Rabu, 04 Februari 2015

Teman Bicara-mu Sehari-Hari


Hi, there!
Beberapa hari ini saya lagi riweh dan nggak menulis banyak. Bahkan niatan untuk ikut seleksi Ubud Writer-Reader Festival juga urung karena buntu habis-habisan dan merasa nggak pantas kalau hanya mengirim cerpen-cerpen lama, sementara di luar sana saya yakin ada banyak pesaing yang mengerahkan segala tenaga mereka untuk menciptakan karya yang baru. Saya, tiba-tiba merasa belum pantas ikut event sebesar itu.
Yang membuat saya riweh adalah, saya sedang mulai berjualan. Jualan notebook sambil mengisi waktu luang menunggu panggilan kerja setelah melamar di beberapa tempat. Karena saya memang hobi bikin-bikin sesuatu dan lagi getol bikin notebook, maka saya beranikan diri untuk mengomersilkannya menjadi lahan usaha. Tentu, setelah setahun menjalani trial and error dan akhirnya cukup puas dengan hasilnya yang rapi dan tentunya beda dari notebook yang kebanyakan dijual.
Menurut penelitian Pennebaker tentang expressive writing, menulis memiliki efek teraputik yang dapat meningkatkan kesehatan psikis maupun fisik. Sebab, menulis merupakan strategi coping stress yang baik ketika seseorang mengalami masalah namun enggan menceritakannya kepada orang lain. Untuk itulah aya mengusung nama Teman Bicara. Saya berpikir mengapa orang-orang kini terlalu banyak mengabadikan momennya melalui gadget? Mengapa tak kembali melestarikan tulisan tangan sendiri dan mengakrabkannya kembali dengan pena dan kertas? Itulah jawaban mengapa saya memilih notebook sebagai produk yang saya jual. Lantas, apa yang beda?



Saya punya keyakinan yang kuat bahwa don’t judge a book by its cover adalah pepatah yang sia-sia. Kita tidak akan membeli buku dengan sampul yang tak menarik. Kita tak akan membeli novel jika sinopsis dan desain sampulnya tidak terlalu mendorong hasrat kita untuk membeli. Maka, membuat notebook dengan tampilan sampul yang menarik adalah hal yang saya unggulkan di Teman Bicara. Handmade fabric hardcover notebook, begitu saya menyebutnya. Semua dari kain dengan desain yang menarik, tak pasaran, dan cukup elegan untuk dibawa kemana-mana meskipun itu hanya sebuah buku. Beberapa yang sudah melihat hasilnya dan tertarik untuk membeli berpendapat bahwa mereka cukup puas dengan yang saya kerjakan, karena tidak ditemukan di online shop atau toko-toko buku lain. Selain itu, tak main-main, saya mengerjakannya dengan sangat rapi sehingga buku yang saya jual cukup awet dan tahan lama ketika digunakan. Ditambah lagi, pengaplikasian hardcover membuat notebook Teman Bicara tak perlu mengalami lecek dan kusut ketika bertabrakan dengan benda lain di dalam tas.
Ukuran buku ini A6, cukup kecil karena saya yakin di tahun semodern ini orang-orang menyukai sesuatu yang praktis. Dengan 150 lembar kertas polos di dalamnya, notebook ini tak akan cepat habis ketika digunakan. Beberapa bertanya, mengapa kertas polos? Karena menurut saya, dengan kertas yang polos kita bisa menggambar atau menulis dengan ukuran berapapun tanpa perlu terhantam oleh batas-batas garis. Boleh saja kalau kalian anggap saya mengusung tema kebebasan di dalam buku saya.  





Terakhir, buku-buku yang saya jual saat ini kisaran harganya cukup di IDR 37.5k hingga IDR 55k. Menurut saya, itu adalah harga yang terjangkau dan sangat worth it untuk dilalui dengan membeli buku Teman Bicara, mengingat segala proses pembuatan buku melibatkan waktu, tenaga, ide, serta dilakukan secara handmade tanpa bantuan software atau hardware apapun.
Kurang detail apa ulasan saya tentang barang dagangan saya sendiri? Boleh ditanyakan lagi melalui ID Line Pupusss atau kontak saya via Whatsapp di 083831873636. Semua contoh, detail, dan harga buku yang ditawarkan oleh Teman Bicara bisa ditengok di akun instagram @temanbicara.nb atau www.instagram.com/temanbicara.nb. Selamat menelusur, saya siap menjadi Teman Bicara-mu sehari-hari!

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Asik sekali tujuannya. :)

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com