Minggu, 02 September 2012

#28 Takdir yang Salah


Liontin emas kecil berbentuk pesawat itu berdenting dengan liontin cincin yang sama-sama menggantung dalam satu rantai kalung sepanjang pergerakan kakinya. Leher yang jenjang itu menampakkan jelas kedua liontin mungil yang sangat manis ikut bergoyang bersama langkah kakinya.
Sebuah agenda kecil bersampul bahan kulit warna cokelat dikeluarkannya dari tas setelah dia menemukan tempat duduk yang pas di restaurant masakan Jepang itu. Di antara segala note dan catatan yang digores dengan tinta hitam pada kolom hari ini, sebaris kata tampak begitu menonjol tertulis dengan tinta warna merah besar-besar: HE’S COME!
“Nanti sore aku sampai di Jakarta, sekitar pukul tiga”
“Biar nanti sore aku jemput di bandara”
“Nggak usah repot-repot. Aku bawa barang banyak, mau ke apartemen dulu. Tidur sejam-dua jam. Ketemu nanti di resto biasa, jam tujuh”
Sarah menepati janjinya. Tepat pukul tujuh. Menunggu seorang lelaki yang datang setiba-tiba perginya. Berkata ingin liburan ke Bangkok dan tak mau direcoki segala jenis orang dari Indonesia. Dan menghilanglah Ian selama enam bulan, tanpa kabar sebarispun.
Di tengah pengharapan Sarah yang begitu besar akan Ian yang datang tepat waktu, pintu restauran berdecit. Dengan cepat mata Sarah menangkap sesosok Ian yang berbeda.
Enam bulan waktu yang cukup lama, ternyata. Badan Ian makin gemuk dan terlihat makin segar, tak sekuyu dulu. Dagunya ditumbuhi serumpun jenggot yang rapi. Juga, kemeja merah maroon—hadiah ulang tahun dari Sarah tahun lalu—menempel pas di badannya yang terlihat sedikit lebih bidang. Sarah tersenyum. Kemeja kebesaran itu akhirnya dikenakan Ian, dan betapa hal itu berhasil membuat degup jantung Sarah terpompa dua kali lebih hebat.

***

Liontin emas kecil berbentuk pesawat itu tak pernah berdenting lagi sejak malam itu. Ada yang hilang. Liontin cincin tak lagi tergantung pada tempat yang sama. Sejalan dengan hati Sarah. Tak ada lagi denting-denting keceriaan yang hinggap di wajahnya. Ada yang terampas.

***

“Sarah, cincin itu sudah waktunya turun dari leher kamu”
Sarah masih ingat betul percakapan itu. Inti dari tahun-tahun kedekatan mereka yang ditunggunya sejak lama. Kepulangan ini, mungkin waktu yang tepat bagi Ian untuk memakaikan cincin itu ke lingkar jari Sarah.
“Minggu depan, aku sama Cindy mau tunangan”
“Cindy? Cindy siapa?”
“Aku ketemu dia di Bangkok. Waktu berjalan cepat, Sarah, sekaligus terasa begitu lama selama aku ada di sana. I’m thirty-something years old and this is the first time I believe that there’s a such thing in this world called love-at-the-first-sight. I love her. I wanna ask her to marry me. Sarah, I’m a soon-to-be husband for a great woman like Cindy. Aku bahagia”
Ada jeda yang begitu lama, menguap dari kepala Sarah begitu saja, bersamaan dengan cekat di tenggorokan yang menahannya untuk bicara. Dia memutar lambat bagaimana Ian mengucapkan dua kata itu: “Aku bahagia”.
“Ingat waktu aku beli cincin itu sama kamu? It’s ridiculous, right? Aku minta kamu untuk menyimpan cincin itu sampai tiba saatnya aku jatuh cinta hingga ingin menikahi seseorang”
“Jadi? Mm, kenapa harus aku?”
“Kamu teman terbaikku, Sarah. Sekaligus kebaikanmu ada di ambang batas teratas kebaikan perempuan-perempuan yang aku kenal. I’m sure that we were meant to be a bestfriend till the end of the day. It’s an honor bisa menitipkan cincin itu ke kamu, sambil aku berharap akan tiba saatnya aku bisa bertemu perempuan lain yang sebaik kamu. Dan dialah Cindy, the one I wanna live my life with

***

Liontin emas kecil berbentuk pesawat itu tak pernah berdenting lagi sejak malam itu. Ada yang hilang. Liontin cincin tak lagi tergantung pada tempat yang sama. Sejalan dengan hati Sarah. Tak ada lagi denting-denting keceriaan yang hinggap di wajahnya. Ada yang terampas.
Dalam ruangannya, Sarah menangis sesenggukan. Ian menemui takdirnya, sementara Sarah harus menghadapi kenyataan penantian empat tahun yang sia-sia. Sarah hanya cukup menerima liontin berbentuk pesawat dari Ian meski hatinya meronta menginginkan cincin untuk Cindy.
Sarah telah menerka takdir yang salah.





“This is tiring. Still, can I be yours for a day? A day…”
Stars and Rabbits, Like It Here

3 komentar:

riri backstage mengatakan...

mencari jejak sajah ah... gmw meninggalkan jejak... salam coklat ( i didn't like keju )

d2k mengatakan...

semacam friendzoned :D

Putripus mengatakan...

benul :)

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com