Minggu, 10 April 2011

Pesan Singkat Hujan



Tangan-tangan kita membentuk mangkuk-mangkuk, menadah air hujan seperti sedang kebanjiran koin-koin emas. Kita bersuka cita, terjebak hujan di bawah satu atap teras kelas masa SMA. Lalu kamu katakan, “Aku suka hujan” dengan senyum manismu yang menggantung itu.
Kepalaku mendongak ke atas. Matahari menyembul malu-malu di balik awan gelap. Ada sedikit cahaya terang yang dia bagikan untuk hujan hari ini. Aku melamun terlalu lama. Memori tentangmu dan masa-masa lawas kita bersama semakin menjebakku, melarutkanku ke dalam lubuk kesedihan bernama kenyataan. Kenyataan bahwa ini adalah bulan ke tujuh kita berpisah sekaligus bulan ketiga kamu berstatus milik orang. Berpacaran dengan seseorang yang bukan aku.
Aku benci ini. Benci kalau harus menikmati hujan yang semakin menjadi di bulan Desember ini sendirian. Bau tanah waktu hujan, tetesan-tetesan air hujan dari atap, lubang-lubang jalan beraspal yang terisi air cokelat bercampur pasir, hijau-hijau rumput yang membentang terangguk-angguk oleh guyuran hujan. Semua itu tentang kamu. Semuanya yang kusaksikan saat hujan adalah duka yang terdalam. Rindu yang membuncah.
Menu.
Message.
Write New.
Text Message.
Hei, lagi hujan nih, kesukaan kamu..
Send to
Dinda
Send.
Message Delivered.
***
Aku harus sadar. Semuanya menjadi semakin sulit ketika aku tidak bisa memosisikan diriku dengan baik di sini. Aku sudah berusaha menata sebaik mungkin hubungan kita yang masih berjalan dalam hitungan bulan ini, tapi tidak hatiku. Hatiku masih begitu berantakan.
Kamu bukan pria ojek payung yang bisa diandalkan untuk selalu menawarkan perlindungan saat hujan mengguyurku deras-deras, juga bukan teman bermain hujan yang bisa diajak berbagi tawa melalui cipratan-cipratan air. Kamu pria rapi yang sedang sangat supersibuk di suatu tempat. Itu saja. Karena itulah kamu tidak bisa membuatku benar-benar jatuh cinta dengan keberadaanmu. Kita berada dalam ribuan mil jarak yang jauh.
Membuat segalanya menjadi mudah itu sulit. Terutama saat kamu harus berjuang menghilangkan bayang-bayang masa lalu dari ingatanku. Dia itu masa lalu. Tapi masih bertengger begitu lekat, mencengkeram kuat perasaanku untuk tidak perlu bersusah payah move on dan berlabuh ke pelukan orang lain. Aku seperti dikutuk masa laluku. Dia yang terbaik. Sehebat apapun kamu berusaha mati-matian mendapatkanku, masih dia yang terbaik karena mempertahankan itu lebih sulit daripada sekedar mendapatkan.
Aku mendengus pelan. Mengeluarkan semua perasaan capek bersama hembusan nafasku.
Reply.
Iya Ngga, kangen banget.. Kapan ya bisa hujan2an lagi ? =)
Send to
Rangga
Send.
Message Delivered.

Jumat, 08 April 2011

Diamlah

Diam itu emas.

Kalau kamu mau kaya, diamlah di pojokan dan pungutlah bubuk-bubuk emas yang jatuh dari dasar diammu.

Jangan biarkan orang lain tahu hartamu.

Diamlah, agar kamu cepat kaya.

Jangan mencaci, jangan banyak memaki.

Minggu, 03 April 2011

Pelarian


source : google



Saya suka berlari sejauh mungkin. Merasakan sendi-sendi di pergelangan kaki saya nyaris seperti mau patah. Atau hingga angkel-engkel antartulang rasanya mau lepas terpisah. Berlari itu menyenangkan walaupun saya tidak melakukannya untuk perlombaan.

Jarak tempuh lari terjauh saya, hmm, entahlah berapa meter. Apa mungkin ada mistar yang begitu panjang hingga dapat mengukur seberapa jauh saya berlari dari sebuah realitas kehidupan saya ? Tidak. Belum ada, tepatnya.

Lari dari kenyataan itu rasanya seperti duduk berjam-jam menikmati semua makanan kesukaanmu di sebuah food court. Kekenyangan sampai rasanya untuk sekedar mengucapkan satu kata saja sudah tak kuat, hampir muntah dan menangis saking kenyangnya. Kamu bisa merasakan kelelahan dan kelegaan di saat bersamaan. Tapi beberapa jam lagi, kamu akan merasa lapar lagi. Dan rasa lapar itu, anggap saja seperti semua masalah yang mengaduk-aduk perutmu. Seperti kenyataan, ditinggal sebentar, ternyata tetap mengekor di belakangmu.

Itu namanya pelarian. Kamu berlari meninggalkan apa yang tidak kamu suka. Menikmati hal-hal baru untuk menutupi masalahmu yang sudah terjahit rapi. Kamu tidak mengobatinya, hanya meninggalkannya. Sedangkan kamu sangat tahu bahwa meninggalkannya begitu saja tidak menjadi sebuah jaminan masalahmu itu akan sembuh.

Dan ketika saya memutuskan untuk berlari, tanpa saya sadari, di satu titik saya juga butuh berhenti. Karena pada titik saya berhenti itu, artinya saya sudah siap berbaik hati dengan masalah. Artinya saya ingin menghadapinya saja, daripada harus terus berlari dengan keringat dan air mata di mana-mana, dengan kesenangan yang hanya menjadi pelarian dari masalah yang teralalu lama ditinggalkan sendirian.

Semuanya, pada akhirnya harus berhenti dari sebuah pelarian. Menerima, menghadapi. Mungkin seperti istirahat. Lalu terserah saja, melanjutkan lagi, atau berhenti total tapi membuka jalur baru untuk berjalan bergandengan tangan dengan hidupmu dan semua masalah yang ada di dalamnya. Terserah…

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com