Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Oktober 2013

Bermain Peran



“Kamu bawa bekal apa?” tanya Mira, sedikit melongokkan kepalanya ke kiri, mengintip apa yang tertata rapi di balik kotak makan Ema.
“Waaah” Mata Ema terbelalak, seolah kotak makannya berisi kejutan. “Mama membawakan aku burgel!” katanya. Sebuah roti bundar dengan isi tersusun rapi telah berjejal di kotak makan kuningnya. Mama menaruhnya lengkap dengan saus kemasan plastik kecil. Ukuran sebesar ini, sangat cukup mengganjal perut Ema yang kurus kecil. “Kamu, Mir?”
Mira mengerdikkan bahunya, tak tahu sama sekali. Mira menebak, mamanya dan mama Ema sama-sama suka menaruh kejutan untuk bekal anak-anaknya. Tiap hari menu yang dibawa tak pernah sama. Mereka kaya bukan main, saat anak lain hanya membawa bekal nasi-mi-telur, mereka membawa makanan-makanan orang dewasa. “Ayo kita buka! Satu, dua…” Mira membuka kotak makan birunya pelan-pelan sambil kembang kempis dadanya menebak-nebak. “Waaah” kali ini ia yang terbelalak.
Ema mengintip isi kotak Mira. Kue pipih bundar dengan saus dan daging di atasnya. Ada pula jamur-jamur kecil yang tak kalah seru menghiasi kue itu. “Pisa!” keduanya berteriak bersamaan. Tawa mereka keras dan bahagia, meski tertelan habis di udara.
“Kamu boleh minta burgel aku, tapi aku minta pisa kamu ya”
“Oke!”
Jalanan lengang di hari libur. Tak ada pendapatan dari mengamen atau menjual koran. Keduanya masih duduk di trotoar. Masih kusam. Masih menggunakan pakaian kumal.
Masih bermain peran sebagai dua anak berseragam putih-merah yang bertukar bekal di jam istirahat sekolah. Merasakannya tak pernah. Kotak bekalnya pun tak nyata.
Jalanan lengang di hari libur. Di sudut trotoarnya, dua gadis kecil meriangkan diri.

Rabu, 02 Oktober 2013

Ke Luar Angkasa



Ada hal-hal yang boleh dilakukan ketika kita melayang-layang di luar angkasa, di antaranya:
1.      Menari.
Siapa yang tak suka? Aku suka menari di pantai, ketika sedang sendiri, ketika ibu sedang bekerja sebagai pembantu rumah tangga, ketika layar-layar perahu mulai terbit dari garis horizon laut lepas pertanda ayahku segera pulang. Aku suka menari di mana saja. Menari membuat bahagia!

2.      Makan biskuit.
Aku suka biscuit. Aku suka ketika makan biskuit di luar angkasa dan remah-remahnya melayang. Tak akan jauh berbeda dengan serbuk-serbuk bintang yang tersebar seperti biji-bijian bercahaya.

3.      Lari-lari
Di luar angkasa, tak ada jatuh yang menyakitkan. Sekeras apapun kamu tersandung, ya, di sana, kamu masih melayang tanpa perlu melihat darah tercecer dari dagu dan lututmu. Terjatuh dari ketinggian berapapun, kau terjatuh dengan selamat.

4.      Memetik bunga
Hal ini menarik, sebenarnya. Dan boleh kau lakukan di luar angkasa. Hanya saja, siapa yang sudah berhasil menumbuhkan bunga-bunga di atas sana?


Lili menulis sambil sesekali menguap. Kantuk menggelayuti kedua matanya. Tak lama, permukaan meja menggodanya bak bantal empuk yang nyaman dijadikan sandaran tidur.
Lili terlelap.
Terlelap.
Terlelap.
Asap lampu templok membumbung tinggi. Panas. Bakar. Membakar langit-langit rumah Lili.
Buku Lili ikut terbakar, pensilnya juga.
Rumah gubuk Lili terbakar.
Ibunya sedang bekerja, tak pulang-pulang. Ayahnya belum lama berangkat melaut.
Lili, terbakar.

***

Ada banyak hal yang boleh kau lakukan ketika sedang berada di luar angkasa. Tapi, ada satu hal saja yang tak boleh nekad kau lakukan: ke sana sendirian.
Di hening yang begitu merasuk, nyawa Lili melayang-layang di seantero galaksi.




Selasa, 11 Juni 2013

Makan Pagi


Aku selalu menanyakan beberapa hal ini dalam hati: bagaimana bisa cairan kuning dan putih dapat tumbuh menjadi calon ayam? Bagaimana bisa cangkang sekecil ini mampu menyimpan tubuh seekor anak ayam? Jika kupecah cangkangnya, lalu kupindahkan isinya ke dalam plastik dan menaruhnya di tempat yang hangat, apakah mereka masih bisa berubah menjadi ayam?
Siapa yang berkonspirasi di balik perubahan cairan menjadi benda padat berwujud makhluk bernama ayam ini? Kudengar-dengar, namanya Tuhan. Siapa itu Tuhan?
Ck, aku selalu melamun seperti ini ketika menghabiskan pagiku di dekat peralatan memasak. Spatulaku tangkas membalik telur mata sapi yang mulai matang bagian bawahnya. Memasak telur seperti ini kadang terasa melelahkan. Sebentar lagi aku akan istirahat. Sebentar lagi, setelah telur kelima belas ini matang.
Persediaan telur ayam di rumah kami sangat banyak. Di dalam kulkas, di keranjang-keranjang kecil, bahkan di atas kursi. Sangat banyak, sampai-sampai suamiku begitu takut kalau-kalau mereka menetas tiba-tiba.
“Cepatlah!” di meja makan, suamiku mulai berkokok. Kubawa kelima belas piring telur mata sapi sesegera mungkin. Pagi ini, sekali lagi, kami melahap habis calon anak-anak kami.
Sebab kami hanya belum siap memiliki anak.
Lagipula, mereka begitu lezat.

Senin, 08 April 2013

Fragmen Api


1
Aku rasa, namanya bukan api.
Aku terus-menerus menghabiskan waktuku untuk mencari padanan kata yang pas. Yang tepat. Untuk sebuah makhluk oranye menyala yang melahap habis rumahku tujuh minggu silam. Dia terlihat begitu marah dan membabi buta menelan segala yang ada. Perabotan-perabotan hasil rombengan Bapak yang tak laku dijual lagi karena memang tak layak pakai pun ditelannya habis-habis. Hanya menyisakan abu hitam dan rangka-rangka yang tak jelas lagi bagaimana wujudnya.
Jadi, ya, nama ‘api’ terlalu mungil untuknya. Tak gahar. Sedangkan—kau tahu?—apa yang mampu dilakukannya dalam sekejap tidurku? Tak hanya menghabiskan rumahku. Bapakku pun amblas ditelan lidah-lidah panasnya yang tak pilih-pilih mangsa. Beruntung, Abah Husin, tetanggaku, berhasil menyelamatkanku dan adikku yang menurut orang-orang kala itu tengah tak sadarkan diri karena terlalu banyak menghirup asap kebarakan ketika tidur.

2
Nyala lampu templok redup menghangatkan kami yang sedang berdesak di atas kasur lipat tipis, melantunkan doa-doa menjelang tidur dalam hati. Listrik belum memasuki daerah tempat tinggalku yang memang lebih pelosok dari rumah orang tuanya dulu. Kalaupun listrik sudah menjalar hingga ke sini, aku tak yakin mampu membayar tagihannya, belum lagi harus menghidupi dua bocah ini.
“Kek, Ibu ke mana?” tanyanya suatu malam, ketika hendak tidur. Rasa kantuk telah menggantung di pelupuk matanya, tapi, aku tahu, ada yang lebih meresahkan pikirannya pada malam yang sunyi seperti ini. Membuatnya gelisah dan susah tidur, sejak berminggu-minggu yang lalu.
“Memangnya kenapa?” aku balik bertanya singkat, membentenginya agar tak bertanya lebih banyak lagi.
“Aku belum pernah ketemu ibu lagi sejak bapak meninggal”
“Nanti juga kamu ketemu sama ibumu, mungkin sedang ada urusan”
“Kapan, Kek?”
“Ah, sudah, tidur sana”
Aku lantas membelakanginya dengan punggung rentaku yang dingin. Usianya masih sebelas, terlalu dini untuk dikatakan dewasa. Terlalu minim hatinya untuk disuruh melapangkan. Kenyataan yang memburunya terlalu pahit, kurasa.
Husin, tetangganya yang belum pernah kukenal sebelumnya, membawa Angga dan adiknya kemari sore-sore sekitar dua bulan yang lalu. Tergesa ia datang menghampiriku. Jelas ada yang tak beres, batinku.
Aku sendiri tak terlalu dekat dengan Priyanto dan keluarganya. Yanto hanya anak angkat yang kubesarkan dengan keadaan yang jauh dari kata layak. Memiliki keturunan adalah hal yang mustahil bagi istriku yang bermasalah dengan kandungannya. Maka, mengangkat Yanto—anak dari sepupu jauhku—sebagai anak adalah pilihan terakhir untuk mengobati kesepian kami atas ketidakhadiran buah hati.
Aku sendiri tak memiliki jalinan yang dekat dengan Yanto. Istrikulah, yang memegang andil besar dalam perkembangannya. Hingga selepas istriku meninggal karena kanker rahim menahun yang tak terobati, Yanto yang belum genap dua puluh tahun memutuskan untuk merantau ke kota besar, mencari pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik untuk hidupnya kelak. Meninggalkan Si Tua pesakitan yang tak bisa dijadikan tempatnya bergantung lagi ini.
Sejak itulah, aku tak mengetahui sama sekali bagaimana keadaan Yanto. Apa pekerjaannya, apakah dia telah menikah, apakah dia bahagia. Hingga sore itu, Husin, yang mengaku sebagai tetangga Yanto, membawa seorang lelaki berusia sebelas tahun bernama Angga, dan si kecil Ana yang baru berusia delapan tahun. Kali pertama aku mengetahui bahwa aku telah menjadi seorang kakek.
Juga, kali pertama aku mendengar ringkasan kehidupan Yanto yang kini telah bersemayam di dalam pusaranya.

3
Aku mengenal Priyanto tak lebih dari seorang tetangga di salah satu kawasan Tempat Penampungan Sampah di Surabaya. Tak banyak yang mengenalnya sebagai sosok yang baik. Hampir seluruh tetangga menerjemahkan sosok Yanto layaknya sebuah kalimat berkonotasi negatif. Pemabuk yang jarang berinteraksi sosial dengan orang-orang di lingkungannya.
Entah bagaimana Susi—perempuan manis, lemah lembut, dan baik perangainya itu—bisa menikah dengan Yanto. Menurutku, itu adalah sebuah bencana, sebab Susi layak mendapatkan yang lebih baik. Tujuh turunan aku tak akan rela menyaksikan Susi berkeringat menyelesaikan pekerjaannya untuk menutup hutang di sana-sini akibat suaminya yang tak mampu memperoleh penghasilan yang lebih.
Ya, sejak Susi menawarkan diri untuk bekerja di tempatku sebagai pembantu rumah tangga, aku merasa senang bukan main. Telah lama ekor mataku mengincar Susi. Ia bagaikan bunga sepatu merah merekah yang tumbuh di tengah kekeringan hubunganku dengan istriku.
Namun, itu semua tak berlangsung lama.
Susi memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Berhari-hari kuperhatikan ia tak lagi seperti hari-hari dulu yang mengobral senyum di mana-mana. Susi lebih banyak murung, memperlihatkan sedikit keramahannya.
Hingga hari itu, setelah sebuah kebakaran memakan rumah kontrakannya dan menewaskan Yanto, aku baru tahu apa yang terjadi dengan Susi. Kuselamatkan anak-anaknya pada ayah Yanto yang masih bisa kujangkau keberadaannya. Sengaja kujauhkan dari hingar-bingar kota, juga dari akses media komunikasi.
Sebab, nama orang tua mereka telah menjadi bulanan media cetak maupun elektronik manapun setelah kejadian nahas itu.

4
Pada mulanya, Priyanto menjanjikan sebuah rayuan yang dengan sukarela ku-“iya”-kan sambil berpegang pada kesediaan untuk menjadi susah bersama, pun senang bersama. Merayap dari satu tempat ke tempat lain, memakai pakaian lusuh berhari-hari, hingga menemui pekerjaan tetapnya sebagai pemulung untuk menyambung hidup. Memiliki dua orang anak yang penurut, aku kira aku akan bahagia meski jauh dari kemapanan secara ekonomi.
Aku bekerja sebagai seorang buruh cuci, setelah Angga harus berhenti sekolah di bangku kelas tiga SD. Keadaan ekonomi kami memburuk, namun kuupayakan agar kami tetap membanting tulang kami sekeras-kerasnya untuk menukarnya dengan rupiah pemenuh kebutuhan. Tak hanya itu, kujual tenaga dan jasaku untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Si Kaya Husin, demi menyelamatkan kontrakan kami yang menunggak pembayarannya.
Namun, harapan baik justru membuahkan sesuatu yang berbalik. Mas Yanto menyia-nyiakan pundi-pundi rupiah kami di meja judi. Pulang tengah malam dalam keadaan mabuk, membanting apapun yang bisa dilemparnya dengan bebas di rumah.
Tak hanya itu, beberapa malam yang panjang harus kulalui dengan kemarahan dan ketakutan bertubi-tubi yang terus melingkari kepalaku, takut akan kehilangan Mas Yanto. Adalah malam-malam setelah memergoki suamiku menjatuhkan dirinya pada pelukan seorang gadis murahan. Kusaksikan sendiri dengan mata kepala dan sekujur tubuhku yang masih memaafkan setiap detail kesalahannya selama bertahun-tahun, di ranjang yang sama mereka berdua sedang beradu asmara.
Pernikahan ini tak seharusnya berakhir dengan sebuah perceraian. Sungguh aku masih mencintai Mas Yanto dengan segala kebutaanku akan keburukannya yang terus menerus kumaafkan. Maka, dengan inilah ia dan status pernikahan ini kuakhiri.
Aku lupa, sejauh mana persiapanku untuk mengakhirinya. Malam itu, ia masih terlelap di kursi rotan ruang depan. Mukanya kuyu, semerbak aroma alkohol menggerayangi tubuhnya. Aku yang sedang kalap segera memercik tubuhnya dengan minyak gas. Tak terlalu banyak. Menyusul kemudian, kurogoh dari saku dasterku, sebuah pemantik api warna merah tua.
Kulihat bagaimana api perlahan membangunkannya dari tidur lelap dengan mimpinya bersama si bidadari murahan. Sementara aku, khusyuk memerhatikan suamiku yang habis terpanggang secara perlahan sambil melangkah keluar, menyelamatkan diri.
Doaku turut serta menghanguskannya. Aku tak akan takut lagi kehilangan Mas Yanto dalam pelukan wanita lain, meski akan kuhabiskan beberapa tahunku di dalam bui.

5
Pengkhianat. Batinku terus merutuki Susi.
Langkahku berjalan dengan cepat, menandas panasnya kerikil di jalanan. Seharusnya, aku pulang bersama Susi. Dia memintaku menjemputnya siang itu di rumah Si Husin, tempatnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di sela kesibukannya menjadi pencuci pakaian.
Aku datang tepat waktu.
Menyaksikan sesuatu yang tak tepat pada waktunya.
Husin sedang merayu istriku, memeluk bahu Susi dengan mesra, mencubit pinggang Susi yang mudah geli, memilin rambut hitam sebahu yang kubelai tiap hari, menyentuh dagunya yang kuciumi setiap malam.
Sandiwara apa ini? Susi menikmatinya tanpa penolakan. Tersenyum-senyum geli di depan mataku yang mengintip dari balik jendela teras rumah Husin.
Aku memang tak lebih kaya daripada Husin. Aku hanya pemulung, sementara dia menjadi pengelola sampah organik yang mendapatkan penghargaan dari segala penjuru Tanah Air. Pantas saja Susi selalu menyempatkan diri untuk menuntaskan pekerjaannya di rumah Husin hingga lepas Magrib.
Aku pulang dengan geram. Pembalasan selalu lebih kejam, bukan?
Ya, pembalasan selalu lebih kejam. Setelah berganti kukhianati istriku dengan bermain wanita di belakangnya, ia menghabisiku hidup-hidup. Hingga aku tak lagi hidup dalam dunianya.
Beginilah cara kami bermain api.

Selasa, 12 Februari 2013

Payung Geulis


Aku hidup berdua dengan Bapak semata wayangku di sebuah daerah yang terlihat begitu kecil dalam peta Tasikmalaya. Sekecil itu pulalah pergaulanku. Maka, ketika aku tumbuh menjadi gadis 20 tahun yang cantik rupawan meski berpenampilan biasa saja dan didekati beberapa lelaki, Bapaklah yang mendampingiku menentukan pilihan hingga akhirnya untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahunku, kujatuhkan hatiku pada Andi. Bujang sederhana yang kukenal selama kuliah, yang sopan santun, juga taat ibadahnya.
Kuberi tahu, yang turut menanamkan modal terbesar pada kencan pertamaku, tak lain adalah Bapak. Sebagai pengerajin Tasikmalaya yang sudah lama pensiun menerima pesanan kerajinan tangan yang membabi buta dan lantas beralih pada kegiatan barunya, yaitu memelihara sepasang burung merpati saja, Bapak rela menanggalkan lencana pensiunnya dan kembali berkutat dengan keahlian yang dulu dibina dalam dirinya matang-matang sebagai pengerajin, yang meskipun tak terlalu tersohor di Tasikmalaya, namun berhasil menghidupi kami berdua bahkan menyekolahkanku hingga mencapai perguruan tinggi.
Seminggu sebelum kencan pertamaku dengan Andi, Bapaklah yang paling sibuk mempersiapkan ‘persenjataan’ agar aku terlihat istimewa. Dibelikanlah aku perona bibir, warna merah muda. Bapak yang notabene adalah mantan pengerajin, tak pernah salah memilih warna. Merah muda pilihan Bapak bukanlah jenis yang norak dan membuat bibirku tampak kampungan. Pilihan Bapak telah melalui proses pertimbangan yang cukup matang karena telah menyesuaikan dengan pakaian yang akan kukenakan.
Selanjutnya, Bapak menghabiskan waktu lagi, berjam-jam dalam gudang alat-alat kerjanya. Belum termasuk jam-jam yang harus dihabiskannya untuk bolak-balik membeli bahan. Dalam hitungan tahun, Tasikmalaya telah bertransformasi dengan begitu berbeda. Kata Bapak, bisa mendapatkan toko penjual bahan kerajinan yang murah dan masih mempertahankan kualitas seperti pada eranya dulu, layaknya menemukan Surga. Masalahnya, Bapak cukup kesulitan menemukannya. Bapak seperti pengerajin baru dari luar Tasikmalaya yang begitu linglung dan tidak tahu ke mana harus mendapatkan bahan yang diperlukan.
Yang menarik adalah, Bapak tak pernah absen mengunci pintu ruang kerjanya tiap kali hendak pergi meninggalkan ruangan itu. Ruangan itu tertutup penuh, pula tak ada jendela. Beliau semacam tahu bahwa aku berencana mengendap-endap masuk ke dalam saat Bapak pergi, dan mencari tahu apa yang beberapa hari terakhir dikata “rahasia” oleh Bapak itu.
Dan akhirnya, hari itu tiba.
Ini yang kulakukan pada pukul satu siang di suatu hari yang panas ketika kalender menunjukkan tanggal 18 September di hari Sabtu: aku mematut diri begitu lama di depan cermin. Bayangan yang kurasa belum juga terlihat begitu cantik itu menatapku balik. Empat-lima helai rambutku mencuat sedikit, kurapikan lagi hingga semua helai rambutku jatuh rapi-lembut. Helai kain berlengan pendek warna putih bermotif bunga merah muda besar-besar selutut juga tak lepas dari fokusku. Dan, ah, perona bibir dari Bapak. Kurasa itulah satu-satunya yang telah sempurna mengikat bibirku hingga senyumku terlihat begitu manis.
Sementara, kucuri intip seorang pria telah siap di luar sana. Berdiri resah menunggu gadis Tasikmalaya yang sedang diperjuangkan hatinya. Mengenal Andi yang juga teman kuliahku adalah hobi baru yang menyenangkan. Alisnya yang tebal suka ikut-ikut naik saat mata dan bibirnya menertawakan lelucon yang kubuat. Rambutnya hitam, sedikit keriting tapi terpangkas rapi. Tak pernah luput mengingatkan untuk menggenapkan shalat di kampus meskipun jadwal kuliah tak memberi kesempatan untuk jeda. Ah, Bapak yang lelaki saja terpikat, apalagi aku.
“Dor!” Bapak menepuk bahuku pelan, tapi, tetap saja aku kaget. Ketahuan aku sedang sibuk mengintip.
Bapak lantas mendahuluiku begitu saja, membukakan pintu yang sedari tadi diketuk Andi beberapa kali.
“Permisi, Bapak. Mayang ada?” suara Andi yang semerdu penyiar radio menyambut Bapak. Sedikit melirik ke belakang, Bapak memberi kode bahwa aku telah siap diajak kencan.
“Pak, Mayang pamit, ya” kuraih tangan Bapak, lalu kucium sambil mengirimkan getar batin agar Bapak mendoakanku dari jauh.
“Oiya, ini” Bapak menyerahkan sesuatu yang sedari tadi digenggamnya di tangan kiri. “Di luar panas. Bapak nggak mau Mayang dipulangin dalam keadaan gosong. Dipakai ya nanti”
Diserahkannya benda itu padaku. Sebuah payung. Kurentangkan tudungnya. Ini payung geulis, sudah lama sekali Bapak tidak membuat ini. Sekalipun membuat, Bapak lebih sering mencipta miniaturnya, banyak dipesan sebagai souvenir pernikahan, dulunya. Bertangkai bambu, payung ini terbentang cantik dengan tudung terbuat dari kertas khusus payung kerajinan. Senada sekali dengan baju selututku. Putih dengan lukisan bunga sakura merah muda. Jelas sebagai pengrajin, Bapak juga ahli dalam memainkan kuas dan warna.
Aku senang sekali. Ini kencan pertamaku dan Bapak menggenggamiku sebuah jimat, payung geulis. Konon, disebut payung geulis sebab jaman dahulu mojang-mojang geulis Tasikmalaya kerap memakai payung kertas seperti ini ke mana-mana untuk melindungi diri dari terik matahari. Bentuknya yang manis dan sederhana, selalu berhasil menyiratkan keanggunan tersendiri dari pemakainya. Tak ayal pemberian Bapak membuatku merasa cantik sempurna.
Bapak merangkul bahuku. “Dulu waktu Bapak kencan dengan ibumu, dia juga selalu bawa payung geulis” katanya. Rautnya mengenang semasa Ibu masih ada di antara kami berdua sebelum beliau meninggal karena serangan jantung sebelas tahun yang lalu.
Di saat seperti ini, aku merasa bersalah jika harus tumbuh dewasa dan meninggalkan Bapak. Sebagai satu-satunya orang tua yang membesarkanku dan menyaksikan tumbuh kembangku, Bapak mana yang tak merasa kehilangan ketika harus melepaskan putri semata wayangnya ke pelukan lelaki lain yang kelak akan mendampinginya? Jelas Bapak menampakkan raut takut kehilangan sekaligus damba kebahagiaan yang mau tak mau harus diberikan kepada gadisnya.

***

Sabtu siang itu, aku tak jadi ke mana-mana. Bersama Andi dan Bapak, kami bertiga duduk di pelataran teras rumah, menikmati terik matahari Tasikmalaya yang mengintip dari balik pot-pot tanaman gantung Bapak. Sepoci besar es teh manis tersaji dengan tiga gelas belimbing dan sepiring penuh donat kentang.
Ah, mungkin hanya aku yang menikmati siang itu. Bapak dan Andi tampak tegang. Dahinya berkerut-kerut menggambar berbagai macam strategi dalam otak masing-masing. Sedangkan aku hanya turut tertawa ketika salah satu dari mereka terkecoh dengan permainan bidak-bidak catur lawan. Sesekali, mereka istirahat, menikmati donat dan membicarakan burung merpati Bapak hingga membicarakan pemerintah daerah.
Sssstt, sebenarnya Sabtu itu tetap menjadi kencan pertamaku dengan Andi. Setelah Bapak memberiku sebuah payung geulis, Andi mengajakku berjalan kaki menyusuri deretan-deretan rumah di sekitarku. “Kita cari kue, kasihan Bapakmu di rumah sendirian. Biar kita temani Bapak hari ini”
Aduh, Bapak, baik sekali Andi. Tidakkah hal yang paling menyenangkan adalah melihat seseorang begitu peduli dengan orang yang kita sayangi? Perjalanan kaki yang hanya lima belas menit di bawah tudung payung geulis hasil kerjamu itu membuahkan satu debar jantung yang baru ketika Andi menggandeng tanganku, Pak. Entah keringat dingin macam apa yang tiba-tiba muncul dan membuat Andi menertawakanku, tapi tak juga melepaskannya dari tangannya yang begitu lembut menggenggam. Dan secara ajaib kami menghabiskan banyak sekali obrolan seolah kami telah melewati berjam-jam waktu berdua. 
Lima belas menit yang membuatku tahu bahwa pilihanmu, Pak, adalah pilihan yang tepat. 

Senin, 04 Februari 2013

Konde Ibu


Aku memandangi Ibu yang bertaut begitu lama di hadapan cermin. Gincunya merah merekah, penuh memoles bibir yang dihiasi tahi lalat kecil di ujung kirinya. Bedaknya tak kalah tebal, memutihkan kulit wajah Ibu yang sejatinya kuning langsat.
Aku masih diam terpaku, mengintip Ibu dari balik kusen pintu kamarnya. Baju dan tanganku begitu hitam dan kotor, jejak oli masih menempel di sana-sini sejak kuperbaiki rantai sepedaku tadi. Tak akan diijinkan aku memasuki kamar Ibu yang begitu sakral: banyak kebaya dan kostum panggung di sana-sini.
“Bu, aku boleh ndak pakai konde? Yang kayak punya Ibu, yang itu..” pintaku pelan, menunjuk ke arah sebuah konde yang masih terbungkus rapi dalam kotak kardus kecil. Dari sekian banyak konde milik Ibu, yang itu satu favoritku. Entahlah, itu hanya sebuah konde sederhana. Tapi tiap kali aku melihat Ibu memakai konde itu di pementasan, aku seperti kerasukan dan hanya bisa diam terpesona melihat Ibu yang begitu cantik memikat. Ah, aku hanya ingin secantik Ibu, sebenarnya.
“Boleh nduk. Bilang saja sama Bapakmu, jangan suka mangkas rambutmu seenak udel-nya sendiri. Paling nggak, rambutmu panjangnya sebahu supaya Ibu bisa masang konde itu di rambutmu” jawab Ibu, sambil menebalkan alisnya dengan pensil alis. Membuatnya sedikit lebih naik dan sedikit lebih panjang.
Aku meraba kepalaku dengan tanganku yang masih hitam beroli. Rambutku tak kunjung panjang. Bapak hobi sekali mencukur rambutku hingga habis. Di sekolah, aku selalu menjadi bahan olokan teman-teman karena aku tak punya rambut, seperti laki-laki, tapi bermain boneka, seperti anak perempuan kebanyakan.
“Tapi rambutku kapan panjangnya, Bu ?” tanyaku lirih.
Ibu terlihat berhenti mempercantik alisnya, lantas memandangku yang belum berpindah dari kusen pintu kamarnya. “Besok-besok, kalau Bapakmu sudah akur sama Ibu”
Bapak dan Ibu itu ibarat pewayangan Rama dan Sinta yang dimainkan oleh seorang dalang mabuk, menurutku. Seharusnya, mereka adalah sepasang pria gagah dan wanita gemulai yang saling merajut asmara. Tapi di realita panggung, mereka tak ubahnya menjadi dua orang dewasa yang tak pernah mau berdamai dengan argumen satu sama lain. Ya, dalangnya mabuk. Rama-Sinta versi Bapak-Ibuku pasti sudah dilempari botol air mineral kosong kalau benar-benar dipentaskan. Seperti aku, yang selalu ingin melempari mereka teriakan untuk berhenti tiap kali tak ada satupun dari mereka berdua yang bisa menghentikan adu mulut dan adegan saling melempar guci di rumah.
“Terus kenapa kalau Bapak nggunduli rambutku, Ibu ndak berusaha melarang Bapak ?” tanyaku kemudian, kepada Ibu yang baru saja menyelesaikan riasannya dan sudah tampak begitu rapi dengan kebaya merah tua serta konde yang baru dibelinya.
“Ibu sudah capek, Bapakmu itu mungkin nunggu Ibu mati dulu baru mau dengerin semua yang pernah Ibu bilang ke dia” jawab Ibu ketus, nada bicaranya meninggi. “Kamu jaga rumah, Ibu berangkat dulu. Jangan lupa pintu, jendela, dikunci semua. Jangan tidur dulu sebelum Bapakmu pulang” lanjutnya. Berkaca lagi, menarikku keluar dan mengunci kamarnya yang sakral, lalu melenggang pergi.

***

Ibu bukan hanya seorang sinden cantik yang piawai menyanyikan tembang-tembang Jawa dengan suara tinggi melengking nan merdu. Sekali waktu, Ibu turun dan berjoget. Bukan menarikan Tarian Ronggeng, ibu hanya melenggak-lenggok sekenanya untuk kemudian membiarkan para laki-laki turut bergoyang di balik selendangnya sambil memberi saweran. Tapi Ibu seperti minuman memabukkan, terlihat sederhana namun pesona kecantikannya mematikan. Dari sanalah Ibu membiayai sekolahku dan keperluan kami sehri-hari.
Bapak tak pernah suka melihat Ibu disawer lelaki lain, meskipun mereka menyawer dengan cara yang sopan dan tak merendahkan Ibu. Namun, tetap saja, Bapak selalu murka setelahnya. Memaki-maki Ibu tanpa ampun, sambil mengombinasikan kemarahannya terhadap kesalahan-kesalahan Ibu yang lain. Diungkit lagi hal-hal lama hingga tampak sebagai kesalahan baru.
Untukku, malam akan menjadi begitu panjang. Kuhabiskan sambil bersembunyi di bawah kolong ranjang, merangkul lututku erat-erat sambil mendengarkan dialog-dialog keras mereka, atau suara pukulan sesekali. Ibu sendiri, semakin terlatih menghadapi Bapak. Jika dulu Ibu hanya bisa menjerit kesakitan—baik lahir maupun batinnya—kini Ibu lebih berani mengembalikan sumpah serapah Bapak tanpa air mata sedikitpun.
Aku tak tahu berada di pihak siapa. Yang aku pelajari tiap malamnya adalah semakin keras Bapak memperlakukan Ibu, maka semakin kuat Ibu mampu menghadapi segala resiko pilihan hidupnya.
Dan semakin kuat Ibu menghadapinya, semakin besar keinginanku untuk menjadi seperti Ibu. Sama persis, seperti Ibu.

***

Bapak kalah judi. Lantas pulang dan memukuli Ibu yang sedang menghitung uang hasil kerjanya malam ini di ruang tamu. Semakin tak beralasan pelampiasan kemarahan Bapak. Semakin kosong dan rusak perabotan-perabotan di rumahku. Pula jiwa-jiwa yang bersemayam di bawah peraduan atap yang sama.
Aku sendiri, telah berpoles cantik. Wajahku semakin mirip dengan Ibu. Lengkap dengan tahi lalat kecil di ujung kiri bibirku. Pada sentuhan terakhir, kukenakan konde Ibu yang kucuri sore tadi. Kuikat menjadi satu dengan kepalaku menggunakan seutas tali rafia, sebab terlalu lama jika menunggu panjang rambutku, sementara aku tak sabar lagi menjadi sosok seperti Ibu.
Di bawah konde Ibu dan selembar selendang biru nan cantik, aku berlenggak-lenggok menari dalam senyapnya kamarku, diiringi suara piring yang beterbangan di luar sana. Berpura-pura sedang berada di atas pentas, menerima sorakan dan siulan penonton, menjadi bidadari malam.
Menari dan membebaskan jiwaku untuk terlahir sebagai seorang perempuan, meski terkungkung dalam raga seorang lelaki.

Jumat, 25 Januari 2013

Berbeda

“Pelangi tak pernah selingkar sempurna. Ia hanya membusur, entah ujungnya berada di atap rumah siapa. Aku, pernah memimpikan ujung pelangi itu berada tepat di atas rumahku. Sebuah pelangi yang permanen, yang tak hanya muncul seusai hujan seperti cerita lama. Namun, justru pelangi yang menjatuhkan hujan warna-warni..”
“Bisa dimakan seperti permen?” tanyamu, memotong pembacaan cerita yang baru saja kutulis.
“Ya, bisa dimakan seperti permen!” jawabku antusias. Kutambahkan sebaris kalimat yang kaulontarkan barusan ke dalam bukuku.

***

“Ah, bosan. Ceritamu bagus, tapi aku bosan didongengi setiap hari. Makan, yuk!" sergahnya, ketika belum selesai kubacakan satu tulisan terbaruku tentang pohon-pohon yang sedang meranggas.
Selesai. Aku menutup bukuku. Dia mematikan kembali mimpi-mimpiku.
Tak terasa, ada air mata yang pelan-pelan ikut meranggas, meninggalkan si bola mata yang khusyuk berada pada tempatnya dan menyesali kedatangan orang baru yang tak lagi sama.
Dia yang bukan kamu. Tak akan sama.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com