Minggu, 20 Februari 2011

Ya, Everybody's Fine





source : Google



Habis nonton fil Everybody’s Fine. Dan lagi-lagi, aku harus cengeng untuk film tentang keluarga.
Ya, Everybody’s Fine. Tentang seorang Ayah yang mengunjungi keempat anaknya yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing. Setelah kepergian istrinya delapan bulan yang lalu, dia hanya ingin berusaha menjadi Ayah yang baik, yang selalu tahu kabar anak-anaknya seperti yang selalu dilakukan istrinya dulu.
Menempuh perjalanan dari satu kota ke kota lain, dari satu Negara ke Negara lain, Frank—sang ayah—merasa kecewa dengan kehidupan anak-anaknya yang beranjak dewasa. Kecewa dengan David yang menghilang tanpa kabar, kecewa dengan Amy yang tidak harmonis dengan keluarganya, kecewa dengan Robert yang ternyata hanya bekerja sebagai seorang penabuh drum di perkusi, dan kecewa dengan Rosie karena merahasiakan sesuatu darinya. Terlebih lagi, Frank kecewa dengan kesibukan mereka yang tak bersahabat dengan keinginan Frank untuk tinggal di rumah mereka masing-masing untuk satu-dua hari. Dalam tempo waktu yang relative singkat, Fran harus menanggung lelah melakukan perjalanan panjang yang nyaris tanpa istirahat.
Dalam perjalanan pulang, Frank mengalami serangan jantung sehingga dia harus dilarikan ke rumah sakit. Ketiga anaknya bekumpul, kecuali David. Di sanalah Frank tahu bahwa ternyata David meninggal di Meksiko karena overdosis.
Kematian istrinya berdampak buruk bagi anak-anaknya. Ibu mereka adalah pendengar yang baik, sementara ayah mereka tidak. Frank selalu memandang keempat anaknya sebagai anak-anak yang masih kecil, yang perlu didikte segala cita-cita dan urusannya, sekalipun itu tak membuat anak-anaknya bahagia. Maka dari itu keempat anaknya tidak terbuka dengan Frank tentang apa-apa yang terjadi terhadap mereka. Mereka selalu terlihat baik-baik saja di depan Frank.
Frank sadar, betapa pentingnya mengutamakan kebahagiaan anak daripada menuntut mereka untuk menjadi apa yang dia inginkan.
Well, lagi-lagi aku harus nangis untuk sosok seorang Ayah. Ada beberapa scene yang menunjukkan betapa bangganya Frank terhadap anak-anaknya, betapa bangganya dia menceritakan dan memperlihatkan foto keluarganya di depan orang-orang yang bahkan tidak dikenalnya.
“Are you happy ?” pertanyaan itu selalu Frank ajukan kepada ketiga anaknya. See ? Sekeras dan sekaku apapun seorang ayah, dia hanya ingin memastikan apakah anak-anaknya bahagia.
And Frank, just like my father. Selalu sibuk mempersiapkan ini-itu kalau keluarga mau ngumpul, selalu menghubungi anak-anaknya setiap saat, selalu berusaha kuat walaupun sendirinya sedang sakit, dan selalu membanggakan anak-anaknya di depan orang lain semengecewakan apapun anak-anaknya. Dan yang paling aku suka adalah bagian terakhir itu. Semarah apapun Papa di depan kita, di sisi lain dia bisa memaafkan, dia masih menyimpan hal terbesar dan membanggakan dari kita untuk bisa dibagi dengan orang lain. Agar mereka tahu betapa bangganya dia punya anak seperti kita. Dan itu kebanggaan yang tulus.
Aku nggak cukup yakin apa aku berhasil bikin Papa bangga. Seenggaknya, sejauh yang dia tahu, aku sudah menjadi seseorang yang lebih baik dari kedua anaknya yang lain. Aku tau itu belum cukup, belum cukup sampai aku bisa jadi wanita karier seperti yang dia mau di beberapa minggu terakhir hidupnya. “Kamu harus jadi wanita karier, jangan cuma jadi ibu rumah tangga”.
Waktu itu aku bilang “Oke”. But surely, now I think that being a housewife is a perfect job !
Oke, film yang bagus untuk bikin aku kangen Papa.
Satu lagi, apa Papa tau ya kalau aku kangen berat sama telepon dari Papa cuma untuk memastikan aku lagi di mana, pulang jam berapa. Mungkin dulu aku malu harus di-overprotective-in kayak gitu. Tapi hari ini, pemikiran itu adalah pemikiran yang aku sesali. Mendapat telepon dari Ayah yang selalu mencemaskanmu adalah hal yang sangat sangat sangat hebat dan menyenangkan.
Have a nice day, Pa. And so do I (without you, exactly)…

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com