Senin, 07 November 2011

Hitam


source : DeviantArt


Kau bilang aku merah
Merona bara
Peniada peluh dan amarah
Bohong !
Aku hitam, dari dulu
Penggelap jingga ceriamu
Pelebur sahajamu
Aku, rusak
Merusakmu
Kamu, jangan buta
Aku tidak cinta
Maka kamu, jangan cinta

Minggu, 06 November 2011

Please, Please, Please

Jumat, 04 November 2011

(lagi)


source : tumblr


Mungkin saya hanya butuh debur ombak yang berisik, bukan padang rumput luas yang begitu tenang. Atau mungkin deru vespa yang keras dan kencang, bukan motor biasa yang terkayuh pelan nyaris tanpa suara.
Atau mungkin, saya butuh kamu.
Tolong, satu menit saja, untuk ada (lagi).

Konde Ibu (bagian 2)


Bapak dan Ibu itu ibarat pewayangan Rama dan Sinta yang dimainkan oleh seorang dalang mabuk, menurutku. Seharusnya, mereka adalah sepasang pria gagah dan wanita gemulai yang saling merajut asmara. Tapi di realita panggung, mereka tak ubahnya menjadi dua orang dewasa yang tak pernah mau berdamai dengan argumen satu sama lain. Ya, dalangnya mabuk. Rama-Sinta versi Bapak-Ibuku pasti sudah dilempari botol air mineral kosong kalau benar-benar dipentaskan. Seperti aku, yang selalu ingin melempari mereka teriakan untuk berhenti tiap kali tak ada satupun dari mereka berdua yang bisa menahan untuk berhenti adu mulut.
Yang lucu adalah, aku, anak semata wayang mereka, bahkan menjadi sasaran beda pendapat yang terjadi sehari-hari dan berlangsung selama dua belas tahun, selama usiaku. Aku terlahir alami dari rahim Ibu sebagai seorang perempuan. Normal, tanpa cacat. Tapi Bapak bersikeras menginginkan kelahiran seorang bayi laki-laki. Aku seperti besi panas yang ditempa setiap hari agar mental dan kemampuanku terbentuk seperti seorang figur lelaki seperti keinginan Bapak.
Tidak, Bapak tak pernah sekalipun main tangan denganku. Hanya saja, aku dilatih ekstra keras agar bisa menggerakkan akal, pikiran, dan otot-ototku untuk berada pada situasi di mana seharusnya lelaki berada. Membantu Bapak di bengkel kecilnya setelah aku pulang sekolah adalah hal yang biasa. Bahkan tak jarang aku diajari Bapak ilmu bela diri dengan keterbatasan pengetahuan tentang bela diri yang dimilikinya supaya aku tidak menye-menye seperti anak perempuan lain ketika diperlakukan tak baik oleh teman laki-laki.
Aku pernah, sekali di kelas 5, membuat hidung teman laki-lakiku mimisan dengan sekali pukulan keras sampai menangis kesakitan karena dia menoyor kepalaku yang waktu itu baru digunduli Bapak. Dan Bapak begitu bangga aku bisa melakukannya. Justru yang tak pernah kulakukan adalah menjamah dapur, membantu Mbah Uti yang sibuk mengolah masakan. Bahkan untuk hal sesepele menyapu dan menata barang-barang yang terlihat berantakan di rumah pun aku tak pernah. Ah, memakai pakaian perempuan saja tidak, kecuali di sekolah yang mengharuskan anak perempuan mengenakan rok.
“Terus kenapa kalau Bapak nggunduli rambutku, Ibu ndak berusaha melarang Bapak ?” tanyaku kemudian, kepada Ibu yang baru saja menyelesaikan riasannya dan sudah tampak begitu rapi dengan kebaya merah tua serta konde yang baru dibelinya.
“Ibu sudah capek, Bapakmu itu mungkin nunggu Ibu mati dulu baru mau dengerin semua yang pernah Ibu bilang ke dia” jawab Ibu ketus, nada bicaranya meninggi. “Kamu jaga rumah, Ibu berangkat dulu. Jangan lupa pintu, jendela, dikunci semua. Jangan tidur dulu sebelum Bapakmu pulang” lanjutnya. Berkaca lagi, menarikku keluar dan mengunci kamarnya yang sakral, lalu melenggang pergi.

***

[ bersambung]

Jangan (Jatuh Cinta Lagi)

“Jangan membaca masa lalu. Membacanya, berarti kamu harus siap jatuh cinta lagi pada masa lalumu, pada orang-orang yang tak pernah ada lagi untukmu di masa sekarang” - Putripus

Rabu, 02 November 2011

Konde Ibu (bagian 1)

Aku memandangi Ibu yang bertaut begitu lama di hadapan cermin. Gincunya merah merekah, penuh memoles bibir yang dihiasi tahi lalat kecil di ujung kirinya. Bedaknya tak kalah tebal, memutihkan kulit wajah Ibu yang sejatinya kuning langsat.
Aku masih diam terpaku, mengintip Ibu dari balik kusen pintu kamarnya. Baju dan tanganku begitu hitam dan kotor, jejak oli masih menempel di sana-sini sejak kuperbaiki rantai sepedaku tadi. Tak akan diijinkan aku memasuki kamar Ibu yang begitu sakral : banyak kebaya dan kostum panggung di sana-sini.
“Bu, aku boleh ndak pakai konde? Yang kayak punya Ibu, yang itu..” pintaku pelan, menunjuk ke arah sebuah konde yang masih terbungkus rapi dalam kotak kardus kecil. Dari sekian banyak konde milik Ibu, yang itu satu favoritku. Entahlah, itu hanya sebuah konde sederhana. Tapi tiap kali aku melihat Ibu memakai konde itu di pementasan, aku seperti kerasukan dan hanya bisa diam terpesona melihat Ibu yang begitu cantik memikat. Ah, aku hanya ingin secantik Ibu, sebenarnya.
“Boleh nduk. Bilang saja sama Bapakmu, jangan suka mangkas rambutmu seenak udel-nya sendiri. Paling nggak, rambutmu panjangnya sebahu supaya Ibu bisa masang konde itu di rambutmu” jawab Ibu, sambil menebalkan alisnya dengan pensil alis. Membuatnya sedikit lebih naik dan sedikit lebih panjang.
Aku meraba kepalaku dengan tanganku yang masih hitam beroli. Rambutku tak kunjung panjang. Bapak hobi sekali mencukur rambutku hingga habis. Di sekolah, aku selalu menjadi bahan olokan teman-teman karena aku tak punya rambut seperti laki-laki, tapi aku mengenakan rok dan anting-anting.
“Tapi rambutku kapan panjangnya, Bu ?” tanyaku lirih.
Ibu terlihat berhenti mempercantik alisnya, lantas memandangku yang belum berpindah dari kusen pintu kamarnya. “Besok-besok, kalau Bapakmu sudah akur sama Ibu”

***

[ bersambung]

Selasa, 01 November 2011

Mengetahui (Lebih Dulu)

Kamu pernah ? Diam-diam merangkai butir-butir pertanda kecil yang mencurigakan buatmu dengan benang tak kasat mata yang kamu hubungkan sendiri hingga bertemu pangkal dan ujungnya. Lalu, aha!, kamu seperti mengetahui sesuatu pada saat yang belum seharusnya kamu tahu hal itu. Atau tahu masalah orang lain yang bukan urusanmu. Atau tahu sesuatu tentangmu yang orang lain tidak ingin kamu tahu. Apapun itu.
Saya, sering. Dan saya benci. Apalagi kalau hal itu menyangkut saya.
Mengetahui sesuatu yang bukan kapasitas dan hak saya untuk mengetahuinya, atau mengetahui lebih dulu sesuatu yang belum pada saatnya saya harus tahu, adalah sesuatu yang menyebalkan. Seperti sudah terlanjur, tapi saya harus bungkam dan pura-pura tidak tahu apa-apa. Bahkan pada hal-hal tertentu, seperti tidak memiliki kemampuan untuk mengklarifikasinya. Saya harus bingung sendirian. Saya harus ketakutan sendirian. Saya harus menebak-nebak sendirian apa pertanda-pertanda yang saya rangkai tersebut memang berujung pada satu pangkal kepastian bahwa semua itu—yang belum atau tidak seharusnya saya ketahui—benar.
Mengetahuinya dari belakang dan diam-diam itu parah menyebalkannya. Karena saya bukan tipe orang yang bisa bertahan dalam waktu yang lama untuk bungkam. Saya, akan cenderung menjauhi orang-orang yang berhubungan di dalamnya.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com