Minggu, 19 Desember 2010

Rahasia Bapak

Papa menurunkan koper terakhirku, koper terbesar yang memuat hampir semua perlengkapanku. Koper terakhir yang mengiringi berat perasaanku untuk pergi.

“Pulanglah kapanpun, kami pasti akan selalu merindukan kamu di rumah,” ucapnya tegar sambil merangkulku. Aku cuma mengangguk. Aku yakin Papa pun tahu kalau ini niat terbesarku., dan aku tidak mungkin kembali menetap bersamanya.

Papa melepas pelukannya. Beliau selalu membenci perpisahan. Tidak akan pernah ada banyak kata yang bisa diungkapkannya di saat-saat seperti ini. Seperti sekarang, dia langsung masuk ke sedannya, meluncur tanpa memberikan salam terakhir, atau lambaian tangan pertanda ‘selamat tinggal’.

Aku menghela nafas panjang. Kuajak kakiku melangkah memasuki sebuah gang sempit yang hanya muat dilewati dua orang berukuran tubuh pas-pasan. Selembar kertas masih kugenggam. Pelan-pelan berjalan, sambil mengurutkan satu per satu deretan rumah yang tak bernomor. Bingung. Mencari rumah dengan alamat sejelas ini harusnya akan lebih gampang jika dilakukan di area perumahan yang nomor rumahnya terpasang dengan jelas. Tapi di sini, cuma beberapa rumah yang memasang pelat besi bertuliskan nomor alamatnya.

Dan sampailah aku di depan sebuah rumah kecil yang catnya penuh dengan bercak cokelat hasil rembesan air, mungkin air hujan. Tidak ada pagar di sini, cuma ada teras kecil yang menjadi pembatas antara rumah ini dengan jalan umum. Rumah di tepi jalan bernomor 27.

Seorang pria tua bercerutu membukakan pintu, seperti sudah tahu akan datangnya seorang pengunjung. Hmm.. mungkin dia sedang bersiap di balik pintu untuk memberikan ucapan selamat datangnya seramah mungkin.

Tapi sekali lagi, jamuan seperti itu cuma ada di kawasan perumahan elit yang orang-orangnya tahu betul bagaimana cara menyambut tamu. Ya, pria tua itu ternyata hanya membukakan pintu, lalu masuk kembali ke dalam rumahnya dengan keangkuhannya bahkan sebelum aku sempat menyapa si pemilik rumah itu. Anggap sajalah itu sebagai ucapan, “Silakan masuk !”, lantas aku langsung saja masuk tanpa banyak ba-bi-bu.

Rumahnya sangat kecil. Di ruang tamu cuma ada tiga kursi kayu yang sepertinya sudah seumuran dengan si empunya rumah. Dari ruang tamu tak ada sekat apapun untuk membatasi antara ruang tamu kecil itu dengan dapurnya yang bahkan lebih kecil lagi. Perabotan di sini juga sangat minim. Ah, entahlah… mungkin karena keterbatasan ekonomi pria tua ini.

Beliau keluar dari sebuah kamar bertirai kain di sebelah kanan ruang tamu. Masih dengan cerutunya, masih dengan angkuh guratan keriput di wajahnya.

“Akhirnya, ya, Pak. Setelah puluhan tahun, akhirnya Dani bisa tinggal sama Bapak,” ujarku senang sambil meletakkan barang bawaanku yang bejibun.

“Ooo…,” jawab pria tua yang kupanggil ‘Bapak’ itu. Ya karena memang dia bapakku. “Jadi nama kamu Dani ? Seingatku ibumu dulu memberimu nama Yudi.”

“Terserah, Pak. Nama itu, kan cuma panggilan untuk memudahkan memanggil seseorang. Mau dipanggil Dani, Yudi, Ahmad, Romi, Albert, semuanya sama saja,” jawabku. Aku berusaha seramah mungkin agar Bapak tidak canggung lagi ngobrol denganku.

Bapak kembali menghisap cerutunya. Suasana kembali hening seperti dalam upacara bendera. Bedanya, sekarang kami cuma berdua, dengan perasaan yang tidak bisa ditebak satu sama lain. Tetapi dengan keanehan rasa yang sama.

***

Jam tua di dinding menunjukkan lima menit menuju pukul delapan malam. Suara jangkrik terdengar menyeruak sahut-menyahut, menghibur malam yang terlalu menjenuhkan di sini. Lebih tepatnya, menghiburku.

Bapak masih betah dengan diamnya sementara aku mulai kehabisan bahan obrolan. Bicara dengan bapak, hal terbaru pun terkesan sudah sangat basi dan membosankan. Ya Tuhan… aku merasa sangat jauh dengan bapak. Padahal kita berada di satu ruang yang sama.

Beda dengan Papa Bayu dan keluarganya, keluarga angkatku. Walaupun mereka kaya, tapi tak pernah hal itu mengurangi kehangatan keluarga yang tercipta di antara mereka. Benar-benar harmonis dan menyenangkan. Selalu menganggapku anak kandung, kakak dari adik-adik angkatku.

Sebenarnya, tidak semudah ini juga aku pergi. Bagaimanapun juga, Papa Bayu dan Mama Nita lah yang membiayai semua kebutuhanku selama menjadi anak angkat mereka. Dari kebutuhan pokok, uang jajan, pendidikan hingga sarjana, semuanya. Hal-hal bernilai ekonomi yang menjadi beban berat bagi kedua orang tua kandungku. Kelemahan mereka itulah yang membuat Ibu berinisiatif mencarikan aku orang tua angkat yang mampu memenuhi kebutuhanku hingga mencapai titik kesuksesan di usia kerjaku saat ini.

Sudah hampir dua tahun aku bekerja di sebuah perusahaan periklanan terkemuka di Jakarta. Penghasilanku per bulan sangat menjanjikan, sangat cukup untuk memulai kehidupan baru. Sudah lama aku membicarakan ini dengan Papa. Bahwa jika suatu hari nanti aku sukses, aku ingin tinggal dengan keluarga kandungku, membiayai kekurangan mereka, dan melepaskan mereka dari jerat kemiskinan. Bukankah itu tugasku sebagai seorang anak ? Apalagi untuk orang tua yang rela kehilangan aku demi keinginan mereka melihat kesuksesan yang kuraih kelak. Ya, walaupun semua yang aku terima bukanlah hasil kerja keras orang tuaku. Setidaknya, keinginan mereka lah yang sekarang membawaku kembali untuk memberikan kehidupan yang layak bagi mereka. Sayangnya, ibu keburu pulang ke Rahmatullah empat tahun yang lalu, dia belum sempat melihatku yang sudah seperti ini.

“Pak, apa Bapak keberatan kalau Yudi tinggal di sini ? Bapak terganggu ?” tanyaku pelan, memecah keheningan.

Bapak melepas kacamata bacanya. “Aku ini nggak pernah mengharapkan kamu kembali ke sini sekaya apapun kamu. Aku masih bisa hidup dengan uangku.”

Aku terkesiap mendengar jawaban bapak. Sangat tegas dan terdengar sepenuh hati. Sangat menyakitkan.

“Pak, tolong jangan lihat Yudi dari sisi materi. Yudi ikhlas. Uang Yudi nanti juga jadi uang Bapak. Tapi lepas dari utu, Yudi memang sudah lama ingin pulang. Yudi ini masih anak kandung Bapak.”

“Tapi kedatanganmu ini seperti merendahkan Bapak ! Apa kata orang-orang nanti ? Makin doyan mereka membicarakan Bapak, bahwa Bapak cuma akan memanfaatkan kekayaan kamu. Dari awal Bapak sudah menolak permintaan Bayu untuk menerima kamu di sini !” nada bicara bapak mulai meninggi, penuh penekanan di sana-sini.

“Kalau begitu kenapa dulu Bapak sama Ibu nggak buang Yudi aja ke laut ?! Nggak ada bedanya, kan ? Toh sekarang Bapak nggak nganggap Yudi sebagai anak Bapak !”

Aku lantas masuk ke kamar. Membiarkan orang tua renta itu padam sendiri dengan kemarahannya, menggumam sendiri. Sial !

***

Aku menaruh secangkir kopi pahit yang masih sangat panas di meja ruang tamu. Semburan asap beserta aromanya belum juga membangunkan bapak. Biar, aku belum ingin mengeluarkan suaraku untuk membangunkan bapak. Aku yakin suasana hatinya masih sepanas kopi ini.

Semalaman bapak tidur di kursi kayu panjang di ruang tamu. Bapak meringkuk kedinginan, cuma berselimut sarung tipis. Karena memang di rumah ini tidak ada satupun selimut yang layak dipakai.

Kamar tidur di rumah ini cuma ada satu. Satu-satunya ya cuma kamar bapak. Tempatnya bergumul dengan ibu sebelum beliau wafat empat tahun yang lalu. Cuma ada satu ranjang di sana. Pastinya, bapak tidak akan sudi membiarkan aku tidur bersamanya di ranjang yang sama. Yaah, menganggap aku ini anaknya pun tidak. Dalam hal ini, aku salah. Seharusnya aku tahu diri bahwa aku cuma numpang di sini. Akulah yang seharusnya meringkuk kedinginan di kursi ini, bukan bapak.

Ada sekelumit rasa menyesal. Pembicaraanku dengan bapak semalam benar-benar parah. Tidak seharusnya aku berkata seperti itu. Seharusnya aku bisa lebih menyenangkan. Bukankah rasa canggung itu pasti ada ? Aku saja yang terlalu berprasangka buruk, menanyakan hal yang tidak penting yang ujungnya hanya menyulut cerutu kemarahan bapak.

Ah, sudahlah. Ini cuma masalah waktu, pikirku.

Aku bergegas mandi, bersiap-siap meninggalkan bapak menuju kantor tempat kerjaku. Sebungkus nasi pecel untuk sarapan bapak dan selembar uang lima puluh ribu ruapiah di atas meja kutinggalkan, barangkali bapak membutuhkannya. Semoga bapak melupakan semua kejadian tadi malamdan menyambutku pulang dengan senyuman nanti.

***

Adzan Maghrib menggema memasuki lorong-lorong sempit di kawasan pinggiran ini. Langit kemerahan menambah suasana hangat, menyambutku pulang. Menyambut rasa lelahku dengan mesranya panorama matahari terbenam.

Rumah bapak kosong, namun pintunya pun tak terkunci. Cerutu kayunya masih di atas meja ruang tamu. Bukan itu saja. Masih ada secangkir kopi pahit yang menjadi sasaran nikmat para semut hitam. Sebungkus nasi pecel dan selembar uang lima puluh ribu rupiah pun masi tergeletak manis.

Aku tertegun. Sebenci itukah bapak denganku ? bukan hal yang masuk akal bapak menolak kehadiranku. Atau jangan-jangan aku ini anak yang dipungut bapak dari tempat pembuangan sampah, lantas bapak merasa tidak ada kewajiban untuk menganggapku sebagai anaknya ?

Suara langkah kaki terdengar dari luar. Itu bapak !

“Dari mana, Pak ?” tanyaku berusaha tenang.

“Lho, kamu masih di sini ? Aku pikir sudah pulang ke rumah orang tuamu yang kaya itu.”

Darahku mengalir naik mendengar ucapan bapak. Ya Tuhan…

“Kenapa kopinya nggak diminum, Pak ?” tanyaku lagi, berusaha mengalihkan obrolan yang mulai memicu emosiku.

“Ooo… itu untuk aku ? Buang saja, sudah dingin !” bapak lalu memasuki kamarnya.

“Apa aku harus bilang kalau itu buat Bapak ? Bapak juga nggak tahu nasi pecel itu buat siapa, hah ? Sadar, Pak ! Bapak itu sekarang nggak sendirian. Ada aku, Pak ! Ada aku yang siap ngerawat Bapak. Mulai sekarang, semua yang aku siapkan, jelas buat Bapak !”

Aku berteriak setengah mati, meneriaki pria yang makin membuatku meragukannya sebagai bapak kandungku. Bukankah dia yang salah ? Seharusnya dia bisa sedikit lebih menghargai dan beradaptasi dengan keadaan ini seperti yang aku coba untuk lakukan.

Bapak keluar dari kamarnya. Tiba-tiba menarik kerah kemejaku.

“Kamu pikir kamu dokter, hah ? aku ini bukan orang tua lumpuh total yang nggak berguna ! Pulang sana ! Bawa uangmu, bawa kekayaanmu, bawa namamu, bawa pangkatmu ! Kamu itu cuma jadi beban di sini, menghina-hina aku dengan semua yang kamu punya !”

Entah angin apa yang merasukiku. Aku menepis tangan bapak dengan kasar seperti seseorang yang sedang berupaya melawan preman.

“Oke, Pak ! Oke !” bentakku, tepat di depan mukanya. “Besok, Pak ! Besok aku akan pulang. Dengan namaku sebagai Dani, anak Pak Bayu, bukan anak Pak Santoso ! Aku akan pulang dengan uangku ! Nggak akan ada uang sepeserpun aku tinggalkan di sini. Dan nama Bapak nggak akan ada artinya lagi di akte kelahiranku.”

***

Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam, merasakan tiap tetes air mataku jatuh sia-sia di atas sajadah. Aku hanya diam dalam menyampaikan keluh kesahku terhadap Tuhan. Rasa sakitnya melebihi apapun. Bicara saja rasanya sudah tak mampu.

Dua tahun aku bekerja, lillahi ta’ala untuk bapak dan almarhumah ibu.

Belasan tahun, sejak papa memberitahuku tentang orangtua kandungku yang sebenarnya, aku menahan perasaan untuk bisa segera bertemu dengan mereka. Dan hanya dalam waktu dua hari perasaan itu hancur lebur tanpa arti.

Rasanya cukup. Besok aku harus pulang !

Aku bergegas berdiri dan merapikan sajadahku, waktunya berkemas agar aku bisa pulang setelah Subuh, sepagi mungkin. Baru kuletakkan sajadahku di atas meja, ponselku terjatuh tergeser sajadah. Aku berusaha mencarinya. Sepertinya terlempar ke bawah ranjang bapak. Aku menyingkap sisa sprei merah jambu yang dibiarkan terjuntai ke lantai hingga nyaris menutupi kolong ranjang untuk bisa melihat ponselku di bawah sana.

Ya, ponselku tergeletak di kolong. Tapi tak cuma itu.

Kutemukan setumpuk bingkisan kecil dalam jumlah yang sangat banyak. Semuanya terbungkus rapi dalam bungkus cokelat seperti sampul buku zaman SD. Penasaran, aku mencoba mengeluarkan semuanya. Tak terlalu sulit, hanya butuh sedikit usaha untuk menggapai itu semua dan mengeluarkannya. Dalam hitungan menit, semua bingkisan itu berhasil kukeluarkan.

Totalnya, ada 25 bungkusan.

Masih belum cukup rasa penasaranku. Mumpung bapak sedang keluar, ini momen yang tepat untuk mengetahui isinya.

Aku meraih satu, yang terkecil. Buru-buru kubuka pembungkusnya sebelum pemiliknya memergoki aksiku. Tak lama, aku tahu bahwa isinya adalah sebuah mobil-mobilan murah dari plastic. Bukannya menghina, tapi aku cukup tahu mana barang yang berkualitas dan mana yang bukan. Ah, sudahlah, itu tidak penting. Yang penting, untuk apa bapak mengumpulkan barang-barang seperti ini ?

Ada selembar kertas di dalamnya yang tak luput dari perhatianku. Perlahan kubaca,

Selamat ulang tahun yang kelima, Yudi. Sudah seperti apa kamu sekarang, Nak ? Apa membacamu sudah semakin lancar atau masih tergagap-gagap jika gurumu menyuruhmu membaca di depan kelas ? Bapak rindu sekali. Bapak terus berharap suatu hari nanti kita bisa bertemu. Bapak terus berdoa semoga cita-citamu dapat terwujud, Nak.

Tanganku gemetar, dingin. Darahku serasa mengalir makin cepat, aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang. Seperti inikah bapak ? Lagi dan lagi, kubuka satu per satu bungkusan lainnya.

Selamat ulang tahun yang ke-15, Yudi. Sudah seperti apa kamu sekarang, Nak ? Apa kamu sudah mulai menyukai perempuan di sekolahmu seperti waktu Bapak mulai jatuh cinta dengan ibumu dulu ? Pulanglah, Nak… Bapak dan ibumu di sini sangat rindu…

Selamat ulang tahun yang ke-20, Yudi. Bapak menangis menulis surat ini. Rasanya memohon kepada Tuhan untuk bisa bertemu denganmu mulai menjadi hal yang mustahil. Apapun untuk kamu, Bapak ikhlas. Bahkan untuk bertahun-tahun Bapak membiarkanmu diasuh orang lain. Demi kamu mendapatkan pendidikan, Nak. Maaf jika orang tuamu ini terlalu miskin hingga tidak mampu membiayai kebutuhanmu. Demi Tuhan, kami masih sangat menyayangimu. Pulanglah, Nak…

Aku meringkuk. 25 tahun usiaku, dan tiap tahunnya bapak mempersiapkan sebuah kado tepat di hari ulang tahunku. Buku tulis, baju bayi, topi ala militer, terlebih lagi semua ucapan di dalamnya. Semuanya sangat kontras dengan keangkuhan bapak dan keinginannya yang besar agar aku cepat angkat kaki dari sini.

Sreett… tirai kamar tiba-tiba terbuka. Bapak sudah berdiri, mematung di sana. Geram, tapi tak berkutik melihatku lancang membuka semua rahasia bapak yang disembunyikannya selama ini.

“Aku ini bingung, Pak,” ujarku dengan mata berkaca-kaca. “Aku nggak paham sama jalan pikiran Bapak. Aku harus gimana, Pak ? Pulang ? tapi semua yang dikumpulkan Bapak selama ini terlihat sangat naïf dengan keinginan Bapak supaya aku leks pergi… Jelaskan, Pak…”

Bapak menghela nafasnya yang terlihat makin berat, makin berat seiring datangnya buliran air mata yang mulai merambah bola mata tuanya. “Bapak tetap ingin kamu segera pulang ke rumah Pak Bayu,” ucapnya getir. Air matanya mulai menetes, menghapus semua arogan yang dimilikinya. Wajahnya tampak lebih menenangkan saat dia menangis. “Bapak ini cuma orang tua bodoh yang membiarkan anaknya dibawa orang lain. Kepada Pak Bayu lah kamu seharusnya berhutang budi, bukan kepadaku dan almarhumah ibumu. Tidak ada uang sekecil apapun yang pernah kami keluarkan untukmu. Aku tidak ingin kamu merasa malu jika melanjutkan hidupmu di sini. Malu dengan kemiskinan keluarga kandungmu ini. Tapi demi Allah, Bapak sangat senang kamu kembali ke sini, Nak. Pulang ke rumah Bapak, rumahmu.”

Di sinilah aku melihat keadilan Tuhan. Bagaimana bisa seseorang dengan harta pas-pasan dan bahkan mengeluarkan satu rupiah untuk bisa ditabungnya pun merupakan hal yang mustahil itu mempunyai ruang sedemikian luas di hatinya untuk mengikhlaskan harta terbesar yang dimilikinya : ANAK.

Di ruangan, yang hanya muat ditempati satu ranjang dan satu meja kecil dengan hanya tiga laci untuk menyimpan baju, itu kami berdua menangis. Belum pernah aku bertemu orang setegar bapak. Siapa yang pernah terpikirkan untuk mempersiapkan kado untuk orang yang nyaris tidak pernah dia jumpai, bahkan mengucapkan doa yang sama untuk bisa bertemu dengan anaknya di tiap selesai sholatnya atau di tiap malam menjelang tidurnya selama 25 tahun penantian yang memuakkan ? Siapa ?

Hanya Pak Santoso, bapakku.

Di rumah sangat sederhana yang jauh dari status layak huni ini kami berpelukan, mensyukuri keajaiban usia dan kesempatan yang masih diberikan Tuhan untuk kami bisa bertemu. Bapak dengan rahasia perasaannya yang terkuak, dan aku dengan kepastian jawaban untuk menetap di sini selamanya, melebur menjadi satu haru.

***

4 komentar:

mr.gigh mengatakan...

beberapa taun lagi kalo aku ke toko buku, ngga sengaja nemu novel.

yg di sisi miringnya ada tulisan, Putri Puspita Sari.

Putripus mengatakan...

ya Allah amiiin, sumpah aku sueneng onok seng ngomong koyok ngono :DD

ndrandri mengatakan...

Awesome!!
Serasa baca cerpen karya sastrawan angkatan Balai Pustaka!!!! Very Nice!!!

Putripus mengatakan...

Y Allah amiiin :D thaaanks ndrandri, kalian juga udah oke bengeeeeeett :D

Posting Komentar

Silakan meninggalkan jejak :)

Cari di Sini

 
 
Copyright © Sepotong Keju
Blogger Theme by BloggerThemes Design by Diovo.com