Minggu, 22 Juli 2012

#1 Pintu

"Bang, nanti sore Ibu mau ke sini. Mau nginap sampai besok"
"Nanti Abang ada rapat lagi di kantor sampai malam. Salam buat Ibu"
"Salam? Besok pagi juga masih bisa ketemu kan?"
"Besok Subuh Abang sudah berangkat lagi. Belum tentu bisa ketemu Ibu"
"Mm.. Bang?"
"Ya?"
"Jangan lupa cincin nikah kita dipakai. Nggak enak sama Ibu"
"Cincinnya kekecilan di jari Abang. Udahlah, khawatir apa kamu ini? Selama kita masih satu rumah, kita masih suami istri kan?"

* * *

Ibu belum curiga, mengapa di rumah ini ada dua kamar yang tiap hari terpakai, padahal sehari-hari tak ada orang lain lagi di rumah selain aku dan Abang. Ibu tak akan sampai akal menebak dua kamar itu adalah satu milik Abang dan satu milikku.
Abang tak mau sekamar. Butuh ruang lebih untuknya membunuh waktu menghabiskan pekerjaan kantor di rumah. Aku mengiyakan saja, rumah kami tak tersedia ruang kerja. Selanjutnya, Abang tertidur dan terbangun di kamarnya sendiri. Begitupun aku.
Abang berangkat kerja dengan parfum berbeda tiap hari. Sampainya di rumah, tak disisakan aroma wangi itu untukku sama sekali. Aku curiga, lantas bisaku hanya diam karena Abang tak pernah mendengarkan bicaraku.
Kalau beruntung, pagi hari aku bisa semeja makan dengan Abang. Menikmati dingin yang merambati tanpa banyak kata-kata. Cium pipi kiri, pipi kanan, lalu berangkat. Aku lebih terlihat seperti pemilik kontrakan, selingkuhan Abang. Daripada terlihat seperti belahan jiwanya sendiri.

* * *

"Jangan duduk di depan pintu, bikin jodohnya susah dateng!" Begitu tukas Ibu tiap kali melihatku melamun, duduk bersandar di kusen pintu dengan kaki terjuntai. Lunglai.
Oh Ibu, aku sudah bersuami. Apa yang harus kutakutkan dengan duduk-di-depan-pintu-menyebabkan-jodoh-susah-datang? Itu mitos belaka, basi.
Atau mungkin, justru gegara sering duduk di depan pintu, suamiku makin lama makin dijauhkan dari takdirnya sebagai jodohku?
Ah, tidak. Tidak mungkin.
Akan kubuktikan bahwa itu hanya mitos, Bu. Abang masih jodohku.

* * *

Di belakangku, telah berdiri gagah sebuah pintu berpalang tujuh. Sedari malam, susah payah kupaku balok-balok kayu pada kusennya untuk membuntu si pintu.
Tawaku lirih, namun menggema. Keringat bercucuran. Lelah tapi bahagia. Kuringkukkan badanku di atas kursi kayu, persis di depan pintu.
Pssstt, Subuh belum tiba. Ayam masih lelap di atas kandangnya. Di balik pintu ini ada suamiku yang masih mendengkur nyenyak di kamarnya akibat obat tidur.
Abang tidak boleh ke mana-mana lagi. Pintu kamar Abang sudah kupalang. Juga semua pintu lainnya di rumah ini. Aku masih bersama Abang, dari luar kamar kujaga Abang. Berdua saja begini sampai sama-sama mati. Sama-sama masih menjadi suami istri, walau terhalang sebuah pintu berpalang. Abang tidak boleh ke mana-mana lagi.
Aku terkikik sendiri.


2 komentar:

Kevin mengatakan...

Seremmm.. :D

Putripus mengatakan...

makasih kepiiin :)

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com