Jumat, 28 Februari 2014

Perjalanan Panjang

Di kereta. Gadis kecil melongokkan kepalanya menatap jendela lebih dekat, mencoba mengukur jarak antara siang dengan malam melalui seberapa jauh perjalanan telah membawanya. Derit-derit besi rel yang bergesek dengan roda-roda kereta sehingga menciptakan panas, adalah bunyi yang disukainya melebihi alunan Nina Bobo orang tua.
Ibu tidur nyenyak. Bapak membaca koran sambil terkantuk-kantuk. Adzan Magrib sepertinya masih tersisa dari beberapa Masjid yang bersahutan, lirih dan jauh, dikumandangkan tak bersamaan. Ia tak tahu betul ke mana kereta akan pergi dan membawa ketiganya berhenti. Bapak dan Ibu telah berkemas sejak malam lalu, membawa dua tas besar yang dijinjing oleh keduanya. Menuju stasiun, ia berlarian kecil menyamakan langkah orang tuanya yang enggan menggendong karena tangan kanan sama-sama memikul beban barang bawaan. Ikatan rambutnya terayun-ayun, kedua ujung jaket tipis yang resletingnya masih terbuka ikut berlompatan seiring dengan lariannya.
Jalan-jalan, hanya itu yang dipikirkannya. Apa masih bisa disebut jalan-jalan kalau kita naik kereta api, bukan jalan kaki? Pikiran itu kadang hinggap, kadang pergi dari benaknya. Tapi, yang penting jalan-jalan, meski hanya duduk di kereta. Dari siang hingga hampir malam. Tak kunjung sampai, tetapi tak kunjung lelah pula ia menatap garis-garis pohon yang berlalu begitu saja. Tak bisa ia menentukan, siapa yang sedang berlari kencang: kereta api, atau dunia di luar sana. Keduanya seolah bergerak dan menciptakan bayang-bayang yang berlalunya sangat cepat.
Pluk! Koran terjatuh dari tangan Bapak. Rupanya mata Bapak telah terpejam. Ibu tidur nyenyak, disusul oleh Bapak. Sedangkan kantuk tak juga mau hinggap di kedua kelopaknya. Ada sensasi getar dengan bunyi gemericik di dalam perutnya. Sebungkus lemper yang dibeli Ibu dari penjaja keliling sebelum kereta bergerak maju, belum cukup mengenyangkannya. Lapar yang tak terduga, sementara ia tak melihat Ibu membawa sesuatu lain yang bisa dimakan sedari tadi.
Berdiam di samping jendela sambil merasakan sensasi getaran kereta api merambati kepalanya yang sedang bersandar, barangkali, gadis kecil mulai menyukai sekaligus membenci perjalanan kali ini. Menahan lapar, menunggu kantuk datang. Sebelum tiba.
Jauh, sebelum tiba.  


2 komentar:

begawan dorna mengatakan...

:) mari bersulang mbak!

Putripus mengatakan...

Agustus ya Yid!

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com