Senin, 29 Agustus 2011

Happy Ied And September


Besok Lebaran. Hahaa, nggak tau ding yang lain jadi gimana. Pemerintah emang ngumumin kalo Lebaran jatuh hari Rabu, di siding Isbat. Tapi yaa, kan Islam di Indonesia emang beda-beda pendapat gitu. Alhamdulillah, saya ikut yang hari Selasa besok ini. Agak jayus sih emang, soalnya nggak ada takbiran sama sekali di sini. Tapi rata-rata besok juga sih Lebarannya di daerah rumah saya. Yaah, nggak ada takbiran mungkin menghormati yang besok masih puasa :)
Ini tadi saya sama Mama udah sibuk banget beres-beres rumah, masak besar buat besok malem karena kakak-kakak udah pada ngumpul di rumah. Terus juga nyekar ke makam Papa, kesorean sih,nyampe rumah udah Magrib. Belum siap takjil apapun tadi, akhirnya cuma buka pake teh panas. Closing Ramadhan yang mengharukan.
Rencana mudik tetep hari Rabu juga. Beneran nggak sabaran ke Kutoarjo. Tahun lalu nggak mudik sih, kangen suasananya. Ini tadi Budhe juga udah nelepon, udah dimasakin ayam panggang. Sekedar informasi sih, ayam panggang resep keluarganya Papa itu enak banget-nget-nget, nggak ada yang kayak gitu di rumah makan manapun. Asli. Makanya ayam panggang itu jadi makanan khas kalau Lebaran di rumah keluarga Papa. Yang nggak enak adalah kalau cabenya kebanyakan. Maklum, saya nggak doyan pedes.
Nah berhubung besok pasti bakalan sibuk packing dan nyetrika baju yang masih numpuk padahal udah dicicil, pasti besok terlalu rempong untuk sekedar posting blog. Rabu juga berangkat jam 5 pagi (kebangetan). Makanya sekarang aja saya mau ngucapin Minal aidzin wal fa’idzin, mohon maaf lahir batin kalau saya sekeluarga ada salah baik yang sengaja atau nggak. Buat yang besok masih puasa, selamat berpuasa.
Oiya, berhubung mudik tiga hari nggak bawa laptop juga, keinginan di bulan September saya posting di sini sekalian aja mungkin ya. Saya berharap, September nanti semua galau saya hilang dengan cara apapun. Itu aja. Berhenti banyak berharap dan memberhentikan beberapa khayalan yang sering bikin galau akhir-akhir ini. Sederhana, kan ?
Jadi, semoga mudiknya lancar, semua salah saya termaafkan, semua galau saya dihilangkan, dan semoga mudiknya menyenangkan. Happy Ied and September, everybody !

Minggu, 28 Agustus 2011

September


source : click here

September itu sendiri. Menunggu di bawah pohon jambu. Bercelana pendek warna khaki. Menghitung bulir-bulir keringat dari dahi hingga leher yang dijatuhkannya satu per satu ke atas tanah, menjadikannya basah.
Sebenarnya, September sudah mau pulang. Ibu memanggil-manggil namanya dari tadi. Mungkin makanan sudah siap, terhidang hangat di balik tudung meja makan. Atau Ibu menyuruhnya mandi dan membersihkan diri karena senja sudah mulai merayap.
Tapi September masih betah duduk di bawah pohon jambu, hampir terlelap. Tubuhnya bau matahari, bau kering yang khas.
September itu, sendiri. Menunggu Desember yang tidak menunggunya. Desember terlalu jauh, duduk di suatu tempat di belahan lain dunia September. Sedang asyik merapatkan jemarinya, menadah hujan. Tanpa ada September di lintas pikirannya.
Ada yang mengisyaratkan September harus berhenti, namun ia enggan.
September tertidur, sampai larut malam. Sendirian.

Sabtu, 27 Agustus 2011

Bubers DUITers












I don't know why, I just love them all, perfect classmates ever :)


Rebahan

Hai Papa :)
Hari ini capek banget, Pa. Menjelang lebaran, aku sama Mama kejar jadwal bikin kue kering, nastar sama keju. Yang bikin capek itu pas bikin nastar, akhirnya karena udah nggak betah, kita bagi tugas. Aku yang bikin kue keju, Mama yang bikin nastar. Alhamdulillah dua-duanya enak. Mmm lebih tepatnya Alhamdulillah baru kali ini aku berhasil bikin kue, apalagi kue lebaran, kunci dari suksesnya menjamu tamu di rumah waktu lebaran. Maklum, aku selalu gagal kalau masak. Kalau Papa di sini pasti seneng deh liat aku masak. Pasti. Papa nggak pernah nggak muji kalau liat aku lagi masak.
Mendadak pengen ngobrol banyaaaaaaaaaakkk sama Papa. Minggu lalu mimpi banyak tentang Papa. Nggak ada yang bagus mimpinya. Biasa semua.
Oiya, Papa udah ketemu Pakde Harsono di sana ? Beberapa hari yang lalu beliau nyusul Papa. Kaget sih, mendadak banget. Aku yakin nggak ada yang siap kalau ditinggal dengan cara yang instan seperti itu. Tapi ya, takdir.
Hari ini, nggak tau kenapa ya, Pa. Rasanya aku belajar banyak. Tentang rebahan. Merebahkan masalah. Nggak seharusnya aku bawa masalah ke mana-mana di atas pundakku. Ini titik capekku, dan sialnya kenapa baru sekarang aku sadar kalau masalah itu nggak selalu harus kita hadapi. Aku mau lari, Pa. Dihadapi pun nggak ada jalan keluarnya. Ini jalan terakhir, aku yakin Allah mau aku lari. Jalanku masih panjang. Masih banyak yang harus aku tengok. Iya, kan, Pa ? Ini Cuma bagian kecil yang harus aku acuhkan. Masalah ini nggak ada apa-apanya, nggak ada beratnya sama sekali. Mungkin selama ini aku aja yang bikin semuanya jadi berat. Hari ini—setelah aku belajar untuk lari—aku lega.
Jadi, beberapa hari lagi akan jadi lebaran ketiga tanpa Papa. Jujur, aku nggak mau cepat-cepat. Ramadhan dulu yang lama, nggak masalah. Karena berita buruknya, lebaran kali ini bener-bener cuma ada aku sama Mama. Para kakak harus ke kota suami masing-masing dari hari H lebaran.
Semoga tahun ini—walaupun cuma berlebaran berdua—nggak ada sesi nangis. Amin.
Tenang di sana ya, Pa.
Putri.


Kamis, 25 Agustus 2011

00:34 AM


Nggak ada yang bisa diajak ngobrol di saat kamu mau bicara banyak adalah hal yang sama busuknya dengan tenkunci di kamar penuh bangkai. Saya nggak terkunci di kamar penuh bangkai, tapi pikiran saya yang disumbat sedemikian rupa akan jadi bangkai lama-lama.

Senin, 22 Agustus 2011

Muak


Sebenarnya saya benci untuk berhenti. Maunya, saya jalan terus sampai benar-benar capek. Bahkan kalau kaki-kaki saya putus pun saya masih mau untuk tetap berjalan, karena mereka susah payah membuat jalan yang begitu panjang dan tak pernah mau sia-sia menjadikannya kosong begitu saja. Itu saja, saya mau jalan di jalan saya ini sebenarnya.
Tapi bahkan saya berhenti sebelum saya merasa capek, sebelum kaki-kaki saya putus. Saya berhenti begitu saja. Hanya ingin memastikan kalau otak saya masih bekerja dengan begitu baik. Saya mau realistis. Ada banyak hal yang saya palsukan, bahkan mungkin identitas saya palsu, jenis kelamin saya palsu, kepribadian saya palsu.
Random ya. Niatnya ini juga cuma mau nyampah, jadi sampah. Waktu kemarin malam Azam bilang ke saya, “Ditunggu aja dulu, Pus”. ‘Dulu’ itu mungkin kata yang tidak tepat sementara saya sudah menunggu sangat lama. Ibaratnya mungkin, dengan kegiatan menunggu yang selama ini betah saya lakukan, secara tidak langsung saya membuang begitu banyak waktu hanya untuk menutup mata dari hal-hal yang lebih nyata. Itulah kenapa saya selalu benci didukung untuk hal-hal seperti ini, karena saya cuma mau memikirkan kemungkinan terburuk supaya saya tidak berkespektasi terlalu tinggi sekalipun banyak orang bilang bahwa bermimpi itu penting karena suatu saat mimpi kita bisa menjadi nyata. Saya, tidak percaya.
Labil ya, baru beberapa hari lalu memantabkan diri untuk menunggu saja, tapi kemudian berhenti.
Saya cuma… takut. Takut kalau yang saya tunggu tidak datang. Saya pernah menunggu selama dua tahun dan rasanya cukup melelahkan. Saya cuma tidak mau mengulangi kesalahan yang sama untuk orang lain.
Bahkan ketika semalam saya mimpi kamu lagi—bahwa kamu mengatakan saya istimewa dan memperkanalkan saya di depan teman-temanmu—saya bangun dan merasa tidak ingin tidur lagi. Muak sudah.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com