Senin, 21 Maret 2011

Seimbang

Aku mendengus. Sepertinya kita memang butuh gelang power balance. Kalau bisa, aku akan memesannya dengan ukuran khusus dan dengan cara tertentu bisa digelangkan kepada hati dan hubungan kita yang sudah mulai tidak seimbang.

Kamu tahu arti seimbang ? Seimbang itu seperti langkah kaki yang berjalan bergantian, kanan lalu kiri. Seimbang itu seperti ketika kita melakukan suatu hal dengan irama ‘saling’; saling mengerti, saling memahami, saling membantu, dan saling-saling lainnya. Seimbang itu, harusnya aku dan kamu.

Tapi kita sangat tidak seimbang dalam berbagai hal.

Kamu mendominasi percakapan dan aku mendominasi pertanyaan. Hubungan kita tak lebih seperti seorang wartawan dengan narasumbernya.

Aku memelukmu dengan mesra sementara kedua tanganmu masih terjuntai ke bawah. Lunglai. Seperti kamu ingin mengatakan “Jangan terlalu lama memelukku, aku tidak terlalu suka aroma rambutmu yang genit menggelitik ujung daguku”.

Aku memberimu sepasang sepatu olah raga untuk hadiah ulang tahunmu yang ke-23 sementara kamu memberiku hadiah “Maaf aku lupa kalau ini hari ulang tahunmu” di hari ulang tahunku yang ke-19, 21, dan 22. Hadiah yang tak bisa aku lihat motif bungkus kadonya, tak bisa aku nikmati dengan perasaan berbunga-bunga. Hadiah dari seseorang yang aku ragu apakah dia seorang pacar.

Kamu berusaha menghentikan obrolan jengah yang kita lakukan hampir tiap malam sementara aku mati-matian mempertahankannya untuk memastikan bahwa kita masih ada untuk satu sama lain, walaupun pada akhirnya obrolan malam itu sudah ebnar-benar mati sekarang.

Aku meringkuk, di atas kasur yang penuh foto kita berdua. Foto-foto yang kita bangun lembar demi lembarnya sejak tahun pertama masuk SMA. Sudah begitu lama, ya ? Apakah kamu pernah menghitung-hitung dengan jarimu sudah berapa lama kita berdua ?

Sudah berapa kali kita ke pasar malam bersama, membeli seporsi bakso dan menikmati lalu lalang orang-orang. Sudah berapa kali kita membunuh malam di jalanan dengan Vespa birumu. Sudah berapa kali kita… Ah, aku bahkan tak ingat lagi kenangan manis yang kita simpan dalam kotak hati kita. Ketidakseimbangan itu membuatku mati rasa. Mati rasa dengan hubungan kita yang memang sudah sangat tawar. Bahkan foto-foto ini tak memberikan rasa apapun.

HP-ku bergetar. Satu SMS muncul di display.

Aku di bawah, Yang..

Ah iya, aku ada janji. Dengan seorang laki-laki. Aku mencintainya beberapa bulan terakhir ini. Dialah yang bisa membuat hidupku menjadi lebih manis lagi dari rasa tawar yang kamu beri.

Sungguh, ini demi keseimbangan hubungan kita, Sayang.

Aku tahu kamu selingkuh. Dengan wanita berdada besar itu. Dan aku hanya ingin hubungan kita seimbang. Maka selingkuh itu kulakukan juga.

Impas, kan ?

3 komentar:

Dunia Laras mengatakan...

bagus :D

Andri Edisi Terbatas mengatakan...

benar-benar impas...^_^

Putripus mengatakan...

makasih Laras, makasih mas andri :)

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com