Sabtu, 22 Desember 2012

Cenayang


“Aku, cenayang”
Satrio menghentikan hisapan rokoknya. Ruangan menjadi lengang, begitu lengang hingga mampu kudengar jelas suara nyamuk yang sedang beterbangan mengisi jeda kosong di antara kami.
“Serius. Aku cenayang”
Dia lantas mengelus jenggotnya yang semakin terjalin menjadi satu ikatan dengan kumis. Lalu, seperti bicaraku adalah angin lalu, dia kembali berkutat dengan rokonya. Mengepulkan asap-asap penuhi gas beracun yang selalu membuatnya terbatuk di penghujung malam. Tak pernah digubris permohonanku agar dia berhenti mengonsumsinya.
“Sudah sebulan ini. Ada yang masuk ke dalam kamarku dan berbicara malam-malam. Mereka ada banyak, gaduh sekali. Aku bisa mendengar mereka berbisik-bisik, membicarakan aku” suaraku mendadak gemetar, ada rasa takut yang merambati sekujur tubuh. Gigil tiba-tiba ikut menjalar dari ujung kaki hingga kepala. Rasa yang sama, yang selalu muncul tiap kali aku menceritakan hal ini pada orang lain.
“Suruh mereka keluar” tuturnya santai.
Ah, dia tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku yang tiba-tiba diikuti mereka tiap kali gelap datang. Seperti… sekarang!
“Nggak bisa. Mereka di sini. Sekarang juga” aku menengok seisi ruang bercat putih ini. Saru suara keluar, dua, tiga, lalu terdengar begitu ribut di sekelilingku. “Sat.. bawa aku keluar. Bawa aku!” teriakku. Mereka seolah bergantian menerorku dengan berbagai macam hinaan. Aku dicaci habis. Juga, satu suara mengatakan bahwa aku harus mati.
Aku. Harus. Mati.
Mereka menikam telingaku dengan suara-suara tak berwujud. Keringat dingin mulai kurasakan munculnya. Kugigit keras bibir bawahku sambil terus kupeluk erat gulingku. Erat sekali. Kulihat Satrio mulai berkemas. Sigap dia keluar dari kamarku, terburu-buru lebih tepatnya. Ingin kutahan, tapi pita suaraku seperti tercekat. Habis, tak keluar sepatah katapun untuk memintanya tetap di sini.
Tak lama, beberapa orang berpakaian serbaputih menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuhku.

***

Aku menghela nafas yang semakin berat tiap kusaksikan istriku meronta hebat dengan tubuhnya yang pucat pasi, meneriakkan ketakutanny. Sementara yang bisa kulakukan hanya memanggil lebih banyak perawat lagi untuk mengontrol tindakannya yang tak kunjung mendekati harapan kami, yaitu kesembuhannya.
Butuh waktu yang cukup lama menyadari bahwa ini semua nyata.
Kutekan pedal gas mobil, bersiap meluncur kembali pada rumah istriku yang kedua. Meninggalkan kenyataan bahwa seorang wanita yang masih membutuhkanku tengah mengadu nasibnya pada panti Skizofrenia.
Apapun yang terjadi, tak akan kusahkan dia sebagai masa laluku.

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com