Selasa, 03 Maret 2015

Enas



Satu lagi kerabat kami tewas.
Dewan Tinggi mengadakan rapat besar-besaran setelah itu. Aku disembunyikan Ibu, meringkuk sendirian di ruang gelap yang langit-langitnya bisa kusentuh hanya dengan sedikit berdiri. Gelap dan berlendir. Dihukum begini saja aku sudah tak tahan.
Dalam satu minggu, tiga kerabatku tewas. Tak terencana, kebetulan saja mereka tewas ketika bersamaku. Bukan karena aku menyimpan sebilah pisau dan menghunus mereka karena dendam pribadi. Pribadi saja barangkali aku tak punya.
Bukan pula karena aku sengaja mendorong mereka hingga terseret mobil sejauh puluhan meter dan mati sia-sia. Tapi, siapa peduli? Sekeras aku mencoba menjelaskan, lebih keras lagi tangan-tangan yang pendek itu menuding tepat ke arahku: aku pelakunya.
Padahal, semua juga tahu, jika ada tingkat kelayakan mengenai siapa yang patut bersedih, tentulah aku satu-satunya. Aku yang berada di sisi mereka ketika kematian menjemput dalam hitungan sepersekian detik. Begitu cepat hingga suaraku tak mampu menggapai pendengaran siapapun untuk meminta tolong. Begitu cepat hingga aku tak siap dan tak tahu bagaimana harusnya aku berduka sambil mengemas jenazah kawan sendiri yang berhamburan, terburai ususnya.
Kalau boleh sekenanya menuding siapa yang salah, tentu kusalahkan para Dewan Tinggi dan orang tua yang bisanya hanya membuat peraturan. Mereka bilang, aku tak boleh main jauh-jauh. Aku hanya boleh menyusuri lorong-lorong gelap tanpa cahaya. Cahaya membuat kami mati. Cahaya membuat orang-orang itu­ melihat kami dan menjerit, memanggil orang lain yang memiliki daya lebih untuk membunuh kita dalam sekali hentak. Tak ada yang lebih menakutkan dari melakukan hal-hal yang bisa membuatmu mati percuma.
Tapi di luar sana, cahaya remang begitu memukau. Tak pernah mereka jelaskan mengapa kami harus mencukupkan diri dengan kegelapan yang tak ada indahnya sama sekali. Tak pernah mereka jelaskan hingga aku lupa untuk menahan diri. Terbirit-birit mencuri kesempatan untuk mencari tahu, aku menggandeng seorang teman untuk diajak berlari. Keluar dari pengap yang menjijikkan. Menyeberangi garis-garis putih berjajar dengan terburu-buru. Tak sadar bahwa ada yang lebih terburu dari kami: kendaraan-kendaraan manusia.
Terulang tiga kali, tampaknya mulai saat ini aku memang harus mencukupkan diri untuk tak melangkah ke wilayah yang bukan milik kami.
Biar di selokan saja, biar kami aman seterusnya.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com