Minggu, 24 Juli 2016

Koma

Keriaannya memadam, seperti jingga langit yang semakin turun menidurkan dirinya ketika hendak malam. Di kursi belakang, matanya menatap jauh ke luar jendela. Membayang selapis bening di keduanya, kurasa itu adalah perwujudan tangis yang hendak pecah. Bibirnya bergetar pelan, namun tak ada sedikitpun emosi yang terluncur. Tak menggugu, tak ada isak. Pun selapis bening masih menggenang di sana. Kurasa, dia hanya sedang menahan tabah.
Penerbangannya masih nanti, dua setengah jam lagi. Tapi kami telah meluncur sedini ini, menembus jalanan yang masih lengang. Sebelum berangkat, berpesan ia padaku untuk melaju sekencangnya. Deru suara mobil sedikit meniadakan keheningan di dalam sini. Namun, aku tahu pasti, betapa hati dan pikirannya begitu riuh oleh penyesalan dan amarah.
Masih dua setengah jam, ditambah satu jam lagi ia akan mendarat ke kotanya. Ia akan sibuk membalas peluk dan bela sungkawa sesampainya di rumah. Ia akan sibuk mendengarkan lantunan doa dan semangat dari sanak saudara. Sibuk menceritakan bagaimana sore tadi sebuah telepon terhubung dari jarak yang begitu jauh, mengabarkan dirinya bahwa suaminya tewas pada sebuah kecelakaan, ketika ia sedang makan malam dengan rekan-rekan kerjanya.
Namun tetap saja, lebih sibuk ia saat ini. Sebab dalam hening ia memeluk hatinya sendiri yang begitu ringkih, mendekap penuh duka atas kepergian suaminya. Berpelukan dengan ketabahannya, menangis sejadinya. Lebih sibuk saat ini—meski ia melamun saja di dalam perjalanan menuju bandara—diyakinkannya dirinya sendiri bahwa ini adalah takdir.
Ketika matanya menatap jauh keluar jendela dan deru suara mobil meniadakan keheningan di dalamnya—lebih sibuk ia saat ini—pikirannya berpacu mengenang segala apa yang telah dilalui dan menerawang bagaimana bisa ia akan melewati hari-hari setelah ini.
Tak menggugu, tak ada isak.
Ia merasa koma.

2 komentar:

Badru Alwahdi mengatakan...

Pupus makin keren tulisannya.

Putripus mengatakan...

Terima kasih, Bedu!

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com