Tampilkan postingan dengan label Review Malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review Malam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Desember 2012

Review Malam: Psychofest 2012

source


Psychofest merupakan acara tahunan yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Unair. Saya melihat acara ini lebih sebagai beban angkatan yang mau tak mau harus dijalankan. Sekadar catatan, setiap angkatan di Fakultas Psikologi Unair memiliki tiga agenda yang wajib dilaksanakan, yaitu perlombaan di bidang olahraga untuk antarangkatan, Student Day-Psychocamp sebagai kegiatan pegaderan mahasiswa baru, dan ditutup dengan acara Psychofest.
Psychofest sendiri, lebih menjejak pada taraf Nasional. Terdiri dari beberapa event terpecah yang dilaksanakan akhir tahun. Tahun ini, Psychofest menjadi tanggungan khususnya bagi angkatan 2009. Terdiri dari event Seminar Nasional, Festival Film Psikologi, Lomba Debat Nasional, dan ditutup dengan Bazaar-Musik, Psychofest selalu menciptakan suasana akhir tahun yang meriah untuk warga Psikologi Unair.
Saya sendiri awalnya hanya berusaha mencari kesibukan. Maklum, saya tak berminat untuk bergabung dengan organisasi kampus. Saya lebih senang mendaftarkan diri pada kepanitiaan event yang sifatnya hanya sementara sehingga tidak terlalu lama mengikat keseharian saya.
Awalnya, saya mendaftarkan diri menjadi bagian kepanitiaan event Festival Film Psikologi yang notabene merupakan event perdana yang diadakan tahun ini dalam sejarah Psychofest. Ternyata failed. Saya justru diterima menjadi anggota Publikasi, yang sama sekali tak masuk dalam daftar keinginan saya. Tapi, ya sudahlah. Pengalaman baru.
Anak-anak Pubdok tergolong rusak. Rame dan konyol. Selalu ada yang dijadikan bahan bercanda. Sudah seperti keluarga, kalau saya bilang. Seperti adik ketemu kakak di rumah. Itu yang membuat saya lama-lama betah walaupun awalnya sangat canggung dan cenderung tidak ada bahan obrolan. Lama-lama, semua terlihat aslinya, all out. Gila.
Lalu menjalani hari-hari dalam empat event Psychofest merupakan pengalaman yang seru. Event pertama merupakan Seminar Nasional “Berimajinasi Indonesia” bersama Sudjiwo Tedjo. Menurut saya, event tersebut sukses sebagai pembuka rangkaian acara Psychofest. Banyak sambutan dan komentar positif datang dari para peserta seminar yang non-warga Psikologi Unair. Sebuah dobrakan. Pemilihan bintang tamu yang tepat dan dihadiri oleh para peserta yang begitu antusias menyambut ilmu-ilmu baru dalam seminar, merupakan gabungan yang apik sebagai penyokong suksesnya acara pertama kami.
Selanjutnya, Festival Film Psikologi. Festival ini merupakan pintu kompetisi bagi para sineas muda di Indonesia untuk mengajukan karya mereka. Karya yang dilombakan terdiri dari dua kategori, film documenter dan film fiksi, dengan tema bebas. Puncak acara ini adalah screening film finalis yang diadakan di Studio 5 XXI Surabaya Town Square (Sutos). Bersanding dengan pemutaran film Parts of The Heart karya Paul Agusta yang telah dilombakan dalam berbagai ajang film Internasional, animo masyarakat begitu membangkitkan semangat para panitia untuk menyajikan yang terbaik. Tak hanya itu, screening film finalis keliling 3 kampung di daerah Surabaya pun tak kunjung sepi peminat. Sekali lagi, event Psychofest mampu ‘menendang’ dan membangkitkan ketidaktahuan banyak orang tentang acara tahunan ini sebelumnya.
Ketiga, Kompetisi Debat Nasional yang menjadi agenda tahunan Psychofest. Ini juga pengalaman baru bagi saya. Baru kali ini saya menengok langsung bagaimana sengitnya sebuah perlombaan tegas. Paa peserta begitu tegas ketika berada pada pihak pro maupun kontra sebuah mosi. Seru sekali, sekaligus minder menyaksikan bagaimana mereka mampu memancarkan intelektualitas mereka melalui kemampuan verbal. Maklum, selama ini saya hanya doyan nulis, kurang doyan berbicara. Maka mereka berhasil membuat saya berdecak kagum.
Terakhir, Bazaar-Musik. Merupakan acara puncak sekaligus penutup Psychofest 2012. Bertema under the waterworld, saya bisa melihat dan merasakan bagaimana riweuh-nya para panitia mempersiapkan segala sesuatunya untuk dapat memberikan hasil yang terbaik bagi para penikmat acara. Pada hari H, acara berlangsung lancar. Namun, hujan deras mengguyur Surabaya, sesuatu yang jauh dari kemampua kami untuk mengendalikan. Beberapa stand terpaksa mengemas barangnya kembali sebelum acara usai. Ada rasa sedih di sana, takut mengalami kegagalan di acara penutup yang seharusnya berlangsung meriah. Tapi ternyata, dugaan saya salah. Banyak yang menunggu hingga hujan reda, lalu kembali lagi ke area depan panggung, menikmati acara selanjutnya dengan cuaca seadanya.
Entah apa yang bisa saya katakan, saya bahagia menjadi bagian dari acara Psychofest 2012. Banyak pengalaman baru dan orang-orang baru yang lagi-lagi singgah di hidup saya. Bersyukurnya tanpa henti. Saya sempat merutuk sedih karena Psychofest 2012 harus berakhir. Sedih karena harus kehilangan atmosfer rempong mempersiapkan acara, rapat, dan lain-lain.
Tapi, ya sudahlah. Harapannya, semoga Psychofest 2013 yang dipegang angkatan saya, 2010, bisa menghasilkan hal-hal yang lebih baik lagi dan semakin mengangkat Fakultas Psikologi Unair yang mungil agar lebih dikenal masyarakat luas.
Oh, terakhir, kami sudah melakukan apa yang tercantum dalam tagline dan motto kami: save the best for the fest!

Selasa, 13 November 2012

Review Malam : Stars And Rabbit




Stars And Rabbit. Saya mengetahui band pop folks asal Jogja ini bukan secara ajaib. Saya tahu justru dari hasil blogwalking ke blog fashion blogger, Diana Rikasari. Hasil blogwalking itu saya manfaatkan dengan baik, dengan mencomot lebih banyak lagu-lagu Stars And Rabbit dari youtube.
Dan saya jatuh cinta, khususnya dengan Elda, sang vokalis.
Bagaimana tidak? Elda memang layak di-jatuhcinta-i, menurut saya. Dari beberapa videonya di youtube, terekam jelas bagaimana aksi panggung Elda setiap menyanyikan lagu-lagu Stars And Rabbit. Khas. Khas sekali. Selain itu, suaranya yang kekanak-kanakan dan jujur—menurut saya—serta lagu-lagu Stars And Rabbit yang mengandung lirik-lirik tak klise membuat saya makin menikmati lagu mereka.




Dan Minggu lalu, saya menyaksikan langsung perform Stars And Rabbit di Surabaya, di sebuah flea market bertema Hippieland. Bersyukur saya bisa berdiri pada front row karena penonton tak sebegitu sesak, maklum, mereka masih tergolong indie dan belum banyak yang tahu. Elda terlihat begitu cantik, seperti peri dengan dress merah muda dan headband. Yang mengejutkan, ternyata Elda asli Deltasari, Sidoarjo. Maka, selama di panggung Elda mengajak penonton ber-ba-bi-bu dalam bahasa Surabaya, yang berkawasan tak jauh dari Sidoarjo. Selain itu, Elda memiliki selera humor yang bagus. Ah, dia seunik dan secantik Zooey Deschanel, salah satu alasan saya menyukai lagu-lagu She And Him.
Lepas dari masalah penampilan, Elda membawakan beberapa lagu yang tak asing di telinga saya. Catch Me, Man Upon The Hill, Worth It, You Were The Universe, dan beberapa saya lupa judulnya. Suasana mulai hidup ketika mereka membawakan lagu Worth It, lagu yang membawa nama mereka sebagai band indie melambung di kancah Internasional. Maka, wajar jika banyak penonton yang bisa mengikuti liriknya karena labih familiar. Sayang, mereka tidak membawakan dua lagi lainnya yang paling saya tunggu, Like It Here dan Rabbit Run.
Hal menakjubkan setelah itu adalah bagaimana Elda menari di panggung. Sedikit aneh, awalnya. Tapi, dari sana saya sadar letak estetika menyaksikan penampilan mereka adalah pada gesture tubuh Elda yang terlihat begitu menikmati penampilannya hingga tak peduli bagaimana pendapat orang lain.
Ah, Elda lagi. Saya bukan lesbian, kok. Hanya saja, saya suka melihat perempuan seperti Zooey Deschanel dan Elda, yang benar-benar punya karakter. Yang benar-benar orisinil.
And Stars And Rabbit was successfully made my day. What a good good Sunday.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com