Rabu, 05 Oktober 2011

#6 Peri-Peri Kecil


Kalian adalah obatku. Yang bersembunyi di balik raga-raga mungil dengan tawa sekaligus tangis yang tak kunjung habis kurindukan. Kalian adalah makhluk serupa peri tanpa sayap yang masih begitu polos memandang dunia.
Kalian tampak sibuk dengan kolam pasir, ayunan, jungkat-jungkit. Dan aku sibuk memandangi kalian dari balik jendela dengan senyum yang belum mau kuhentinkan tiap kali kuamati kalian. Tawa renyah. Olokan yang khas. Seragam kedodoran. Bibir mungil yang cemberut. Rebutan mainan. Langkah-langkah kaki kecil. Ah, terlalu naif kalau kukatakan aku tak bisa jatuh cinta dengan kalian.
Bayanganku jatuh samar pada kaca jendela. Sudah beruban kepala ini. Entah usiaku akan berhenti pada detik ke berapa dari total waktu yang aku punya. Aku mulai ringkih dan tertatih untuk terus mengikuti kalian yang tak pernah merasa lelah. Kadang nafasku tersengal karena tak mampu lagi bersuara keras-keras untuk mendiamkan kalian yang riuh gaduh. Kadang langkahku tak bisa lagi melangkah dari satu bangku ke bangku yang lain, mengamati tiap hasil kerja kalian.
Ibarat hari, aku adalah senja yang menuju gelap. Jika tak di sini, di mana lagi bisa kuluapkan rasa kasih sayangku yang meluber sementara rahimku tak mampu mengandung janin calon kehidupan. Di surga kecil inilah kuabdikan segala rasaku untuk kalian.
Anak-anakku, doakan aku—ibu keduamu ini—kelak jika harus berada di sisi-Nya, bisa kutemui para peri kecil seperti kalian.


#6 Taman Kanak-kanak
#15harimenulisdiblog

Selasa, 04 Oktober 2011

#5 Buta Kematian

Ini hari yang mendung. Ah, tidak. Ini hari yang gelap, gelap sekali. Aku terjaga di sebuah ruangan berbau obat, aroma khas ruang rawat inap. Banyak suara di sini, aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Kuedarkan pandanganku, berusaha mencari titik cahaya. Tidak ada. Atau memang hari ini masih terlalu dini untuk diawali dengan membuka tirai jendela karena bahkan matahari masih bersembunyi di balik peristirahatannya ? Gelap. Masih gelap.
Tapi suara-suara itu. Aku bisa merasakan banyak orang menyesaki ruanganku. Sekitar lima atau enam. Ada tangan besar yang memegang pundakku, entah siapa dan apa yang dilakukannya.
“Maaf, kami berusaha semaksimal mungkin. Namun operasi ini gagal. Adrian mengalami buta total”
Itu namaku. Namaku disebutnya. Tapi, apa ? Buta total ? Tidak mungkin. Semalam baru saja kulihat meriah warna-warni perayaan tahun baru bersama gadisku, Gladis. Kami salik peluk, saling mendaratkan kecupan kecil di dahi. Bahkan aku masih mengingat jelas tiap detik yang terekam malam kemarin.
Tuhan, ya, aku baru sadar aku mengalami kecelakaan. Parah. Aku mendengar tangisan kelu Gladis di sebelahku, meneriakkan minta tolong dengan suaranya yang parau.
“Gladis di mana, Dok ?!” tanyaku, setengah berteriak.
“Tenang, Gladis aman sekarang, sudah tenang dia”
Aku belum begitu memercayai raut suara dokter itu, entah kenapa. Aku mau turun dan menengoknya langsung.

***

Dokter mengantar Adrian menemui Gladis yang sedang beistirahat di kamarnya. Adrian meraba wajah tenang Gladis, kekasihnya. Gladis masih diam. Adrian paham benar kalau Gladis pasti sedang tidur. Ada kelegaan di hati lelaki itu mendapati Gladis masih dalam keadaan yang baik. Dia hanya butuh istirahat, pikir Adrian yang tak lagi mempedulikan kebutaannya.
Ruang rawat inap Gladis yang bertuliskan Kamar Jenazah, akan membawanya ke pusara yang lebih menenangkan sekaligus menyakitkan, tanpa sepengetahuan Adrian.


#5 Hilang
#15harimenulisdiblog

Senin, 03 Oktober 2011

#4 Timeline Bangkumu

“Kalau kesempatan yang kamu tunggu nggak dateng-dateng, kamu harus ngejar kesempatan itu”- Nina.

Kulihat sederet kalimat itu menghiasi bangkumu yang kebetulan kutempati hari ini karena kamu sedang sakit dan harus ijin untuk tidak masuk sekolah selama dua hari. Memang, posisi bangkumu adalah yang paling strategis di kelas, tepat di tengah. Aku tertegun. Itu namaku, dan itu kalimatku. Kalimat sederhana yang pernah kulontarkan padamu sesaat setelah kamu merasa bodoh karena ketidakmampuanmu mengejar nilai yang tertinggal akibat kesibukanmu sebagai ketua OSIS.
Iya, kalimatku. Tertulis di atas bangku favoritmu. Terpajang di antara lusinan timeline berisi kata-kata bijak keluaran para tokoh dunia yang sengaja kamu goreskan di sana sebagai motivator belajarmu.
Sesederhana itu, kamu membuatku merasa istimewa.

#4 Timeline
#15harimenulisdiblog

Sabtu, 01 Oktober 2011

#3 Jodoh Klise


Tuhan tidak akan sedangkal ini mengatur pertemuan dalam adegan bertabrakan-dan-ketumpahan-kopi ala sinetron. Tolong, ini adalah jam istirahat siang yang paling panas dan makin panas karena mau tak mau aku harus menunggu selama ini sendirian di sebuah kedai kopi hanya untuk meladeni permintaan maafmu yang memaksaku untuk mengganti kemejaku. Lalu kamu, pulang ke rumah yang entah berapa kilometer jauhnya sehingga aku harus menghadapi kenyataan paling pahit bahwa aku harus menghabiskan waktu istirahatku hanya untuk menunggu perempuan asing yang baru kutahu hari ini. Mengenalnya pun belum.
“Maaf ya, Mas. Rumah saya deket, sebenarnya. Tapi tadi macet” ujarmu, tergopoh-gopoh mendatangiku. Mungkin kamu menyadari ekspresi wajahku yang mulai tidak enak. “Oiya, saya Sinta”
“Rama. Sori, saya buru-buru kerja”, jawabku singkat. Kuraih kemeja biru yang baru kau keluarkan dari sebuah kantung plastik, lalu aku bergegas pergi.
Seklise itu.
Aku melamun di dekat jendela kantorku pagi ini. Tersenyum sambil memandangi sebingkai foto keluarga. Ada aku, kamu, dan putra kita. Siapa sangka di balik cara dangkal Tuhan untuk mempertemukan kita, kita memang diperjodohkan.

#3 Perkenalan
#15harimenulisdiblog

#2 Malam Minggu Merah Jambu


Malam minggu itu, langit masih merah jambu ketika kita berpapasan dan menautkan tatapan pada satu sama lain pada lima detik yang berjalan melambat. Kupu-kupu beterbangan, mengitarimu yang menebarkan aurora warna-warni di sekitar pelipis mataku. “Kamu bidadari”, ujar hatiku pelan.
Serupa gadis cantik jelita misterius dalam buku-buku dongeng, kuyakini aku akan bertemu denganmu lagi. Di stasiun yang sama, tiap Sabtu malam.
Kutorehkan pandanganku ke sekitar. Tidakkah kau tinggalkan selendangmu yang bisa kutemukan, Bidadari ? Agar di pertemuan kedua, ada alasan untukku berkenalan.

#2 Malam Minggu
#15harimenulisdiblog

#1 Ciuman Pertama


Semburat merah apa itu di pipi kanan-kirimu ?
Apa itu rona malu karena habis kucium lembut dahi, matamu yang terpejam, hidung mungilmu, lalu turun ke bibirmu yang masih meronta menangis ?
Ini hari istimewa, kan Sayang ? Hari di mana kamu dapatkan sepaket dekapan pertama, sekaligus ciuman pertamamu. Selamat menikmati serangkaian hari-hari mesra yang akan datang, Sayang. Dunia takkan membuatmu rapuh.
Dari aku, Ibumu.

#1 Ciuman Pertama
#15harimenulisdiblog

Sumbang

source : DeviantArt


Bibir-bibir masalah merajam pikiranku
Suara-suara mereka membising
Terajut melayang-layang membentuk tangga nada sumbang
Aku berteriak
Dalam hati
Menghakimi mereka untuk diam



-Kamar kos, 23 september 2011, 00:00-

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com