tentangnya jauh lebih tak penting. Ia jalan tertatih seperti begitu lelah. Tapi, benar juga. Ia tak tahu seperti apa hidupnya akan berlanjut kemudian, sepuluh jam ke depan, atau sepuluh menit kemudian.
Bukankah hidup adalah sebuah taruhan besar di atas meja judi? Begitu sebaris kalimat yang pernah dibacanya, dituliskan oleh keresahan dan keputusasaan si penulis tentang hidupnya sendiri. Dan perempuan-perempuan nakal yang menggenapkan bahagianya hanyalah redup nyala lilin yang akan kembali menggelapkan Jaya ketika hasrat mereka telah habis masanya. Jaya mengendus hidupnya, entah.
Bahkan bayangannya saja hanya muncul samar, malu dan tak mau terlibat banyak di balik kaca. Enggan menjelaskan siapa Jaya. Barangkali Jaya memang apapun yang bersarang pada persepsi orang ketika memandangnya.
Pukul setengah dua dini hari, saya menulis ini sebab Jaya tiba-tiba tercipta di kepala saya sedari tadi. Sebab saya terus berusaha menemukan cerita untuk Jaya yang terlihat gundah memandang dirinya di balik kaca dan tak mengenakan pakaian rapi pukul enam pagi.