Kamis, 17 November 2011

Tuan Nona Kesepian


source : DeviantArt


Tuan kesepian
Tak punya teman
Hatinya rapuh
Tapi berlagak tangguh

Nona tak berkawan
Tak pernah rasakan cinta
Sungguh pandai berkhayal
Mimpi itu alamnya

Mereka berdua bertemu, di satu sudut taman kota
Bertatap tapi tak bicara, masing-masingnya menganalisa

 “Tuan apa yg salah padamu,
mengapa wajahmu ada seribu.
Tuan apa yg salah padamu
seakan dunia hanya kamu kamu kamu kamu”

 “Nona apa yang salah padamu
apa enaknya tenggelam dalam khayal
Nona apa yang salah padamu
kau tahu ku tak punya hati, kau masih saja menanti”

Mereka terlarut dalam ego
Hati tertutup untuk dengar “kataku”
Berkata tapi tak berkaca
Semua orang hanya angin lalu

Nona jatuh cinta pada Tuan
Tuan menunggu yang lain
Nona tak peduli walau Tuan
tak pernah peduli sekitarnya



Selasa, 15 November 2011

Kita, Bahagia

Kalau kau temukan aku tengah berjalan sendiri di hamparan rumput hijau dan sayup-sayup bisik daun yang saling bergesekan di bawah langit yang sedang membiru, biarkan. Cukup perhatikan aku dari jauh. Beri aku waktu lebih banyak lagi untuk menikmati mimpiku untuk bisa berada di sana. Bersepeda, berlayang-layang, atau menikmati bekal dari Mama. Tiduran di atas tikar kain warna-warni, bermain tebak-tebakan bentuk awan dengan Tuhan.  Tertawa, menikmati lagu-lagu yang terukir lewat tiap ketukan yang kubuat hingga tercipta nada.
Biarkan.
Biarkan.
Biarkan.
Aku, bahagia.
Tanpa kamu.
Karena aku yakin, kamupun di suatu tempat yang tak bisa aku jamah, sudah mendapatkan apa yang kamu ingin raih. Kamu sudah mencipta hari-hari gemilang dengan peri kecil bersayap cantik yang selalu ada di bahumu kapanpun kamu butuhkan.
Kubiarkan.
Kubiarkan.
Kubiarkan.
Kamu, bahagia.
Tanpa aku.

Minggu, 13 November 2011

Kuatkan


Kalau saya sudah bilang A, jangan dibikin ragu lagi. Jangan bilang “kamu nggak menyesal ?” sambil kemudian menawarkan B, C, D, E. Saya orangnya mudah goyah. Kalau tahu begitu, tolong kuatkan. Jangan buat saya menangisi hal sepele yang prinsipil. Tolong. Kuatkan.

The Trees And The Wild Versus Ten2Five

12 November 2011 itu super super super istimewa. Ten2Five dan The Trees And The Wild, 2 band lokal favorit saya, manggung di Surabaya. Jauh-jauh hari, bahkan dari bulan lalu, saya sudah merencanakan matang-matang untuk bisa melihat penampilan mereka. Iya, dua-duanya, sama teman seperjuangan saya, @prdnk.
Karena dua-duanya diadakan di hari yang sama, tapi di tempat yang berbeda, mau nggak mau kita berdua harus maraton supaya bisa melihat penampilan dua-duanya. The Trees And The Wild di Gramedia Expo, dalam event Indie Clothing, sementara Ten2Five dalam event Jurusan Sistem Informasi di Robotika ITS. Sebenarnya, kita berdua nggak masalah sama sekali dengan kegiatan maraton-nonton-konser yang kita rencanakan. Yang jadi masalah, adalah ketika kita salah info tentang jadwal manggung mereka.
Oke, The Trees And The Wild kita berdua sudah tahu kalau akan tampil jam delapan malam. Masalahnya adalah Ten2Five. Panitianya memberi info yang berbeda-beda tentang jadwal manggung mereka. Awalnya, kita tahu kalau Ten2Five manggung jam sepuluh malam. Jadi, rencananya kita ke Gramedia Expo dulu, baru berlanjut ke ITS. Tapi ternyata, informasi terakhir yang kita dapatkan adalah Ten2Five manggung jam enam.
Jadi, habis Magrib kita buru-buru ke Robotika ITS. Tapi kecewa berat. Masih banyak sekali penampilan band-band indie, dan bahkan panitianya kemudian bilang kalau Ten2Five manggung sekitar jam sembilan malam. Dan pemberitahuan itu sudah mepet sekali jam delapan malam. Akhirnya kita keluar dan langsung memutuskan untuk cabut ke Gramedia Expo, ngebut, nyari jalan yang lebih cepat karena jarak ITS-Gramedia Expo itu jauhnya mengagumkan.
Fiuh, untung. Untung sekali setelat-telatnya kita sampai di Gramedia Expo, The Trees And The Wild belum mulai. Agak tenanglah. Untungnya lagi kita nggak perlu nunggu lama-lama, segera The Trees And The Wild tampil. 











Penampilan para personel The Trees And The Wild di Gramedia Expo, Surabaya

Keren sekali, serius. Para penonton yang mayoritas laki-laki begitu hafal dengan lirik lagu-lagu yang dibawakan The Trees And The Wild. Semuanya suara berpadu dengan superlantang, persis aksi paduan suara. Sayangnya, The Trees And The Wild nggak membawakan banyak lagu. Ada dua lagu baru, Our Roots (instrumental), Berlin, Malino, dan Irish Girl saja. Tapi asli, superkeren ! Suara si perempuannya apalagi. Jempollah, nggak menyesal sekali saya jauh-jauh menempuh rute walaupun cuma demi beberapa lagu mereka.
Next, setelah The Trees And The Wild selesai manggung, kita memburu waktu untuk balik lagi ke Robotika ITS. Sampai sana, sudah pukul sembilan malam dan Ten2Five belum tampil juga. Baru sekitar pukul sebelas malam, Ten2Five keluar disambut sorakan para penonton.









Penampilan Ten2Five di Gedung Robotika ITS, Surabaya



Kurang lebih sepuluh lagu yang dibawakan di antaranya Ilir-ilir, Kicir-Kicir, I Do, Rum Raisin Chocolate Ice Cream, Love Is You, You, I Will Fly, dan beberapa lainnya, cukup impas untuk menambal lamanya penonton menunggu. Dan Imel, sang vokalis, sangat komunikatif dengan penonton. Loveable !
Lalu, kami pulang dengan perasaan puas. Malam Minggu yang supermenyenangkan !
Dan lagi-lagi, saya bisa ngasih checklist ke daftar keinginan saya. Ya, it’s November, Lovember.




-----
*PS : foto-foto di atas hasil jepretan @prdnk :)

10 November 2011

Ini adalah beberapa foto Pekik Trotoar hasil jepretan @prdnk

Tukang Becak Baca Puisi Karya Sendiri dalam 3 Bahasa Hanya 36 Jam



Pak Madi, lakon utama pekik trotoar, saat membacakan puisi karyanya




Para Penampil Puisi, ada yang spontanitas, ada yang dengan teks


Penghormatan terhadap Negeri, dan para pahlawannya


Menjadi badut dadakan

Suasana saat para penonton yang hadir ikut membawakan lagu-lagu Nasional
Puisi karya Pak Mardi

Jumat, 11 November 2011

Pekik Merdeka, Pekik Trotoar


10 November kemarin, bertepatan dengan Hari Pahlawan ketika saya sedang berada di Surabaya, kuliah. Tidak banyak hal menarik waktu itu, Surabaya biasa saja, sebiasa hari-hari biasa. Namun, ada satu sudut tempat yang begitu menarik perhatian saya.
Berlokasi di Jalan Yos Sudarso, di samping gedung DPRD, Komunitas Pekik Merdeka Surabaya mengadakan acara Pekik Trotoar yang digagas oleh Pak Madi, lelaki tua yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak. Acara bertajuk Tukang Becak Baca Puisi dalam 3 Bahasa ini diselenggarakan di trotoar, di mana para pengguna jalan dapat menyaksikan langsung pertujukan seni tersebut.
Pak Madi, adalah seorang tukang becak yang hobi menulis puisi. Membawa sebuah buku besar berisi karya kumpulan puisinya, beliau membacakan puisi-puisi bertema kemerdekaan dan pemerintahan selama 36 jam sejak tanggal 9 November. Puisi-puisi tersebut antara lain berisi tentang protes-protes terhadap kekurangan pemerintah yang berdampak buruk bagi bangsanya. “Saya bangga terhadap Indonesia, tapi tidak bangga dengan pemerintahan Indonesia !” demikian teriak salah seorang dari Komunitas Pekik Merdeka.
Malam harinya, saya mampir ke sana bersama seorang teman saya. Waktu itu, Pak Madi sedang beristirahat karena beliau sedang sakit. Digantikan oleh teman-temannya dari Komunitas Pekik Merdeka, kami disuguhi puisi-puisi yang disampaikan dengan penuh semangat perjuangan Arek-arek Suroboyo. Jujur, saya sendiri berdesir menyaksikan mereka yang begitu lancar dan tegas menyampaikan bait-bait yang penuh makna.
Selain pembacaan puisi, sekelompok pemuda Surabaya ikut meramaikan suasana dengan permainan gamelan mereka. Setelah memainkan beberapa lagu, di antaranya Syukur, Ilir-Ilir, Padamu Negeri, dan sebagainya, serta pembacaan beberapa puisi lagi oleh Pak Madi setelah beliau pulih dari sakitnya, acara pun berakhir sekitar pukul 22.00 malam dengan riuh tepuk tangan para penonton yang tak berhenti ikut meneriakkan “Merdeka!” dengan antusias mereka masing-masing.
Yang mengejutkan adalah ketika saya, yang tidak terlalu paham dan mengerti tentang beberapa puisi mereka, dan beberapa penonton lainnya tiba-tiba dihampiri oleh beberapa panitia dan disulap menjadi seorang badut. Wajah kami terpaksa dibalut dengan cat air warna putih dan merah. Tak hanya itu, para badut ditarik ke depan untuk ikut berjoget ketika pertunjukan gamelan dimulai. Ah, ingin sekali joget maksimal, tapi sungkan. Tak lama, saya dan teman saya duduk kembali.
Keramahan para panitia benar-benar mencerminkan kerendahan hati, sesuai tema pengadaan acara yang mereka lakukan di trotoar dengan tujuan lebih merakyat dan memanfaatkan suasana alam yang telah disediakan Tuhan untuk manusia-Nya.
Tak hanya itu, ada sekelompok komunitas vespa yang ikut bergabung menjadi penonton, memeriahkan suasana.
Saya bangga dengan kebersamaan orang-orang yang tak saling kenal itu, tapi bersama-sama mendukung perjuangan pahlawan-pahlawan seni yang tak kenal ragu meneriakkan protes-protes mereka terhadap pemerintahan demi keberlayakan bangsa.
Semoga, perjuangan mereka diterima Tuhan di sisi pemerintahan. Amin.

*Maaf, foto menyusul.

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com