Tampilkan postingan dengan label what i feel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label what i feel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

Mengobral Maaf


Apa yang perlu dimaafkan dari dosa-dosa yang tak pernah dilakukan? Kita hanya bertemu setahun sekali, pun hanya berjabat tangan untuk saling meminta maaf. Lalu melakukan hal yang sama tahun selanjutnya—itupun, jika bertemu. Tak ada kalimat lain yang kita ucapkan selain itu. Sama sekali. Lantas, dari sisi mana kau membuat dosa terhadapku—dan sebaliknya—sehingga kita harus saling berucap maaf, lagi dan lagi?
Mungkin tahun depan, kita tidak usah saling meminta maaf. Karena kita tidak pernah bertemu. Dan tak pernah saling membicarakan, saling menghujat, saling mengusili satu sama lain, dan lain-lain.
Tapi, eh, tunggu. Bukankah niat untuk tak meminta maaf adalah niat yang buruk? Maka aku berdosa kepadamu, baru saja.
Ah, memang kita harus terus meminta dan memberi maaf.

Minggu, 04 Agustus 2013

Apa yang Terlintas ketika Mendengar Lagu Sedih dan Itulah Mengapa Aku Menghapus Banyak Lagu Sedih


Kau masih saja seperti itu, serupa nyata yang maya. Yang membungkus kabut-kabut sisa malam lalu dengan seteguk ucapanmu yang melantunkan perpisahan secara damai. Tetapi, damai? Perpisahan yang damai tak akan pernah memasuki kawasan rasa sakit, setahuku.
Yang tak kau mengerti dari semuanya adalah, aku tak akan pernah lupa menaruh ingatanku. Kau masih saja memiliki porsi dalam kenangan yang tak mau kubuang.

Minggu, 10 Maret 2013

Kepada Diri Sendiri


Ya, akan tiba hari di mana kau tak lagi memiliki kuasa atas akal pikirmu. Bahwa segala yang tertata akan porak poranda pada waktunya. Sebab mimpi-mimpi akan layu, tergantikan benih mimpi baru.
Sebab dunia tak akan lagi sesama hari kemarin.
Atau kemarinnya.
Atau kemarinnya lagi.
Selamat merayakan hari baru, mimpi baru.
Diri baru.
Dan, ya, bersemangatlah.

Selasa, 29 Januari 2013

Ketika Ingin Mengejar Tetapi Tidak Ada yang Bisa Dikejar


Di malam yang sudah larut ini, saya baru saja menengok salah seorang teman saya. Beberapa waktu yang lalu kami sempat bergila-gila bersama, menjadi dekat seperti sudah lama kenal, padahal asing sama sekali.
Dia sudah sukses, tanpa kabar. Ah, entahlah, sukses atau belum. Tapi, dia telah memulai sebuah langkah besar pada apa yang menjadi passion-nya. Langkah yang besar sekali, malah. Untuk seseorang sepertinya yang cenderung tertutup. Tapi, saya akui, pendalamannya untuk hal-hal yang dia sukai memang mati-matian. Habis-habisan. Pengetahuannya di bidang itu, luasnya luar biasa, meskipun belum seluas langit Tuhan.
Lalu, ini nahasnya. Dari situ saya melirik diri saya sendiri. Haha, sial sekali. Beda usia kami hanya beberapa minggu. Dia mulai sibuk mengejar cita-citanya, sedangkan saya masih begini-begini saja. Makan, minum, mandi, BAB, kuliah, bermain, tidur. Begitu-begitu saja.
Baiklah, mengejar cita-cita. Aduh, ini berat sekali.
Dulu, cita-cita saya banyak. Saya kolektor cita-cita dan keinginan. Ingin jadi insinyur pertanian, chef, penjahit, penjaga Taman Safari, dan lain-lain. Tapi, semua orang tahu bahwa semakin ke sini, kita harus semakin realistis. Jujur, di usia saya yang sekarang, saya tidak tahu cita-cita saya. Mungkin saya adalah orang terpasrah yang terlalu mengikuti arus. Sejak masuk kuliah hingga semester enam ini, saya masih suka berpikir: kelak lulus, bisa mendapatkan kerja apapun dengan gampang, sudah Alhamdulillah.
Iya, apapun. Apapun. Tidak ada hal spesifik yang saya inginkan menjadi apa saya kelak. Bahkan saya pernah begitu keukeuh ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik dan benar saja. Tapi, kasihan orang tua juga yang menyekolahkan saya tinggi-tinggi. Saya juga heran kenapa saya begitu dangkal seperti ini.
Mereka bilang, mungkin saya jadi penulis. Saya bahkan mengklaim bahwa menulis hanya sekedar hobi. Tidak ada niatan yang serius untuk menjadikannya sebagai pekerjaan. Lagipula, saingan terlalu berat. Calon penulis lain lebih handal. Meskipun, kalau benar-benar diperjodohkan dengan profesi itu, saya mau-mau saja. Tapi masalahnya, untuk memulai saja niat saya sudah loyo duluan. Jadi, apa yang bisa dimulai?
Terus, apa yang bisa saya kejar kalau saya tidak punya cita-cita?
Yah, semoga besok bangun pagi dan saya menemukan cita-cita saya di tengah perjalanan. Aamiin.

Jumat, 23 November 2012

XXI


Hari ini, saya resmi menyandang usia yang sama dengan merk bioskop, 21.
Oh, ini bukan postingan panjang-panjang, saya sudah ngantuk sekali. Tapi sebelum pukul 24.00, sebelum pergantian hari, dan sebelum birthday girl berubah menjadi gadis biasa yang tidak punya hari istimewa, saya harus segera menuntaskan segala keinginan dan review setahun ke belakang.
Saya merasa belajar banyak, sih. Tentang pertemanan, tentang keterikatan, tentang merasa bahagia, dan tentang-tentang yang lainnya. Tahun ini memang agak istimewa, saya lebih bisa mengontrol emosi (menurut saya, sih), saya juga lebih bisa mengontrol perasaan saya sendiri untuk tidak terlalu larut dalam masalah. Saya sudah tahu caranya bahagia. Intinya, usia 20 saya menyenangkan!
Lalu 21, yang tahun depan akan beranjak ke 22, lalu 23. Waktu tidak pernah mau diajak kompromi. Teman-teman mulai meributkan kesendirian saya, mulai mendoakan macam-macam, mulai ikut terlihat panik dan memotivasi habis-habisan. Maklum, menurut tugas perkembangan dewasa awal, usia ini sudah masuk pada tahap memikirkan hubungan yang serius, yang entah kapan datang waktu itu untuk saya. Seperti yang mereka doakan, semoga segera bertemu seseorang yang tepat di waktu yang tepat, atau yang biasa disingkat dengan jodoh, doa saya bertahun-tahun yang entah kapan dikabulkan.
Selain itu, saya lagi berusaha mengejar ketertinggalan saya di akademik. Harus. Harus habis-habisan. Saya nggak rela IP saya turun pelan-pelan dari semester ke semester.
Juga, as my mom wishes for me, saya mau lebih mandiri. Lebih lebih lebih lagi bisa bertanggung jawab untuk banyak hal yang menyangkut hidup saya. Lebih bisa menempatkan diri pada hal-hal yang penting dan tidak penting untuk dilakukan. And that’s what I exactly want from now on. Sebab, kecuekan saya sudah kebacut bikin Mama kecewa.
Dan terima kasih untuk ucapan, ciuman, dan nyanyian, dan pelukan-pelukan hari ini. Terima kasih untuk Caca, ponakan 4 tahun sekaligus mood booster saya yang menyapa pagi-pagi dari jauh “Halo Teput, kamu ulang tahun ya? Selamat ulang tahun, aku juga ulang tahun kemaren. Pulang ya, Put, besok beli kado bareng-bareng, patungan”. Terima kasih Paramita dan Amelia untuk kadonya. Terima kasih untuk Zaza, Fefe, Kamel, Cicin, Esteh, Tante, Cisma yang selalu ada. Terima kasih untuk Mbak Nod, Mbak Debo, Mas Alto, Mas Rico yang menemani gila malam-malam, closing yang menyenangkan.
Terima kasih Ya Allah, saya nggak bisa bayangkan kalau harus hidup tanpa Kamu.
Selamat malam, selamat datang tahun baru!

Senin, 19 November 2012

Percakapan


Saya kurang suka dengan orang yang menjadikan masalah finansial sebagai bahan obrolan, baik dia mempertanyakan, maupun menceritakan. Karena bukan haknya untuk tahu, bukan hak orang lain pula untuk tahu. Itu rahasia. Itu tanggung jawab kita pada Sang Pemiliknya.
Saya suka heran, apa esensi dari mempertanyakan masalah finansial kepada orang lain. Beberapa orang mempertanyakan dengan cara yang baik, pada batas-batas yang masih bisa ditoleransi. Beberapa lagi tidak. Bermaksud pamer? Entahlah.
Saya tahu, tulisan ini akan menyinggung beberapa orang. Tapi maaf, saya memang selalu underestimate dengan orang yang terkesan ‘ikut campur’ dengan urusan orang lain, apalagi masalah finansial. Kadang, bencinya setengah mati, bahkan sedekat apapun hubungan saya dengannya. Meskipun saya sadar sekali kita tidak bisa menilai orang setengah-setengah.
But yes, I judge person by their conversations and the way they’re talking. There must be some implicit things that should be caught from those two things to know who they really are. I mean it. Saya pun tahu, saya berpendapat seperti ini bukan karena saya telah melakukan yang terbaik. Dalam berbicara pun saya masih banyak kesalahan yang mungkin tidak bisa diterima orang lain. Tapi setidaknya, saya menghindari perkataan-perkataan yang saya benci, membayangkan bagaimana jika saya ada di posisi orang lain. Sebab, kepekaan tiap orang pasti berbeda. 
Dan masalah finansial hanya satu dari beberapa hal kecil lainnya yang menjadi perhatian besar saya.

Jumat, 16 November 2012

Lepas


Halo, Pa.
Akhirnya, aku menulis lagi buat kamu, Pa, setelah tulisan terakhir bulan Maret lalu. Lama, ya. Anak macam apa aku yang kurang berusaha menanggalkan ingatan tentang ayahnya melalui satu-satunya cara agar ingatan jangka panjangku bekerja ini.
Pa, masih ingat percakapan terpanjang kita, terakhir kalinya sebelum Papa masuk rumah sakit lalu meninggal? “Maaf, Papa udah kayak gini keadaannya, nggak bisa nganterin kamu ke mana-mana lagi. Kamu sebentar lagi kuliah, maaf Papa nggak bisa dampingi kamu kayak waktu kakak-kakakmu kuliah dulu. Kamu yang mandiri, harus berani” begitu tuturmu.
Tadi malam, Pa, pukul setengah sembilan, aku pulang dari Surabaya. Itu kali pertama aku menempuh perjalanan malam yang begitu rawan. Aku selamat, sampai rumah tepat waktu. Tapi tiba-tiba aku kangen sekali denganmu, Pa. Tidak ada telepon dan SMS masuk berkali-kali menanyakan akan pulang jam berapa. Tidak ada yang menunggu aku di ruang tamu sampai ketiduran, lalu diam. Diam karena marah aku pulang malam. Diam karena khawatir aku kenapa-napa.
Tidak ada lagi yang dalam diamnya berkata “Papa iki sayang karo awakmu, tapi awakmu gak sayang karo Papa”.
Ada Mama, memang. Tapi Papa paham, kan perbedaan rasanya?
Lalu malam sebelumnya, kita dipertemukan dalam mimpiku, Pa. Tapi bukan mimpi yang baik. Kita duduk berdua semeja, di sebuah rumah makan di tepi jalan. Lalu segerombolan anak kecil melewati kita, sedang berkarnaval membawa balon dan kostum lucu-lucu.
Kita duduk berhadapan. Papa begitu dingin dan aku menangis, begitu marah dengan keadaan. Begitu marah dengan kepergian Papa yang langsung saja melepasku untuk melakukan segala sesuatu sendirian. Aku marah dan menangis sejadinya sambil memukul-mukul meja. Dan Papa tetap diam.
Aku terbangun, Pa, dengan perasaan kehilangan yang besar sekali. Jauh lebih besar dari hari-hari sebelumnya.
Papa baik-baik, kan, di sana? Minta sama Allah, datang ke mimpiku dalam keadaan yang baik.
Oiya, ada seorang teman yang sedang bertaruh nyawa setelah operasi pendarahan otak, Pa. Kritis. Lalu, lagi-lagi aku ingat siang itu ketika aku tidak bisa menghentikan air mata yang terjun bebas, menuntunmu melafalkan “Allah, Allah” pada sakaratul maut-mu.
Aku tidak akan bisa lupa bagaimana gemetaran di sekujur tubuh ketika mengabarkan pada kakak bahwa Papa sedang kritis. Juga bagaimana rasanya ketika Papa tidak mengenali aku lagi.
Pa, kangen sekali rasanya.
Boleh minta peluk?

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com