Rabu, 15 Juni 2016

Keberartian

Suatu hari, saya ada mimpi waktu tidur malam. Mimpi Ibu saya meninggal. Luka yang sama, rasa kaget yang sama. Rasanya seperti berdiri di ambang lelap dan terjaga, saya menangis sesenggukan. Rasanya seperti ada sesuatu yang tiba-tiba direnggut ketika semuanya sedang baik-baik saja. Mimpi yang sakitnya terasa nyata.
Kejadiannya, saya lupa kapan. Tapi mimpi itu cukup mengubah perspektif saya sampai hari ini, tentang kematian dan apa yang penting dalam hidup.
Betapa kita semua dekat—atau setidaknya, semakin dekat—dengan kematian. Tak perlu menunggu tua untuk sampai pada kematian, pun tak perlu menunggu sakit parah. Bagaimanapun, jika mau dibilang takdir, ya namanya juga takdir, setidak peduli apapun kita akan sampai pada saatnya. Tapi, apa mau sampai begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang berbeda?
Beberapa kali saya melihat kematian-kematian yang dipenuhi tangisan dan kenangan yang baik-baik. Saya bukan orang yang ahli ibadah, dan beruntungnya pernah mendengar seseorang yang pandai ibadah berkata, “Kalau ibadahmu pas-pasan, bikin pondasi yang kuat dari hubunganmu dengan manusia lain”. Terlepas dari benar tidaknya, saya lumayan setuju, walaupun pendapat ini masih bersifat duniawi.
Lalu timbul pertanyaan sederhana, tetapi cukup ngeri juga karena sebelumnya tak terlalu peduli dengan pertanyaan semacam ini: Kalau saya sampai pada saatnya, apa yang bisa dikenang dari saya? Apa saya layak dikenang sebagai seseorang yang baik?
Saya bukan orang yang pandai dan terlalu bermanfaat juga untuk orang lain. Saya tidak melakukan perkembangan apapun, improvisasi apapun untuk menguntungkan lingkungan saya. Saya bukan orang yang mudah basa-basi dan bergaul dengan orang lain. Saya bukan orang yang hangat. Kesemua itu, membuat saya tak terlalu percaya diri bahwa nantinya saya bisa menjadi orang yang layak dikenang.
Saya terus fokus pada pertanyaan itu. Apa yang bisa dikenang dari saya?
So, this is what happened to me in these past few weeks: doing the best of myself to make everyone’s happy when I was around. Setiap orang pasti memiliki potensi untuk membahagiakan orang lain dengan caranya masing-masing. Saya tidak berharap yang ketinggian, dengan cara sesederhana membuat orang-orang di sekitar saya bahagialah saya ingin dikenang sebagai seseorang yang baik dan pernah memampirkan bahagia selama ada di sekeliling mereka. Sambil selalu berpikir, bahwa ini yang terakhir. Saya jadi ingat ketika saya masih ada di alunan masa-masa Sekolah Dasar, seorang guru pernah berkata dengan begitu fasihnya,  melafalkan dengan hati, bahwa kita harus melakukan segala sesuatu dengan baik seolah itu adalah kesempatan terakhir kita melakukannya.
Karena itu pula belakangan ini saya lebih sensitif, dalam arti yang baik. Saya begitu berhati-hati dan tidak ingin melukai orang lain. Karena, siapa tahu, kapanpun bisa menjadi saat terakhir kita untuk berinteraksi dengan orang tersebut. Entah dia atau kita yang mendahului. Menanam luka jangan terlalu lama. Karena kita tidak tahu apa besok masih diberi kesempatan untuk memaafkan atau dimaafkan.
Saya tak berharap ketinggian juga. Tapi setidaknya, dengan perspektif seperti ini saya merasa menjadi orang yang lebih baik untuk diri saya sendiri (dan mungkin untuk orang-orang di sekitar saya). Betapa saya harus memberikan esensi yang baik pada waktu-waktu yang saya lalui. Pada berbagai hal yang terjadi dalam hidup saya, di menitnya, di detiknya.
Bukankah kita berhak atas keberartian? Berhak atas menjadikan diri sendiri lebih berarti untuk orang lain? Berhak melayakkan diri untuk dikenang? Bersulang, untuk hidup yang tak dirayakan dua kali ini.

2 komentar:

elka hafiidh mengatakan...

"saya lumayan setuju,"
Hahahahahaha

Putripus mengatakan...

What kind of "hahahahaha" is that?

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com