Tampilkan postingan dengan label my day. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label my day. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Juni 2013

22 Juni


Halo! Haha, lama nggak nulis macam diary begini. Jadi, apa kabar para pembaca yang saya nggak tau siapa aja pembacanya?
Sejauh 2013 ini, segala sesuatu—iya, segala sesuatu—berjalan lebih baik sekali. Banyak berkah, banyak kejutan, sampai saya nggak tahu mana yang harus diceritakan. Alhamdulillah. Yang terpenting adalah, Tuhan sudah banyak membantu saya untuk mengoreksi ulang segala pemikiran buruk saya tentang orang-orang di sekitar saya dan hal-hal yang saya keluhkan. Sangat senang begitu saya tahu bahwa ada banyak sekali prasangka saya yang salah. Heuheu.
Jadi, 2013 ini blog saya makin nggak keurus. Iya, saya jadi jarang sekali nulis. Sibuk? Nggak juga sih. Buntu ide mungkin ya lebih tepatnya. Tapi, sebisa mungkin saya merajinkan diri untuk nulis. Kebetulan, sudah ada komunitas menulis juga di kampus. Sedikit banyak, ide-ide minim saya tersalurkan.
Hal lain yang menarik, saya berkesempatan mengirim tulisan dan dibuatkan film pendek sama anak-anak Gresik Movie. Wooooohooo! Salah satu wishlist saya tahun ini agar cerpen saya bisa difilmkan, resmi saya coret. Belum lihat hasilnya, tapi insya Allah saya akan suka, karena sudah pernah lihat hasil film-film pendek mereka sebelumnya. Proyek selanjutnya adalah masih menunggu kelanjutan rencana mem-film pendek-kan cerpen Konde Ibu. Semoga lancar dan semoga—kalau waktunya tepat—saya bisa melibatkan diri langsung dengan mereka.
Bagaimana dengan lovelife? Ah, don’t ask. Mungkin tugas saya sekarang adalah melayakkan diri dulu untuk bisa segera dipertemukan dengan yang pertama dan yang terbaik. Aamiin.
Yang sedang bikin sibuk sekarang adalah UAS dan event Psychofest di kampus. Semoga waktu luang masih banyak, karena liburan nanti saya berencana untuk lebih gencar ngeblog dan ikut lomba-lomba nulis lagi.
Semoga segala urusan kita semua ke depan lancar, ya!


Minggu, 24 Februari 2013

My Joyliday

Hello, world!
Begini, liburan semester kali ini saya tetap jadi anak Gresik yang tidak ke luar kota sama sekali atau pergi-pergi ke tempat wisata manapun seperti temn-teman saya yang lain. Semuanya masih sama ketika saya menghadapi liburan. Masih lebih banyak di rumah, makan, tidur, makan, tidur, mandi, makan, tidur, bangun, dan seterusnya. Tapi, banyak yang harus disyukuri dengan kegiatan saya yang monoton ini.
Saya jadi bisa lebih banyak melakukan hal di rumah. Liburan kali ini, saya lagi ketagihan bikin barang-barang DIY, homemade, handmade, or whatever you named it. Ada beberapa yang saya recycle dari barang-barang di rumah. Notebook dari sketchbook, bikin cover binder dari majalah bekas, kotak foto, dan banyak lagi. Dan yang paling asyik dan bikin saya ngendon berjam-jam selama berhari-hari adalah bikin clay necklace. Dan karena clay itu lumayan mahal dan susah didapet, ujung-ujungnya pun bikin clay sendiri dari bahan-bahan dapur. And guess what, hasilnya sangat-sangat memuaskan. Saya jadi seneng ke mana-mana pake kalung bikinan sendiri, model dan motifnya nggak pasaran, hihi. Kalau ada yang follow instagram saya, mungkin sudah tau gimana hectic-nya liburan saya untuk sekedar bikin kalung.
Hal menyenangkan lainnya adalah bikin beberapa kue sama kakak. Nyoba resep baru dan gagal, ada juga yang berhasil. It’s always be a good idea to spend the rest of holidays on kitchen, enjoy the process of making some foods, and learn soooo many things about cooking. Selain itu, saya juga lagi seneng main Soundcloud. Bikin akun, upload, nggak memuaskan karena suara saya memang jenis suara yang—kata Papa dulu—kayak kaleng kerupuk diseret, tapi tetep jadi hiburan tersendiri.
Yang paling menyenangkan dari liburan kali ini adalah karena saya berasa benar-benar keluar dari lingkungan kuliah. Saya bertemu teman-teman SMA, SMP, teman masa kecil saya, which is jarang banget ada waktu untuk ketemu. Setahun sekali aja rasanya susah. Maklum, sejak kuliah bisa dibilang beberapa dari kami  harus LDR, beda kota, bahkan beda provinsi. Tapi kali ini, semua rasanya ajaib. Dengan gampang dan nggak terlalu banyak rencana, kami melewatkan hari-hari penuh quality time. Mereka kayak keluarga, selalu seperti itu. Dan bisa kumpul sama mereka selama berhari-hari rasanya seperti ada di rumah sendiri.
And the last but not leasts, setelah mengirimkan beberapa cerpen dan gagal, akhirnya cerpen saya diterima Bom Cerpen sehingga saya resmi menjadi salah satu kontributor karya di situs bomcerpen.com. Selain itu, saya ikut lomba cerpen di Bom Cerpen. Alhamdulillah, cerpen saya lolos ke Tahap 2, menjadi salah satu dari 23 peserta yang karyanya terpilih setelah penyisihan Tahap 1 dari total sekitar 110 karya peserta yang terkumpul. Nah, untuk selanjutnya, cerpen saya butuh di-vote oleh para pembaca. Nantinya, 10 karya dengan vote terbanyak akan masuk ke Grand Final. Pemberian vote akan dibuka mulai tanggal 1 Maret 2013. I’ll remind you on my next post. So, hope you guys ready to give me a vote.
Dan besok sudah mulai kuliah, masuk semester 6. Makin dekat dengan semester 8 yang notabene sudah saya rencanakan untuk mengambil skripsi. Semoga rajinnya semester lalu bisa terus berlanjut, aamiin.
Jadi, nikmat yang manakah yang akan kau dustakan?

Senin, 31 Desember 2012

2012 In A Paragraph


Menulis postingan akhir tahun selalu asyik walaupun rasanya begitu ecek-ecek. Tapi yah, people need to review her past times to reach the better future. Still, I believe that experience is the best teacher. So, here I go, my last 2012 in a paragraph!
Saya bergabung dengan kegiatan ngeblog #30HariMenulisSuratCinta, #30HariLagukuBercerita, dan #30Hari90Cerita yang kesemuanya terselesaikan dengan baik dan benar. Saya berada dalam proyek kecil pembuatan blog MindTunes yang gagal total. Hahaa, tetap harus disyukuri, kan yang penting mencoba. Saya ngilangin KTP dan SIM sendiri sampai harus merepotkan orang lain untuk ngurus lagi. Setelah jadi, akhirnya ketemu. Jadi sekarang saya pegang 2 KTP dan 2 SIM. Cool, huh? Saya gabung dengan tiga kepanitiaan di kampus: PsychoCup 2012 untuk kegiatan olahraga tahunan, Student Day 2012 untuk pengaderan Mahasiswa Baru, dan Psychofest 2012 acara akhir tahun yang supercool. Saya dua kali menjalani operasi gigi geraham karena gigi saya mau dipasang pager sekitar bulan Juni. Hasilnya gigi saya makin berantakan. Yah, anggaplah ini bagian sebuah proses yang berujung pada keindahan tiada tara. Saya nonton Sheila On 7. Nggak terlalu puas karena terlalu crowded dan jarak pandang yang jauh. Ketemu orang baru yang berujung pada sama saja.
Jadi, daya ingat saya agak nggak bagus ya makanya susah inget-inget apa aja yang udah dilakuin tahun 2012. Justru yang paling saya ingat adalah waktu suatu malam saya bikin Mama saya kecewa berat sampe saya yakin Mama nyesel punya anak kayak saya. Tapi, manusia selalu punya kesempatan memperbaiki, kan selama ada waktu?
Dan, 2013. Semoga UAS lancar dan liburan bisa terpakai dengan maksimal. Semoga IP saya memuaskan karena semester lalu anjloknya bukan main. Semoga usaha kue kakak saya yang baru dimulai bisa berjalan lancar. Semoga nabung saya bisa maksimal biar cita-cita punya kamera Polaroid bisa tercapai. Semoga saya punya pacar. Semoga pernikahan teman berjalan tanpa cela. Dan semoga-semoga lainnya.
Oiya, sebentar lagi liburan. Kalau ada yang ngajak saya bikin proyek nulis atau ngeblog, saya antusias! :))
So, happy new year!

Sabtu, 22 Desember 2012

22 Desember




Ada sebuah foto yang membingkai saya dan Mama. diambil entah tanggal berapa, yang jelas di suatu siang sepulang dari acara wisuda SMA beberapa tahun lalu. Fotonya tak begitu jelas, tapi itu foto terbaru saya dengan Mama yang diambil asal-asalan. Mama tidak suka diajak berfoto. Saat itu, yang saya harapkan adalah, di sisi kanan saya ada Papa yang merangkul bahu saya, dan lengkaplah foto itu.
Tapi ternyata hidup tak sesederhana apa yang saya inginkan. Papa sudah meninggal sebelum menyaksikan kelulusan saya dari bangku SMA dan kelolosan saya memasuki Universitas Negeri favorit. Saya kehilangan ayah sekaligus sahabat yang setia mendampingi saya selama tujuh belas tahun. Dan di sanalah kemudian Mama menggandakan peran menjadi ibu sekaligus ayah untuk saya.
Kalau boleh jujur, saya dan papa adalah seperti dua mata uang yang saling rekat dan begitu satu. Sedangkan dengan Mama saya tidak begitu. Saya lupa, ke mana saja saya selama 17 tahun, seperti tidak mengenal sama sekali ibu saya. Yang saya tahu, kami hanya serumah dan melakukan aktivitas masing-masing. Tapi juga tidak pernah bertikai.
Begitu papa meninggal, berada satu rumah dengan Mama saja itu hal yang canggung. Kami seperti dua orang asing yang baru berkenalan.
Sudah hampir empat tahun kami menghabiskan waktu berdua saja, sekaligus tahun keempat kedekatan kami. Saya menyesal, mengapa saya begitu acuh dengan beliau. Saya menyesal begitu terlambat mengenali Mama saya sendiri, sedangkan saya tidak pernah tahu berapa lama lagi waktu yang bisa kami habiskan berdua.
Kami memiliki banyak kesamaan. Kami sama-sama pendiam, namun ketika ada bahan pembicaraan, kami bisa begitu meledak-ledak. Kami humoris, hal yang begitu-sangat-sepele-sekali bisa kami simpangkan menjadi sesuatu yang begitu lucu dan bodoh. Kami tak banyak peduli dengan orang lain, karena kami merasa tak perlu tercebur terlalu dalam ke dalam hidup orang lain. Kami jago memendam masalah, hingga suatu saat tangis bisa memecah begitu saja. Kami tak suka bepergian jauh tanpa keluarga karena satu pemikiran yang sama : ketika di jalan tiba-tiba kami harus tewas, maka itu adalah cara tewas yang sia-sia karena tak berada dekat dengan keluarga.
Tapi, seberapa banyakpun kesamaan kami, Mama tetap yang sempurna. Mama pengingat yang baik, melengkapi sifat pelupa saya yang begitu parah. Mama teliti, melengkapi saya yang ceroboh. Mama berwawasan luas dalam agama, melengkapi pengetahuan saya yang masih jauh dari Tuhan. Mama pandai berkomentar, melengkapi saya yang kurang bisa belajar dari kesalahan. Dan Mama adalah juga sosok ayah, melengkapi kebanggaan saya di balik kehilangan yang teramat dalam.
Kami tidak pernah bertengkar hebat. Pertengkaran kecil selalu hanya karena disponsori oleh mood yang sedang tidak cukup bagus. Namun setelah itu, sekecil apapun pertengkaran kami, saya selalu menangis dan menyesal. Mama itu harta saya yang terbesar, satu-satunya orang tua saya. Saya begitu takut membayangkan Mama menyusul papa sebelum saya bisa berbuat sesuatu yang berharga untuknya. Maka, di siniliah saya, sepakat bahwa bahagia itu bisa melihat Mama tertawa. Dan menjadi tugas saya untuk setiap waktu bisa menjaga ketenangan dan keceriaan Mama lewat doa dan kedekatan yang terus menerus saya sulam tiap harinya.
Sejak mengenal Mama, cita-cita saya berubah drastis. Saya yang awalnya ingin menjadi penjaga Taman Safari, pemilik toko mainan, penulis, koki, dan masih banyak lagi, konsisten untuk kemudian merombaknya menjadi : ibu rumah tangga. Lebih spesifik lagi, yang seperti Mama. Saya benar-benar ingin menjadi ibu rumah tangga seperti Mama, yang tanpa cacat. Yang setia mengurus suami dan tak pernah mengeluh lelah membesarkan anak-anaknya yang belum juga sanggup membuat beliau bangga. Itu bukan profesi sederhana. Menjadi ibu rumah tangga seperti Mama adalah profesi luar biasa yang urusannya dengan Tuhan, bukan sekedar dengan gaji bulanan atau orang-orang lain di balik kesuksesan. Adalah diri saya sendiri yang sanggup merubah saya menjadi seperti itu, seperti bagaimana Mama berjuang mati-matian menjadi seorang ibu.
Pada akhirnya, saya kehabisan kata. Mama terlalu sempurna sampai rasanya segala tulisan tentang Ibu terlalu remeh temeh kalau ditujukan untuknya. Karena beliau, lebih hebat dari tumpukan kata-kata yang disusun begitu rapi dan penuh cinta untuk mendeskripsikan seorang ‘Ibu’.

Jumat, 23 November 2012

XXI


Hari ini, saya resmi menyandang usia yang sama dengan merk bioskop, 21.
Oh, ini bukan postingan panjang-panjang, saya sudah ngantuk sekali. Tapi sebelum pukul 24.00, sebelum pergantian hari, dan sebelum birthday girl berubah menjadi gadis biasa yang tidak punya hari istimewa, saya harus segera menuntaskan segala keinginan dan review setahun ke belakang.
Saya merasa belajar banyak, sih. Tentang pertemanan, tentang keterikatan, tentang merasa bahagia, dan tentang-tentang yang lainnya. Tahun ini memang agak istimewa, saya lebih bisa mengontrol emosi (menurut saya, sih), saya juga lebih bisa mengontrol perasaan saya sendiri untuk tidak terlalu larut dalam masalah. Saya sudah tahu caranya bahagia. Intinya, usia 20 saya menyenangkan!
Lalu 21, yang tahun depan akan beranjak ke 22, lalu 23. Waktu tidak pernah mau diajak kompromi. Teman-teman mulai meributkan kesendirian saya, mulai mendoakan macam-macam, mulai ikut terlihat panik dan memotivasi habis-habisan. Maklum, menurut tugas perkembangan dewasa awal, usia ini sudah masuk pada tahap memikirkan hubungan yang serius, yang entah kapan datang waktu itu untuk saya. Seperti yang mereka doakan, semoga segera bertemu seseorang yang tepat di waktu yang tepat, atau yang biasa disingkat dengan jodoh, doa saya bertahun-tahun yang entah kapan dikabulkan.
Selain itu, saya lagi berusaha mengejar ketertinggalan saya di akademik. Harus. Harus habis-habisan. Saya nggak rela IP saya turun pelan-pelan dari semester ke semester.
Juga, as my mom wishes for me, saya mau lebih mandiri. Lebih lebih lebih lagi bisa bertanggung jawab untuk banyak hal yang menyangkut hidup saya. Lebih bisa menempatkan diri pada hal-hal yang penting dan tidak penting untuk dilakukan. And that’s what I exactly want from now on. Sebab, kecuekan saya sudah kebacut bikin Mama kecewa.
Dan terima kasih untuk ucapan, ciuman, dan nyanyian, dan pelukan-pelukan hari ini. Terima kasih untuk Caca, ponakan 4 tahun sekaligus mood booster saya yang menyapa pagi-pagi dari jauh “Halo Teput, kamu ulang tahun ya? Selamat ulang tahun, aku juga ulang tahun kemaren. Pulang ya, Put, besok beli kado bareng-bareng, patungan”. Terima kasih Paramita dan Amelia untuk kadonya. Terima kasih untuk Zaza, Fefe, Kamel, Cicin, Esteh, Tante, Cisma yang selalu ada. Terima kasih untuk Mbak Nod, Mbak Debo, Mas Alto, Mas Rico yang menemani gila malam-malam, closing yang menyenangkan.
Terima kasih Ya Allah, saya nggak bisa bayangkan kalau harus hidup tanpa Kamu.
Selamat malam, selamat datang tahun baru!

Senin, 15 Oktober 2012

Tidak Cukup


Saya kurang mengikuti perkembangan musik, memang. Apalagi live performance suatu band. Selain karena faktor spasial yang kurang memadahi untuk tahu arah dan jalan ke suatu tempat sehingga kurang memungkinkan untuk menyaksikan konser di tempat yang jauh dari jangkauan, saya juga jarang kekurangan informasi tentang acara gaul seperti itu. Tapi, jarang mengikuti bukan berarti tak pernah. Ketika saya berada di tengah padat penonton yang tengah menyaksikan pertunjukan musik band atau penyanyi solo terkenal, yang harus saya lakukan adalah menyaksikan aksi panggung mereka dan leloncatam di tengah dentuman musik, atau minimalnya saya harus bisa ikut menyanyikan lagu mereka.
Ini klise, memang. Tapi saya sebal sekali sama orang yang rela gerah menghadiri konser musik, tapi hanya puas menyaksikan dari layar. Saya sebal sama orang yang tak tahu lagunya tapi bisa mendapatkan posisi stategis di depan stage. Saya sebal sama orang yang tak meloncatkan badannya tinggi-tinggi ketika euforia untuk mereka mengekspresikan diri dengan cara seperti itu telah terfasilitasi.
Saya dan beberapa orang teman baru saja menyaksikan aksi panggung Sheila On 7, salah satu band favorit saya dari dulu. Kami terlambat dan kehabisan tempat jauh sebelum pertunjukan dimulai. Padat sekali. Riuh orang-orang berdiri dan menunggu. Teman-teman laki-laki saya mencarikan jalan untuk mendekati stage. Keringat bercucuran, pakaian kami basah. Saat Sheila On 7 telah menyanyikan beberapa lagupun kami masih mencari jalan sambil komat-kamit ikut menyanyikan lagu yang mereka bawakan, sampai akhirnya kami mentok hanya dapat menikmati dari layar di sisi kanan panggung.
Saya harus ke depan. Saya harus ke depan, begitu terus pikir saya. Tak akan sulit menerobos begitu banyak orang dengan keringat bercucuran demi menyaksikan sesuatu yang memang worth it. Maka saya maju sendiri, meninggalkan teman-teman saya di belakang. Saya tidak akan pulang dengan rasa puas hanya menyaksikan mereka dari layar. Saya pendek dam mata saya minus. Maka yang harus saya lakukan adalah memosisikan diri saya pada suatu spot untuk dapat menyaksikan aksi panggung mereka secara nyata.
Saya terus maju meski teman saya menarik bahu dan berkata "Cukup, jangan maju lagi". Tapi "cukup" itu belum benar-benar cukup untuk saya. Sampai, saya berhenti di balik punggung orang-orang asing yang sudah jauh dari teman-teman saya. Ini baru cukup. Saya bisa menyaksikan Sheila On 7 lebih dekat, bukan hanya dari layar. Tepat saat mereka membawakan lagu terakhir di Jatim Fair, Melompat Lebih Tinggi.
Iya, itu yang saya harapkan. Crowd di sekeliling saya begitu hidup. Mereka melompat tinggi tanpa takut terinjak, bergoyang mengikut tempo. Mereka melambaikan tangan ke atas, bebas. Mereka berteriak mengikuti lirik-lirik. Dan menjadi salah satu bagian dari bagaimana-konser-seharusnya pada lagu terakhir adalah seperti perwujudan sebuah doa. Akhir yang memuaskan.
As my Mom's ever said, "Kamu jadi orang jangan gampang menyerah", pada situasi sesepele sebuah konser musikpun saya tak mau menjadi ada di baris belakang dan menerima posisi saya apa adanya sejauh apa yang bisa saya tangkap. Dan seingat saya, saya selalu melakukannya pada setiap konser penyanyi favorit saya.
Ini kejadian yang begitu sepele. Tapi saya melihat bagaimana saya melakukan sebuah proses, pelajaran penting untuk saya di waktu-waktu yang akan datang. Saya manusia. Saya tidak pernah puas. Dan itu menuntun saya pada doa dan pengabulan harapan. Because, if you want it, just go straight for it. As simple as that.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com