Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #30HariMenulisSuratCinta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

#30 Surat Yang Terlambat


Ini adalah surat yang terlambat. Untuk kamu, siapa saja yang membaca.
Apa kabar harimu ? Merayakan Valentine-kah hari ini ? Semoga empat belas Februarimu luar biasa hari ini.
Saya ? Oh, tidak. Saya tidak sedang merayakan Valentine. Perayaan Valentine terakhir saya hanya waktu kelas 4 atau 5 SD dengan teman dekat. Berbagi cokelat bentuk beruang yang dikemas dengan plastik pembungkus yang cantik. Ada juga yang membeli banyak cokelat keeping seperti koin, dibagi-bagi kepada seisi kelas. Manis. Manis sekali ketika harus mencari bentuk cokelat yang lucu agar teman saya suka. Juga manis ketika melihat pada akhirnya cokelat beruang itu dibagi-bagi hingga semua bisa merasakannya.
Tapi itu dulu, bukan sekarang.
Sekarang, Valentine itu sesuatu yang ‘kriuk’. Garing. Lepas dari masalah agama yang saya anut yang tidak memperbolehkan perayaan Valentine, menurut saya Valentine sendiri semakin tidak berkesan ketika dirayakan dengan satu patokan tanggal. Terlalu banyak bunga dan cokelat bertebaran, juga perempuan-perempuan yang menunggu perhatian. Bukankah itu tidak menjadi hal yang istimewa lagi ketika semua orang merayakannya di hari yang sama ?
Bagi saya, hari ulang tahun sejuta kali lebih istimewa, karena itu adalah hari saya. Hari milik saya sendiri. Hari yang dirayakan orang lain untuk saya. Itu jauh lebih manis, walaupun hanya dirayakan dengan ucapan selamat. Karena mereka turut merayakan hidup yang kita jalani dari tahun ke tahun, mendampingi perubahan kita.
Well, ini siang yang panas. Bagaimana harimu ? Bagaimana Valentine-mu ? Semoga selalu menyenangkan seperti ulang tahun saya.

Sabtu, 11 Februari 2012

#29 Malam Sebelum Minggu


Untuk malam sebelum Minggu yang menggantung di pelupuk awan yang berkaca-kaca. Hai, sudah berapa lama usiamu di hari-hariku yang monoton ? Ratusan malam sebelum minggu, pastinya.
Aku belum terlalu usang untuk menikmatimu sendirian malam ini. Tenggelam dalam buku yang aku baca, dan headset tergantung seharian di telinga. Juga teriakan para emosi yang sedang meledak-ledak dari orang sekitar.
Aku belum terlalu bosan melarutkan segalanya dalam ritme kegiatan yang terlalu biasa. Langkah-langkah kecil di dalam rumah, memasak, menopang dagu di depan sinetron, lupa kalau ini adalah malam sebelum minggu, aku belum terlalu bosan.
Sementara di luar sana—lalu lintas jalanan—tempat paling menarik di dunia, sedang sibuk mempersilakan para manusia untuk ikut meramaikan euforia malam sebelum minggu. Memberi sedikit kesan ekstra ‘luar biasa’ dari hari-hari biasa.
Selamat malam saja. Selamat bersenang-senang.

Kamis, 09 Februari 2012

#27 Jengah


Untuk kamu, yang tengah berada di atas segalanya.
Tidak perlu ya saya menanyakan kabarmu. Sudah lama sebenarnya saya jengah dengan banyak lakumu. Inginnya, saya dekat dengan kamu seperti tidak ada satupun hal yang mengganggu. Tapi malas. Setiap kelakuanmu membuat saya selalu ingin memberi jeda antara kita. Hidupmu, urus saja sendiri. Saya tidak mau ikut campur.
Tapi ternyata tidak semudah itu. Ya, saya benar-benar lepas tangan. Tapi Tuhan selalu mengadakan sesi waktu di mana keburukanmu selalu terpantau lagi dan lagi oleh saya sampai saya bosan sendiri.
Kamu itu, tidak capek dengan hartamu ? Tidak capek dengan gaya selangitmu ? Tidak capek dengan sombongmu ? Tidak capek dengan pembalasan dendammu dengan masa lalu ? Tidak capek memamerkan ini-itu di depan banyak orang ? Tidak capek membuat dirimu disanjung banyak orang karena apa yang kamu punya ? Aduh, saya lupa. Kamu pasti niat sekali melakukan itu semua. Tidak akan berhenti sampai kapanpun. Seperti saya sudah hafal, itu semua sudah mendarahdaging sekali denganmu.
Lalu di situlah, saya jengah untuk main kucing-kucingan seperti ini, membicarakanmu di belakang. Tapi kemudian melihat watakmu yang terus berulang seperti itu sampai saya bisa menebak-nebak kesombongan seperti apa lagi yang akan kamu pamerkan.
Ah, kacau sekali. Ini bukan tulisan yang baik. Keberanian untuk mengingatkan atau bahkan memakimu langsung selalu tertahan karena saya ingat siapa kamu, dan apa peranmu di hidup saya. Jadilah, lagi-lagi blog ini hanya untuk tempat sampah.
Jengah.

Rabu, 08 Februari 2012

#26 Tahun Kelima


Halo, Kecil.
5 Januari lalu, kalau tidak salah hitung dan salah ingat, adalah tahun kelima sejak telepon terakhirmu. Kamu apa kabar ? Sudah benar-benar lupa denganku ?
Omong-omong, kamu sudah wisuda ya ? Haha, jelas aku tahu. Foto wisudamu terpajang manis di home facebook suatu hari. Senyummu yang mengembang dengan gigi gingsulmu dan perempuanmu, di sebelahmu. Aku tidak pernah mempertanyakan lagi kepada Tuhan kenapa bukan aku yang ada di dekatmu saat itu. Terlalu kekanak-kanakan, mengingat sudah tiga tahun yang lalu aku berhasil merelakan kamu pergi.
Oke, aku tidak terlalu bernafsu menulis surat yang panjang lebar untukmu kali ini. Aku bingung harus menulis apa. Aku sudah mulai lupa semua momen tentang kamu. Tentang pertama kali kita berkenalan di malam tujuh belas Agustus, tentang namamu yang lucu, tentang kamu yang pernah ingin sekali dipanggil ‘Kecil’ yang memiliki kepanjangan Keren-Enak dilihat-Cool-Imut-Lucu, tentang nasihat-nasihat kamu, tentang marahmu suatu hari, tentang semua telepon tawamu, tentang jus alpukat siang itu, tentang… ah sial, ternyata aku masih mengingat semuanya dengan sangat baik. Ini tidak adil ketika aku harus berusaha keras melupakan kamu, sementara tanpa perlu berusaha, kamu sudah sangat lama melupakanku dengan pasti.
Tapi, Kecil, pada akhirnya kamu adalah orang yang tidak pernah ingin kulupakan. Aku hanya berusaha menghilangkan rasa yang dulu sekali pernah aku punya untuk kamu. Selebihnya, semua momen yang merekam kamu sebagai pemeran utama dalam satu tahunku, lima tahun yang lalu, biar aku ingat sampai aku lupa dengan sendirinya karena aku menua.
Langit sedang mendung, Cil. Kamu sedang apa ?

Selasa, 07 Februari 2012

#25 Dari Sisi Tuhan

Anakku, bagaimana kalau suatu saat aku mengirimkan angin untuk sekedar memberi kabar balasan akan bertahun lamanya penantianmu dan ibumu, dua malaikat tercintaku : bahwa aku telah karam bersama karang tempatmu menunggu ?
Sudah lama, aku tergabung dalam jutaan fosil laut yang tak pernah ditemu. Aku hancur, berkeping. Tertimbun dalam detik-detik yang masih kuingat betul, kualami adegan sendu seorang Jack kala Titanic yang ditumpanginya harus hancur. Bedanya, aku hanya menumpang pada perahu kecil rapuh, yang tak pernah sanggup menandingi sombong angin kala itu. Dan lagi, tak ada ibumu di sisiku.
Aku meronta hingga kehilangan suara. Ikan-ikan tangkapanku yang telah tertata  manis dalam ember-ember besar untuk kubawa pulang, nahas ikut terseret ombak pasang. Aku tenggelam, aku tertelan sadisnya nasib yang harus membawaku pergi tanpa sempat berpamitan padamu, pada ibumu.
Anakku, melalui surat ini, terbalas sudah segala peluh yang kau sisikan pada tahun-tahun berlalu dalam penantianmu akan kedatanganku membawakan ikan-ikan laut untuk kita makan enak di bawah remang cahaya kesederhanaan.
Berhentilah, berhentilah menungguku.
Sampaikan pada ibumu, tak perlu lagi sibuk membenarkan kemeja saku. Rapikan saja kemeja-kemeja itu dalam tumpukan lemari paling bawah, pertanda mereka tak akan terpakai lagi oleh pemiliknya, yaitu aku.
Dari sisi Tuhan aku menulis ini, dengan sedu sedan yang berkepanjangan. Semoga kalian tak dirundung kesedihan.


*Surat Balasan Untuk Surat Cinta @MungareMike, “Variatio 23. a 2 Clav.”

Senin, 06 Februari 2012

#24 Dua Puluh Empat


Untuk dua  puluh empat jam dalam sehari, yang selalu terasa kurang.
Aku heran, mengapa kamu seolah membuat hidup begitu kaku ? Terpaku dalam hanya dua puluh empat jam. Itu tak banyak. Mengapa tak pernah kau sediakan setidaknya bonus lima atau sepuluh jam dalam sehari untuk membuat segala sesuatu lebih santai dan tak terburu-buru ?
Aku hanya tidur beberapa jam saja karena insomnia. Pagi pun kemampuan tidurku terbatas. Lalu kurasakan malam sudah merundung lagi tanpa aku tahu apa-apa saja yang telah kulakukan dalam sehari. Ini tidak adil. Bukankah, kata orang, waktu akan terasa berjalan sangat cepat ketika kita sedang bahagia ? Lalu, kalau kurasakan dua puluh empat jam dalam hari-hariku terasa begitu cepat, sisi mana yang bisa kusebut sebagai sesuatu yang membahagiakan dari hari-hari monoton yang bahkan aku lalui dengan hanya sekedar lewat ?
Aku mencarinya, di balik jarum-jarummu yang berdetak sebanyak 86.400 kali dalam sehari. Aku serius, detaknya begitu cepat hingga belum pernah aku mendapatkan waktu yang cukup untuk menemukan bahagia.
Dalam dua puluh empat jamku, aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya telah aku lewatkan. Seperti berdiri di tengah marka jalan dengan lalu lalang kendaraan di kanan kiri dari pagi hingga petang. Begitu saja seterusnya.
Orang bilang, itu useless.
Jadi, wahai dua puluh empat jam yang angkuh, beri aku lebih banyak waktu untuk bisa melakukan lebih banyak hal. Beri aku detik-detik yang berjalan dengan ritme lebih tenang, tak terburu-buru, agar aku bisa mencari di mana bahagia yang sudah begitu lama aku lewatkan itu.  

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com