Jumat, 11 Juli 2014

Mencari Tuhan

“Seperti kalau kita mendengarkan radio. Tak perlu kita berada di dekat menara pemancarnya untuk bisa mendengarkan lagu-lagu. Dari jarak yang sekian mil jauhnya pun kita masih bisa ikut berdendang. Meskipun begitu, kita sama-sama tahu bahwa Tuhan tidak bisa kita setarakan dengan hal tersebut, sebab Ia melebihi apapun”, begitu Bapak mengakhiri pembicaraannya. Mengemas perumpamaan tentang berkah Tuhan yang ada di mana-mana tanpa kita harus menjemputnya ke langit ketujuh.
Semua orang khusyuk terdiam menundukkan kepala.
“Sekian ceramah singkat dari Bapak Hasanudin. Satu jam lagi memasuki waktu Duhur. Sambil menunggu, kalian dipersilakan mengambil jatah makan siang yang telah disiapkan di ruangan masing-masing”, begitu Bapak-Bapak tambun yang berlaku sebagai moderator mengakhiri acara Setengah Jam Kesemutan bersama Bapak Hasanudin. Wajah-wajah lega terdongak, terjawab sudah apa yang membuat mereka terdiam khusyuk menundukkan kepala. Tak sedang berdoa, tak pula sedang menyesali apa-apa. Hanya kelaparan.
Kami semua berdiri meluruskan kaki, lalu melangkah ke ruangan.
“Aku jadi kangen sama rumah Mami Zenab. Kayaknya Tuhan juga ada di situ,” Pak Warsito, menggaruk-garuk pusarnya sambil mengeluarkan bau jigong busuk dari mulutnya. Belum pernah aku melihat gigi-giginya jauh dari noda kuning kehijauan. Giginya berlumut.
“Siapa Mami Zenab?” Pak Husen menimpali, sama dengan pertanyaanku dalam hati.
Setengah berbisik, Pak Warsito mendekatkan mulutnya ke telinga kami, “Halah, Mami-Mami di rumah akuarium.” Bau menyengat tercium semakin dahsyat. 
“Masa’ Tuhan ada di sana?” Pak Husen tak percaya. Memang Pak Warsito suka mengada-ada. Kurasa, Mami Zenab dan rumah akuarium pun hanya karangannya saja, agar ia terlihat pernah gagah.
Lha wong di sana ada gantungan lafadz Allah walaupun debunya setebal dakimu, Sen!”
“Hahaha sialan kamu War! Terus, sudah ketemu sama Tuhan?”
“Sudah, tiap malem. Tuhan berubah-ubah wujud jadi cewek-cewek cantik yang tidur sama aku,” kedua tangan Pak Warsito memeragakan lekuk tubuh a la gitar Spanyol.
“Hus, gundulmu!” Pak Husen mencibir Pak Warsito. Pemilihan kata yang pas, sebab kemarau memang sedang melanda kepala beliau. “Tuhan itu Maha Suci, ndak kayak kamu!”
“Hahahaha, apalagi kamu, Sen! Gimana menurut kamu, Ndik? Kamu setuju sama aku dan bapakmu, bahwa Tuhan ada di mana-mana?”
Namaku turut diseretnya dalam diskusi-sambil-berjalan ini. Sebenarnya aku berjalan lurus-lurus saja dari tadi, tak ikut tertawa, bahkan tak memperlihatkan minatku pada pembicaraan mereka. Cukup menjadi pendengar pasif, sebab aku tak suka dimintai pendapat mengenai bapakku yang menguasai semua dalil dan hadist.
Jika boleh menduga dan tak menyebabkan dosa, dengan berani aku akan menjawab, “Tuhan ada di mana-mana, tapi tidak di sini. Bapak pasti sedang salah. Ulama juga manusia.” Tetapi bagaimanapun, meragukan keberadaan Tuhan bukan hal yang pantas kulakukan mengingat aku adalah anak seorang Hasanudin, ulama kondang yang telah menggetarkan hati ribuan orang dengan ceramah-ceramah agamanya.
“Tapi aku pernah ketemu Tuhan, sekali”
“Oya? Keluar dari botol minum bekas yang kamu gosok-gosok?”
“Hus, sembarangan!” “Aku ketemu Tuhan lewat doa yang Dia kabulkan. Waktu istriku sempat koma setelah melahirkan, aku berdoa supaya Tuhan ngasih istriku kesembuhan. Terus, sim salabim, istriku lewat masa komanya”
“Cuma gitu?”
“Iya War, Cuma gitu. Tapi sekian detik rasanya kayak kita berdua sedang dipeluk Tuhan. Baru kali itu aku nangis sesenggukan saking senengnya”
“Sekarang masih bisa seneng? Nggak nyesel sudah doain istrimu? Kan dia yang bikin kamu masuk sel begini”
“Ya, agak, sih”
Tawa Pak Warsito bergelegar. Tawanya ada di mana-mana, melebihi keberadaan Tuhan.
“Sebenernya ya, aku setuju sama omongan bapakmu, Ndik. Tuhan itu ada di mana-mana. Kita-kita saja yang lagi sibuk menjauhkan diri dari Tuhan” Pak Husen yang selalu terlihat biasa dan tak aneh-aneh, mulai menambah panjang arah bicaranya. “Pernah kan, Ndik doamu dikabulkan?”
Aku mencoba mengingat-ingat. Pernah sekali.
Dua kali.
Tiga.
Empat.
Dua puluh kali.
Lebih. Sampai aku ingin meminjam tangan-tangan Pak Husen dan Pak Warsito untuk membantuku menghitung.
“Kok diam, Ndik? Sudah pernah?”
Aku mengangguk kecil. Ragu, tapi tak juga bisa menyangkal.
“Berdoa lagi yang banyak, Ndik. Kasusmu bukan kasus berat kayak kita-kita yang sudah pernah membunuh istri sendiri. Usiamu masih panjang ya, Ndik. Tuhan pasti tahu kamu butuh kesempatan kedua. Orang kayak bapakmu pasti sebetulnya bangga punya anak yang mau melakukan sesuatu demi nyelamatkan bapaknya, meskipun hampir menghabisi nyawa orang”
Berdoa lagi yang banyak.
Berdoa lagi yang banyak.
Adzan Duhur berkumandang sebelum kami sempat menyantap makan siang kami di penjara. Kudengar, panggilan untuk bertemu Tuhan menggema di mana-mana. Menembus jeruji-jeruji besi. Menembus kulitku hingga bulu kuduk berdiri. Tuhan mengabulkan doa yang kupanjatkan selama Bapak ceramah tadi,  “Jika Kau ada, buat aku merasa. Buat aku yakin kalau Kau selalu ada”

2 komentar:

Ayu Welirang mengatakan...

apik mbak... :)

I M mengatakan...

suka isi ceritanya!

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com