Love Happens. Bercerita tentang seorang lelaki, Burke Ryan (Aaron Eckhart) yang berusaha membagi pengalaman kehilangannya ke dalam sebuah buku. Karyanya tersebut sukses besar sehingga Burke harus mendatangi berbagai macam seminar tentang membangkitkan motivasi bagi orang-orang yang merasakan kehilangan kerabat dekat atau bahkan keluarganya.
Burke yang semakin terkenal sebagai seorang motivator handal yang mampu membuat banyak orang melangkah maju ke masa depan dan tidak terpuruk lagi ke dalam masa lalunya itu, bertemu dengan seorang wanita penjual bunga. Pertemuannya dengan Eloise (Jennifer Aniston) tersebut menyadarkan Burke tentang betapa lamanya sebetulnya dia telah terjebak dalam masa lalu dan perasaan bersalah akibat kecelakaan yang menewaskan istrinya tiga tahun lalu. Selama itu Burke terus menghadapi masalah banyak orang dan membantu mereka untuk bangkit sementara jauh di dalam hatinya, hidupnya telah lama berantakan tanpa dia mampu membangunnya lagi.
Saya menangis waktu menonton film ini. Apalagi pada scene Burke menangis waktu memimpin seminarnya, menangis sambil mengakui betapa dia telah berdiri sebagai seorang munafik yang sebenarnya dia sendiri belum bisa mengatasi masa lalunya. Dia menceritakan kepada publik tentang satu hal yang tidak ditulis dalam bukunya: bahwa dialah yang mengendalikan mobil pada kecelakaan yang menewaskan istrinya tersebut. Burke dirundung perasaan bersalah yang luar biasa dan bertahun-tahun dia berusaha melakukan penyangkalan atas keterpurukannya.
Begitulah, bahkan sehebat apapun seseorang, dia pasti masih membutuhkan orang lain untuk menyelesaikan masalahnya. Itulah kenapa manusia disebut makhluk sosial. Saling membantu, saling memotivasi.
Dan untuk move on dari masa lalu sendiri merupakan hal yang mudah untuk ditanamkan kepada orang lain, tapi begitu sulit dilakukan untuk diri sendiri. Bayang-bayang masa lalu yang terus mengikuti kita pada setiap kejadian yang membuat kita teringat oleh masa lalu itu, pasti akan terus melangkah bersama hari-hari kita. Itulah kenapa, masih banyak orang yang merasa nyaman dengan rasa sakitnya terjebak dalam masa lalu daripada harus mengambil langkah untuk move on pada masa depan yang masih begitu absurd. Semacam takut dengan apa yang dihadapi di depan.
Overall film ini bagus dan layak untuk ditonton, untuk kalian yang ingin move on dengan mudah. Hadapi kenyataan dan lakukan perubahan.
“Saat kau dalam perjalanan, pikirkanlah satu hal. Ketika sesuatu berakhir, sesuatu yang lain dimulai” - Love Happens.
Seperti Tom yang berusaha merelakan Hannah untuk Colin dalam Made Of Honor, tapi pada akhirnya dia sadar bahwa perasaannya patut untuk diperjuangkan.
Seperti Alex dan Kate yang saling menunggu untuk keajaiban, menunggu satu sama lain untuk memastikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin dalam The Lake House.
Seperti Gabe yang diam-diam mengagumi Rosemary Telesco, cinta pertamanya. Berusaha mendapatkannya walaupun pada akhirnya mendapatkan penolakan dalam Little Manhattan.
Seperti Landon yang membantu Jamie mengabulkan keinginannya dalam A Walk To Remember. Mendampingi masa sulit akibat penyakitnya, hingga menikahi Jamie meskipun tahu umur Jamie tak lama lagi.
Seperti Denis yang memberanikan diri menyatakan cintanya pada Beth dalam pidato upacara wisuda demi perasaannya yang terpendam selama empat tahun dalam I Love You Beth Cooper.
Seperti Sophie dan Charlie yang bertemu dalam ketidaksengajaan dalam kisah Letters to Juliet.
Seperti Kate dan Nicholas yang bermelankolis dengan cita rasa masakan dalam No Reservations.
Seperti aku dan jodohku nanti, dalam versi asli kehidupanku.
Habis nonton fil Everybody’s Fine. Dan lagi-lagi, aku harus cengeng untuk film tentang keluarga.
Ya, Everybody’s Fine. Tentang seorang Ayah yang mengunjungi keempat anaknya yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Setelah kepergian istrinya delapan bulan yang lalu, dia hanya ingin berusaha menjadi Ayah yang baik, yang selalu tahu kabar anak-anaknya seperti yang selalu dilakukan istrinya dulu.
Menempuh perjalanan dari satu kota ke kota lain, dari satu Negara ke Negara lain, Frank—sang ayah—merasa kecewa dengan kehidupan anak-anaknya yang beranjak dewasa. Kecewa dengan David yang menghilang tanpa kabar, kecewa dengan Amy yang tidak harmonis dengan keluarganya, kecewa dengan Robert yang ternyata hanya bekerja sebagai seorang penabuh drum di perkusi, dan kecewa dengan Rosie karena merahasiakan sesuatu darinya. Terlebih lagi, Frank kecewa dengan kesibukan mereka yang tak bersahabat dengan keinginan Frank untuk tinggal di rumah mereka masing-masing untuk satu-dua hari. Dalam tempo waktu yang relative singkat, Fran harus menanggung lelah melakukan perjalanan panjang yang nyaris tanpa istirahat.
Dalam perjalanan pulang, Frank mengalami serangan jantung sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Ketiga anaknya bekumpul, kecuali David. Di sanalah Frank tahu bahwa ternyata David meninggal di Meksiko karena overdosis.
Kematian istrinya berdampak buruk bagi anak-anaknya. Ibu mereka adalah pendengar yang baik, sementara ayah mereka tidak. Frank selalu memandang keempat anaknya sebagai anak-anak yang masih kecil, yang perlu didikte segala cita-cita dan urusannya, sekalipun itu tak membuat anak-anaknya bahagia. Maka dari itu keempat anaknya tidak terbuka dengan Frank tentang apa-apa yang terjadi terhadap mereka. Mereka selalu terlihat baik-baik saja di depan Frank.
Frank sadar, betapa pentingnya mengutamakan kebahagiaan anak daripada menuntut mereka untuk menjadi apa yang dia inginkan.
Well, lagi-lagi aku harus nangis untuk sosok seorang Ayah. Ada beberapa scene yang menunjukkan betapa bangganya Frank terhadap anak-anaknya, betapa bangganya dia menceritakan dan memperlihatkan foto keluarganya di depan orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.
“Are you happy ?” pertanyaan itu selalu Frank ajukan kepada ketiga anaknya. See ? Sekeras dan sekaku apapun seorang ayah, dia hanya ingin memastikan apakah anak-anaknya bahagia.
And Frank, just like my father. Selalu sibuk mempersiapkan ini-itu kalau keluarga mau ngumpul, selalu menghubungi anak-anaknya setiap saat, selalu berusaha kuat walaupun sendirinya sedang sakit, dan selalu membanggakan anak-anaknya di depan orang lain semengecewakan apapun anak-anaknya. Dan yang paling aku suka adalah bagian terakhir itu. Semarah apapun Papa di depan kita, di sisi lain dia bisa memaafkan, dia masih menyimpan hal terbesar dan membanggakan dari kita untuk bisa dibagi dengan orang lain. Agar mereka tahu betapa bangganya dia punya anak seperti kita. Dan itu kebanggaan yang tulus.
Aku nggak cukup yakin apa aku berhasil bikin Papa bangga. Seenggaknya, sejauh yang dia tahu, aku sudah menjadi seseorang yang lebih baik dari kedua anaknya yang lain. Aku tau itu belum cukup, belum cukup sampai aku bisa jadi wanita karier seperti yang dia mau di beberapa minggu terakhir hidupnya. “Kamu harus jadi wanita karier, jangan cuma jadi ibu rumah tangga”.
Waktu itu aku bilang “Oke”. But surely, now I think that being a housewife is a perfect job !
Oke, film yang bagus untuk bikin aku kangen Papa.
Satu lagi, apa Papa tau ya kalau aku kangen berat sama telepon dari Papa cuma untuk memastikan aku lagi di mana, pulang jam berapa. Mungkin dulu aku malu harus di-overprotective-in kayak gitu. Tapi hari ini, pemikiran itu adalah pemikiran yang aku sesali. Mendapat telepon dari Ayah yang selalu mencemaskanmu adalah hal yang sangat sangat sangat hebat dan menyenangkan.
Have a nice day, Pa. And so do I (without you, exactly)…