Senin, 15 Oktober 2012

Tidak Cukup


Saya kurang mengikuti perkembangan musik, memang. Apalagi live performance suatu band. Selain karena faktor spasial yang kurang memadahi untuk tahu arah dan jalan ke suatu tempat sehingga kurang memungkinkan untuk menyaksikan konser di tempat yang jauh dari jangkauan, saya juga jarang kekurangan informasi tentang acara gaul seperti itu. Tapi, jarang mengikuti bukan berarti tak pernah. Ketika saya berada di tengah padat penonton yang tengah menyaksikan pertunjukan musik band atau penyanyi solo terkenal, yang harus saya lakukan adalah menyaksikan aksi panggung mereka dan leloncatam di tengah dentuman musik, atau minimalnya saya harus bisa ikut menyanyikan lagu mereka.
Ini klise, memang. Tapi saya sebal sekali sama orang yang rela gerah menghadiri konser musik, tapi hanya puas menyaksikan dari layar. Saya sebal sama orang yang tak tahu lagunya tapi bisa mendapatkan posisi stategis di depan stage. Saya sebal sama orang yang tak meloncatkan badannya tinggi-tinggi ketika euforia untuk mereka mengekspresikan diri dengan cara seperti itu telah terfasilitasi.
Saya dan beberapa orang teman baru saja menyaksikan aksi panggung Sheila On 7, salah satu band favorit saya dari dulu. Kami terlambat dan kehabisan tempat jauh sebelum pertunjukan dimulai. Padat sekali. Riuh orang-orang berdiri dan menunggu. Teman-teman laki-laki saya mencarikan jalan untuk mendekati stage. Keringat bercucuran, pakaian kami basah. Saat Sheila On 7 telah menyanyikan beberapa lagupun kami masih mencari jalan sambil komat-kamit ikut menyanyikan lagu yang mereka bawakan, sampai akhirnya kami mentok hanya dapat menikmati dari layar di sisi kanan panggung.
Saya harus ke depan. Saya harus ke depan, begitu terus pikir saya. Tak akan sulit menerobos begitu banyak orang dengan keringat bercucuran demi menyaksikan sesuatu yang memang worth it. Maka saya maju sendiri, meninggalkan teman-teman saya di belakang. Saya tidak akan pulang dengan rasa puas hanya menyaksikan mereka dari layar. Saya pendek dam mata saya minus. Maka yang harus saya lakukan adalah memosisikan diri saya pada suatu spot untuk dapat menyaksikan aksi panggung mereka secara nyata.
Saya terus maju meski teman saya menarik bahu dan berkata "Cukup, jangan maju lagi". Tapi "cukup" itu belum benar-benar cukup untuk saya. Sampai, saya berhenti di balik punggung orang-orang asing yang sudah jauh dari teman-teman saya. Ini baru cukup. Saya bisa menyaksikan Sheila On 7 lebih dekat, bukan hanya dari layar. Tepat saat mereka membawakan lagu terakhir di Jatim Fair, Melompat Lebih Tinggi.
Iya, itu yang saya harapkan. Crowd di sekeliling saya begitu hidup. Mereka melompat tinggi tanpa takut terinjak, bergoyang mengikut tempo. Mereka melambaikan tangan ke atas, bebas. Mereka berteriak mengikuti lirik-lirik. Dan menjadi salah satu bagian dari bagaimana-konser-seharusnya pada lagu terakhir adalah seperti perwujudan sebuah doa. Akhir yang memuaskan.
As my Mom's ever said, "Kamu jadi orang jangan gampang menyerah", pada situasi sesepele sebuah konser musikpun saya tak mau menjadi ada di baris belakang dan menerima posisi saya apa adanya sejauh apa yang bisa saya tangkap. Dan seingat saya, saya selalu melakukannya pada setiap konser penyanyi favorit saya.
Ini kejadian yang begitu sepele. Tapi saya melihat bagaimana saya melakukan sebuah proses, pelajaran penting untuk saya di waktu-waktu yang akan datang. Saya manusia. Saya tidak pernah puas. Dan itu menuntun saya pada doa dan pengabulan harapan. Because, if you want it, just go straight for it. As simple as that.

3 komentar:

Kuz9 mengatakan...

cepet banget updatenya. fotoe konsere g ada? hihi

CaffeLyza mengatakan...

weh kamu bisa nonton mbak? :"( aku gak bisa nonton sedihnya....

Putripus mengatakan...

hahaa nggak ada mas Kus,nggak kepikiran..

Bisa doong hahaa habis PC langsung menggaul. Sabar ya Za, kamu fastor :')

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com