Halo, Pa.Beberapa malam lalu, kita sudah jalan-jalan dan makan durian bersama, ke bioskop lalu tidak menonton apa-apa kecuali menonton malam. Tidak berbagi cerita apa-apa kecuali berbagi diam. Berdua saja. Sepi.Tapi hangat. Hangat yang sudah begitu jarang.Selamat hari Ayah, Ayah kebanggaan nomer satu!
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label family. Tampilkan semua postingan
Selasa, 12 November 2013
Hari Untukmu
Label:
family
Selasa, 03 September 2013
Bangun Pagi
Halo, Pa.Dulu sekali, bukankah kita hobi bangun pagi? Lalu jalan-jalan yang agak jauh, berburu tiwul enak tak lama setelah matahari mulai naik. Tak lama setelah kota menjadi agak lebih terang dari menit-menit sebelumnya.Dulu sekali, bukankah Papa bilang, olahraga itu penting. Supaya aku tinggi dan sehat. Di ulang tahunku yang ke—entah, aku lupa—Papa belikan aku sepeda yang tinggi untuk orang besar. Tiap Minggu pagi, dulu sekali, Papa bangunkan aku pagi-pagi, menyuruh bersepeda. Biar tinggi, katanya.Papa, dulu sekali. Papa sering ajak aku jalan-jalan. Udara pagi bagus sekali. Matahari terbit sewajarnya. Mungkin sangat cantik, layaknya matahari terbit di foto-foto itu. Mungkin sangat memukau. Tapi saat itu aku tak terlalu peduli. Lebih penting udara paginya dan jalanan masih begitu sepi, bukan pukul berapa matahari terbit atau bagaimana anggunnya benda itu merayap naik pelan-pelan di jauh sana.Papa, pagi tadi, aku bangun pagi-pagi sekali. Sebenarnya, hanya demi bisa mengambil foto matahari terbit untuk hiasan di Instagram. Maklum, aku susah bangun pagi, Papa tahu itu, kan?Dan, Pa, tahu tidak? Cantik sekali. Terbitnya—ternyata—cantik sekali. It reminds me of you and our Sunday morning hours. Am I too old to hope that I could turn back the time? Lalu kita jalan-jalan pagi lagi. Lalu aku tamatkan sungguh-sungguh bagaimana matahari terbit setelah subuh.Bukan asal jalan.Bukan asal bersepeda.Bukan asal-asalan tak menikmati waktu-waktu saat aku masih bisa bersama Papa.Yang aku sesali, aku tak pernah merekam sungguh-sungguh semua pembicaraan kita, kecuali di bulan-bulan terakhir hidupmu.Malam lalu, akhirnya Papa datang di mimpiku ya, Pa. Mengemas semua barang dalam koper-koper besar, lalu pergi jauh.Pa, kamu sudah terlalu jauh meninggalkan kami. Di mimpi saja, jangan pergi lagi.
Label:
family
Sabtu, 27 April 2013
Penakut
Halo, Pa.
Pa, Papa tidak akan mengerti bagaimana gaduhnya perasaan ini melihat wajah letihnya. Mengangkat beban sebegitu banyaknya, di mana aku menjadi salah satunya.
Pa, aku meliriknya diam-diam ketika ia sedang memanjatkan doa-doa. Tak kulihat matanya beralih dari satu fokusnya. Ada namaku terucap di sana, berkali-kali. Mungkin sebab aku beban terbesar yang sedang ditanggungnya.
Satu lagi kesulitan datang, untukku, tapi lagi-lagi ia yang menepisnya kuat-kuat. Namun, justru pada detik itu lemahnya mulai kentara: sebuah ketakutan luar biasa. Lalu aku turut menjadi lemah pula atas segala rasa bersalah pada ketidakmampuanku menjaganya dengan baik sedangkan ialah yang tega meluruhkan waktunya demi menjagaku.
Wajah itu, Pa, yang menjaga tidurmu dengan tenang dalam kematian yang perlahan-lahan merabamu kala itu, sedang mengkhawatirkanku dalam batas ambang yang ikut membuatku takut luar biasa.
Takut dengan ketakutannya.
Takut menyia-nyiakan banyak hal tentangnya.
Andai Papa di sini.
Label:
family
Jumat, 16 November 2012
Lepas
Halo, Pa.Akhirnya, aku menulis lagi buat kamu, Pa, setelah tulisan terakhir bulan Maret lalu. Lama, ya. Anak macam apa aku yang kurang berusaha menanggalkan ingatan tentang ayahnya melalui satu-satunya cara agar ingatan jangka panjangku bekerja ini.Pa, masih ingat percakapan terpanjang kita, terakhir kalinya sebelum Papa masuk rumah sakit lalu meninggal? “Maaf, Papa udah kayak gini keadaannya, nggak bisa nganterin kamu ke mana-mana lagi. Kamu sebentar lagi kuliah, maaf Papa nggak bisa dampingi kamu kayak waktu kakak-kakakmu kuliah dulu. Kamu yang mandiri, harus berani” begitu tuturmu.Tadi malam, Pa, pukul setengah sembilan, aku pulang dari Surabaya. Itu kali pertama aku menempuh perjalanan malam yang begitu rawan. Aku selamat, sampai rumah tepat waktu. Tapi tiba-tiba aku kangen sekali denganmu, Pa. Tidak ada telepon dan SMS masuk berkali-kali menanyakan akan pulang jam berapa. Tidak ada yang menunggu aku di ruang tamu sampai ketiduran, lalu diam. Diam karena marah aku pulang malam. Diam karena khawatir aku kenapa-napa.Tidak ada lagi yang dalam diamnya berkata “Papa iki sayang karo awakmu, tapi awakmu gak sayang karo Papa”.Ada Mama, memang. Tapi Papa paham, kan perbedaan rasanya?Lalu malam sebelumnya, kita dipertemukan dalam mimpiku, Pa. Tapi bukan mimpi yang baik. Kita duduk berdua semeja, di sebuah rumah makan di tepi jalan. Lalu segerombolan anak kecil melewati kita, sedang berkarnaval membawa balon dan kostum lucu-lucu.Kita duduk berhadapan. Papa begitu dingin dan aku menangis, begitu marah dengan keadaan. Begitu marah dengan kepergian Papa yang langsung saja melepasku untuk melakukan segala sesuatu sendirian. Aku marah dan menangis sejadinya sambil memukul-mukul meja. Dan Papa tetap diam.Aku terbangun, Pa, dengan perasaan kehilangan yang besar sekali. Jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya.Papa baik-baik, kan, di sana? Minta sama Allah, datang ke mimpiku dalam keadaan yang baik.Oiya, ada seorang teman yang sedang bertaruh nyawa setelah operasi pendarahan otak, Pa. Kritis. Lalu, lagi-lagi aku ingat siang itu ketika aku tidak bisa menghentikan air mata yang terjun bebas, menuntunmu melafalkan “Allah, Allah” pada sakaratul maut-mu.Aku tidak akan bisa lupa bagaimana gemetaran di sekujur tubuh ketika mengabarkan pada kakak bahwa Papa sedang kritis. Juga bagaimana rasanya ketika Papa tidak mengenali aku lagi.Pa, kangen sekali rasanya.Boleh minta peluk?
Label:
family,
what i feel
Rabu, 14 Maret 2012
Ku-at
Halo, Pa, apa kabar ?
Beberapa hari kemarin aku mimpi Papa tiba-tiba datang bawain setumpuk SIM dan KTP baru yang sudah jadi. “Ini, Papa bikinin banyak, buat jaga-jaga kalau kamu teledor ngilangin KTP sama SIM lagi. KTP sama SIM kok bisa sampe ilang!” begitu katamu, Pa.Lucu. Apa yang aku alami, seperti Papa ikut tahu. Seperti Papa ingin ikut ada di sini buat aku. Makasih, Pa. Walaupun kata Freud, mimpi itu hanya refleksi dari hal-hal yang kita inginkan, hal-hal yang kemudian kita repress. Ya, mungkin bukan sepenuhnya kamu yang datang di mimpiku malam itu dan malam-malam biasanya. Mungkin itu cuma bunga tidur yang indah hasil dari hari-hari yang aku lewati dengan me-repress rasa kangenku buat kamu, Pa.
Dan hari ini, akhirnya aku lihat video itu lagi. Dua video yang aku rekam 2009 lalu, waktu Papa membuat si Caca yang masih berumur sekitar lima bulan tertawa. Kamu adalah orang terbaik yang bisa membuat Caca tertawa sekeras itu.
Aku nggak pernah merekam apapun dari kegiatan Papa, sampai beberapa hari sebelum itu Mama memintanya. “Fotoin Papa yang banyak ya, Put. Rekam Papa. Sebelum kita nggak bisa lihat Papa lagi. Paling nggak, setelah Papa nggak ada, masih ada yang bisa kita lihat dari Papa”. Bukan bermaksud mendahului takdir, hanya saja, seperti yang Papa tahu, kita pun sudah tahu akan berakhir seperti apa penyakit Papa.
Rasanya mau nangis, Pa. Kenapa Papa cuma ada di dalam rekaman video ? Di dalam layar handphone yang nggak lebih besar dari genggamanku ?
Tapi, as always, I promise you I’ll be strong.
Oiya, Mama cerita, mimpi Papa ngajak Mama pergi. Jangan Pa, Mama jangan dibawa ke mana-mana. Aku masih butuh Mama, aku cuma punya Mama.
Take care ya, Pa.
Putri.
Label:
family
Rabu, 26 Oktober 2011
Repress
Pa,Akhir-akhir ini tiap bangun tidur rasanya kangen sekali sama Papa. Pengen dipeluk Papa, minimal lewat mimpi. Sampai harus lihat rekaman video yang ada Papa untuk seolah menghadirkan Papa dalam bentuk yang sedikit lebih nyata. Ah, menyebalkan.Kalau mimpi adalah wujud dari hal-hal yang kita repress, harusnya aku berhasil mendatangkan Papa ke mimpiku karena aku begitu keras menekan rasa kangenku yang selalu berlebihan. Iya, kan ?Melihat mereka yang masih bisa bergandeng tangan dengan ayahnya, aku kangen sekali saat-saat kita masih bisa seperti itu. Terlalu banyak hal yang nggak bisa aku jabarkan satu per satu tentang momen-momen yang selalu ingin aku ulangi sama kamu, Pa.Biru sekali rasanya. Bangun tidur dan jauh dari rumah. Dan Mama, apa kabar di rumah ? Bagaimana kalau di rumah lampu mati ? Mama sendirian. Apa Mama benar-benar sudah bisa mengatasi rasa sepinya sendirian di rumah ?Aku cuma bisa berdoa dan menguatkan diriku sendiri dalam hati, “Semua pasti akan baik-baik saja, Put. Ini cuma masalah waktu..”
Label:
family
Kamis, 20 Oktober 2011
Terang Bulan Keju
Pa, tadi aku berpikiran untuk beli martabak di jalan, bersamaan dengan bau tanah basah yang tiba-tiba menyergap hidungku di perjalanan Surabaya-Gresik. Lalu kejadian itu terulang lagi, lagi, lagi, saat genangan air membanjiri kaki-kaki kita. Tanpa payung. Tanpa pelindung apapun. Berdiri berdua di pinggir jalan, menunggu martabak pesanan kita selesai. Merasakan deru-deru truk yang lewat di depan kita menggetarkan jalanan, terasa hingga tempat kita berdiri.Apa jadinya kalau hari ini aku membeli martabak, lalu hujan tiba-tiba ? Aku sendirian. Tidak ada Papa di sisi kiriku.Jadi mungkin terang bulan keju menjadi pengalihan yang pas supaya aku tidak terlalu sedih kalau tiba-tiba hujan turun saat aku menunggu pesananku. Tidak terlalu sedih. Tidak terlalu sedih.
Label:
family
Selasa, 20 September 2011
Suatu Hari
Halo lagi, Pa.Mendadak kangen. Nggak tau kenapa, mendadak inget hari itu. Waktu Papa ngajak aku keliling naik mobil. Nggak ke mana-mana, nggak ke suatu tempat, bener-bener cuma keliling ngabisin jalan.Aku duduk di sebelah Papa. Dan aku masih inget banget perasaanku waktu itu yang nggak tau kenapa tiba-tiba mikir “Gimana kalau ternyata ini kesempatan terakhir jalan-jalan sama Papa ? Gimana kalau aku nggak akan bisa nikmatin hari ini lagi, duduk di sebelah Papa yang lagi nyupir, bercanda, nyanyi-nyanyi ?”Dan ternyata bener.
“Maaf kalo Papa nggak bisa anterin kamu lagi ke mana-mana. Bentar lagi kamu kuliah. Papa nggak akan mungkin bisa nganterin kamu ke kos, atau jemput kamu pulang, atau bahkan nganterin barang yang kamu butuh kayak yang Papa lakukan ke kakak-kakakmu. Kamu harus mandiri ya. Bisa, kan ?”
Label:
family
Langganan:
Komentar (Atom)