Tampilkan postingan dengan label #30Hari90Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30Hari90Cerita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

#30 Beda


“Susu melon itu, susu yang dicampur sirup melon”
“Hah? Aku masih percaya kalau susu melon itu saripati murni buah melon”
“Kalau itu jus melon!”
“Eh, siapa tahu selama ini melon punya payudara seperti sapi?”
“Ck, dasar laki-laki!”
Badannya rebah pada sandaran kursi tunggu di halte bus. Bibirnya masih terus menyeruput susu rasa melon dalam sebuah bungkus plastik yang tersambung dengan sedotan hijau.
Why so serious?
Alisnya berkernyit melirikku, suaranya kemudian bungkam hingga bus datang dan membawa kami pulang.
Kami tak pernah sama. Dia tak pernah sejalan dengan hidup penuh khayal yang kurangkai sedemikian rupa. Pula aku, tak pernah sepaham mengapa sebuah canda selalu terbawa serius olehnya. Tapi toh kita masih saling ada untuk satu sama lain, hampir satu dekade ini.
Dan itu cukup.

#29 Gravitasi


Sesungguhnya otak tak pernah egois terhadap hati. Lihat, mereka berdua bekerja sama menciptakan gravitasi yang cukup kuat untuk menyembunyika kata yang seharusnya terucap. Bahwa “aku sedang kacau”, “tinggalkan aku”, “aku menyukaimu”, “coba kamu jadi aku”, “aku butuh kamu sekarang juga” adalah kata-kata yang serupa balon bertali. Otak dan hati menahan mereka dengan begitu kuat agar tak lantas terbang melawan gravitasi dan terucap begitu saja.
Karena kadang, apa yang tersembunyi memang lebih baik.

#28 Takdir yang Salah


Liontin emas kecil berbentuk pesawat itu berdenting dengan liontin cincin yang sama-sama menggantung dalam satu rantai kalung sepanjang pergerakan kakinya. Leher yang jenjang itu menampakkan jelas kedua liontin mungil yang sangat manis ikut bergoyang bersama langkah kakinya.
Sebuah agenda kecil bersampul bahan kulit warna cokelat dikeluarkannya dari tas setelah dia menemukan tempat duduk yang pas di restaurant masakan Jepang itu. Di antara segala note dan catatan yang digores dengan tinta hitam pada kolom hari ini, sebaris kata tampak begitu menonjol tertulis dengan tinta warna merah besar-besar: HE’S COME!
“Nanti sore aku sampai di Jakarta, sekitar pukul tiga”
“Biar nanti sore aku jemput di bandara”
“Nggak usah repot-repot. Aku bawa barang banyak, mau ke apartemen dulu. Tidur sejam-dua jam. Ketemu nanti di resto biasa, jam tujuh”
Sarah menepati janjinya. Tepat pukul tujuh. Menunggu seorang lelaki yang datang setiba-tiba perginya. Berkata ingin liburan ke Bangkok dan tak mau direcoki segala jenis orang dari Indonesia. Dan menghilanglah Ian selama enam bulan, tanpa kabar sebarispun.
Di tengah pengharapan Sarah yang begitu besar akan Ian yang datang tepat waktu, pintu restauran berdecit. Dengan cepat mata Sarah menangkap sesosok Ian yang berbeda.
Enam bulan waktu yang cukup lama, ternyata. Badan Ian makin gemuk dan terlihat makin segar, tak sekuyu dulu. Dagunya ditumbuhi serumpun jenggot yang rapi. Juga, kemeja merah maroon—hadiah ulang tahun dari Sarah tahun lalu—menempel pas di badannya yang terlihat sedikit lebih bidang. Sarah tersenyum. Kemeja kebesaran itu akhirnya dikenakan Ian, dan betapa hal itu berhasil membuat degup jantung Sarah terpompa dua kali lebih hebat.

***

Liontin emas kecil berbentuk pesawat itu tak pernah berdenting lagi sejak malam itu. Ada yang hilang. Liontin cincin tak lagi tergantung pada tempat yang sama. Sejalan dengan hati Sarah. Tak ada lagi denting-denting keceriaan yang hinggap di wajahnya. Ada yang terampas.

***

“Sarah, cincin itu sudah waktunya turun dari leher kamu”
Sarah masih ingat betul percakapan itu. Inti dari tahun-tahun kedekatan mereka yang ditunggunya sejak lama. Kepulangan ini, mungkin waktu yang tepat bagi Ian untuk memakaikan cincin itu ke lingkar jari Sarah.
“Minggu depan, aku sama Cindy mau tunangan”
“Cindy? Cindy siapa?”
“Aku ketemu dia di Bangkok. Waktu berjalan cepat, Sarah, sekaligus terasa begitu lama selama aku ada di sana. I’m thirty-something years old and this is the first time I believe that there’s a such thing in this world called love-at-the-first-sight. I love her. I wanna ask her to marry me. Sarah, I’m a soon-to-be husband for a great woman like Cindy. Aku bahagia”
Ada jeda yang begitu lama, menguap dari kepala Sarah begitu saja, bersamaan dengan cekat di tenggorokan yang menahannya untuk bicara. Dia memutar lambat bagaimana Ian mengucapkan dua kata itu: “Aku bahagia”.
“Ingat waktu aku beli cincin itu sama kamu? It’s ridiculous, right? Aku minta kamu untuk menyimpan cincin itu sampai tiba saatnya aku jatuh cinta hingga ingin menikahi seseorang”
“Jadi? Mm, kenapa harus aku?”
“Kamu teman terbaikku, Sarah. Sekaligus kebaikanmu ada di ambang batas teratas kebaikan perempuan-perempuan yang aku kenal. I’m sure that we were meant to be a bestfriend till the end of the day. It’s an honor bisa menitipkan cincin itu ke kamu, sambil aku berharap akan tiba saatnya aku bisa bertemu perempuan lain yang sebaik kamu. Dan dialah Cindy, the one I wanna live my life with

***

Liontin emas kecil berbentuk pesawat itu tak pernah berdenting lagi sejak malam itu. Ada yang hilang. Liontin cincin tak lagi tergantung pada tempat yang sama. Sejalan dengan hati Sarah. Tak ada lagi denting-denting keceriaan yang hinggap di wajahnya. Ada yang terampas.
Dalam ruangannya, Sarah menangis sesenggukan. Ian menemui takdirnya, sementara Sarah harus menghadapi kenyataan penantian empat tahun yang sia-sia. Sarah hanya cukup menerima liontin berbentuk pesawat dari Ian meski hatinya meronta menginginkan cincin untuk Cindy.
Sarah telah menerka takdir yang salah.





“This is tiring. Still, can I be yours for a day? A day…”
Stars and Rabbits, Like It Here

Rabu, 29 Agustus 2012

#27 Ibuku yang Kaya


Ibuku memiliki tanah lapang yang luasnya tak terkira. Berhektar-hektar yang tak akan mampu dibeli saudagar kaya manapun meski segala rumah, apartemen, mobil-mobil mewah, dan segala dana investasinya dicurahkan untuk mendapatkannya.
Tanah lapang yang begitu hijau dan asri itu tak dijualnya. Bahkan, pada anak-anaknya pun Ibu tak mewariskannya barang secuil. Tiga anaknya ini selalu gagal dalam usahanya mendapatkan tanah lapang milik Ibu, atau yang serupa dengan milik Ibu. Entah karena kami terlahir dengan kutukan Dewa Langit, atau entah memang kami tak layak mendapatkan harta beliau yang satu itu. Yang jelas, bukan karena Ibu yang terlalu pelit pada anak sendiri.
Tanah lapang itu, selalu dibawanya ke mana-mana. Ibu tak pernah takut tanahnya dicuri, tapi memang itu adalah tanah ajaib yang selalu menyertai Ibu. Aku bisa melihat bagaimana Ibu menyertakan tanah lapang itu dalam hari-hari Ibu. Aku bisa melihat bagaimana Ibu selalu bisa mengisyaratkan bahwa tanah lapang itu begitu penting dimilikinya, juga bagaimana Ibu menaruh harap agar kelak anak-anaknya pula dapat memiliki harta semahal yang dimiliki Ibu.
Tanah lapang itu, tak akan kautemukan di sejauh mata memandang. Karena Ibuku mengemasnya di dalam dadanya. Tanah lapang tempat bermukim sejuta rela dan ikhlas pada setiap uji coba dari Tuhan. Juga tanah lapang yang begitu luas menyediakan sabar dan maaf menghadapi kenakalan anak-anaknya.
Ibuku sangat kaya, bukan?

#26 Ojek Payung


Kaki mereka hitam lusuh, berlarian meninggalkan jejak-jejak air yang meloncat tinggi pada genangan. Berkecimpung dalam jutaan jarum angkasa yang menghunus bumi bukan lagi menjadi masalah yang berat. Tak lagi dingin yang mereka rasa. Peka kulit di sekujur badan mereka telah menebal. Pula pakaian lama serbatipis yang mereka kenakan, bukan lagi menjadi pembawa gigil yang perlu diresahkan.
Ini yang mereka tawarkan kepada orang-orang di halte yang tidak kebagian kanopi, atau orang-orang di teras mal yang hendak keluar mencari taksi menuju tempat lain, atau mahasiswa-mahasiswa yang hendak kembali ke kos masing-masing, saat hujan tiba-tiba merayap begitu saja: perlindungan. Rasa aman yang begitu mahal, mereka tawarkan sukarela dengan mengandalkan satu payung berukuran besar, cukup untuk melindungi dua-tiga orang yang ingin menumpang teduh, lantas membiarkan mereka sendiri basah kuyup terguyur hujan dan hanya menerima tiga lembar seribuan.
Bocah-bocah ojek payung, bahagia hujan-hujanan tanpa perlu dimarahi orang tua seperti anak kaya raya lainnya. Takut sakit adalah dua kata yang tak ada di kamus mereka sejak mereka membiasakan diri bertemankan hujan.
Toh, lagi-lagi semua demi sesuap nasi.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com